Is My Dream

Is My Dream
Bagian 22



Malam tiba. Walau suasana hatinya sedang buruk karena kabar berbaikan Revan dan Ratu, Reva tetap menyiapkan makan malam.


Apalagi mertuanya, ibu Revan memberi tahu akan datang berkunjung bersama suaminya. Sudah sangat lama mereka tidak berkunjung karena sibuk dengan urusan pekerjaan. Mengharuskan bepergian ke dalam dan keluar negeri. Bahkan sampai meminta bantuan Revan saat Revan sedang luang.


Selesai menyiapkan makan malam, Reva langsung memanggil Revan dan memintanya duduk di teras menunggu kedua orang tuanya datang. Awalnya Revan menolak dengan alasan di luar dingin tapi Reva yang sudah terlanjur sensitif terus memaksa hingga akhirnya Revan keluar.


"Kamu di sini aja. Aku mau masuk sebentar bawain teh hangat buat kamu." Reva masuk kembali ke dalam dan keluar dengan membawa segelas teh juga biskuit kelapa kesukaan Revan.


"Buat kamu mana?" Tanya Revan ketika melihat hanya ada satu gelas di meja.


"Gak ada. Lagi malas minum."


" Puasa?"


"Stres."


Suara klakson mobil menghentikan percakapan mereka. Revan dan Reva menoleh ke pagar lalu bergegas menghampiri dan membukanya. Begitu turun dari mobil ibu Revan langsung memeluk Reva dengan erat. Mengabaikan putranya sendiri dan langsung masuk menggandeng tangan menantunya. Melihat itu Revan hanya bisa menggeleng, padahal biasanya ia akan mendapat banyak kecupan diseluruh wajah.


"Mama bawain oleh-oleh buat kamu." Ibu Revan begitu semangat mengeluarkan barang-barang belanjaannya selama berada di luar negeri. Ada tas dan beberapa pakaian bermerek dengan harga yang mahal.


"Buat Revan mana?" Tanya Revan.


"Pa, ada buat Revan gak?"


Ayah Revan yang tadi hanya duduk menyaksikan istri dan menantunya mengobrol langsung menggeleng acuh. Membuat Reva berusaha menahan tawanya agar tidak pecah.


"Masa gak ada? Mama kan biasanya bawain Revan apa gitu."


"Mana ingat mama kamu. Sepanjang hari yang dibahas cuma 'Pa, ini bagus gak buat Reva? Atau Pa ini cocok gak buat Reva," Jawab Papa Revan.


Revan menganga. Inikah yang dimaksud suatu saat orang tua akan lebih menyanyangi menantu dari pada anaknya sendiri?


Revan mendudukkan pantatnya dengan pasrah di samping ayahnya. Ikut melihat dia perempuan yang sibuk dengan barang-barang mewah.


"Oh iya, Rev. Revan gimana sama kamu? Aman kan?" Di sela-sela obrolan tiba-tiba ibu Revan mulai bertanya tentang hubungan anak dan menantunya. Sekilas Reva menatap Revan yang justru melihat kearah lain.


Merasa ada yang aneh dengan kedua anaknya, ibu Revan mengusap punggung Reva dan berkata, "Gakpapa. Cerita aja. Selama mama dan papa ada, Revan gak akan berani macam-macam ke kamu."


"Masalahnya papa dan mama gak selalu ada," Batin Reva.


"Jadi gimana Revan sama kamu?" Kini Ayah Revan yang bertanya.


"Reva juga gak ada niatan bohong kok sama mama dan papa."


Mendengar ucapan Reva seketika Revan menatapnya dengan perasaan khawatir. Bagaimana jika Reva sampai mengatakan semuanya dan membuat kedua orang tuanya marah. Revan terlalu takut untuk itu. Takut jika kedua orang tuanya sampai marah, hal yang sangat tidak ia inginkan terjadi. Bahkan demi membuat kedua orang tuanya senang Revan rela mengorbankan perasaannya sendiri dengan menikahi Reva walau tanpa tahu siapa sosoknya dan bagaimana orangnya.


Dan sekarang Reva akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Padahal mereka berempat baru saja bertemu dan bercanda.


Terlihat jelas raut wajah lega dari kedua orang tuanya, begitupun dengan Revan. Tidak menyangka Reva akan mengatakan hal itu tanpa membawa nama Ratu.


"Mama senang. Sabar yah sayang? Revan pasti bisa terbiasa sama kamu kok. Namanya dijodohkan kan memang begitu. Bikin kaget dan gak siap, otomatis jadi lebih canggung."


"Soal Ratu, itu gimana Van?"


Revan yang baru ingin meneguk teh di mulutnya langsung tersedak begitu nama Ratu disebut oleh ayahnya. Seluruh tubuhnya mendadak aneh, merinding dan jantung berdetak lebih cepat.


Melihat putra satu-satunya itu tidak langsung menjawab, muncul kecurigaan di mata kedua orang tuanya.


"Ratu siapa yah, Pa?" Tanya Reva pura-pura tidak tahu. Hanya mencoba menarik perhatian ayah dari Revan.


"Pacarnya. Setahu ayah mereka masih pacaran pas papa mau nikahin kalian berdua."


"Reva gak tau sih, Pa. Soalnya gak pernah lihat Revan sama cewek. Cuma sama teman cowoknya, siapa itu namanya yah. Vano?"


"Oh Vano. Itu papa kenal." Ayah Revan tersenyum sambil menepuk pundak Revan. Berarti putranya tidak melakukan hal-hal aneh setelah menikah.


Revan hanya tersenyum canggung menanggapi ayahnya, sementara Reva diam-diam meremas kedua tangannya. Merasa tidak enak karena harus berbohong. Tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi insting untuk melindungi Revan muncul begitu saja. Ia tidak ingin terjadi masalah untuk saat ini, mereka berempat harus tetap menikmati waktu selama bersama-sama.


"Nih, tasnya cantik banget kan? Mama suka yang ini dan langsung ambil buat kamu. Ini baru keluar loh dan edisi terbatas." Reva tersenyum meraih tas itu lalu memeluk ibu mertuanya. Reva sangat beruntung memiliki ibu mertua sebaik ibu Revan. Sungguh, Reva sangat ingin merasakan ini untuk waktu yang lama.


Melihat Reva dan ibunya sibuk, Revan meminta izin pada ayahnya untuk bertemu di halaman rumah. Ada hal yang ingin dibicarakan.


Akhirnya mereka berdua berjalan keluar. Revan bingung harus memulai dari mana obrolannya tapi karena ayahnya meminta untuk santai saja dan mengatakan dengan pelan-pelan, Revan pun mulai berbicara.


"Reva kepikiran buat ngurus kuliah Reva," Ucap Revan pada akhirnya. Menunduk karena takut jika ayahnya keberatan. Revan memang dari dulu lebih takut dengan ayahnya yang cukup tegas dan sedikit keras. Walau begitu, ayah Revan tidak pernah memukul atau menahan hal-hal yang diinginkan Revan.


"Kenapa?"


"Gakpapa. Lagian dia gak ada kerjaan juga."


"Kamu gakpapa?" Tanya ayah Revan yang sedikit tidak yakin dengan keinginan Revan.


"Yakin, Pa. Reva juga cuma ngurus rumah. Itu kan bisa diurus sebelum atau sesudah kuliah. Revan juga berencana nyari pembantu buat bersihin rumah sesekali kok."


"Ngurusin kamunya gimana?"


Revan mendadak geli dengan ucapan ayahnya.


"Reva ngurusin Revan dengan baik. Kebetulan dikampus Revan juga ada jurusan Sastra Indonesia. Kata mama Reva, Reva pengen banget masuk jurusan itu."


Sedikit berpikir, akhirnya ayah Revan mengangguk dengan syarat Revan harus benar-benar menjaga Reva. Jika terjadi sesuatu, Revan lah yang harus berhadapan dengannya.