Is My Dream

Is My Dream
Bagian 16



"Put... Ini tempatnya?"


Reva menatap sekelilingnya, mengamati dengan penuh takjub restoran tempat Putri mengajaknya bertemu. Bagaimana tidak, restoran itu dipenuhi dengan banyak sekali nuansa hijau dari tumbuh-tumbuhan yang segar.


"Suka gak?"


"Banget lah. Gila kali kamu. Aku sih akan nyaman banget di sini."


Putri terkekeh, Reva memang sangat menyukai tumbuhan hijau. Tipe wanita yang mencintai kesegaran, katanya.


"Yaudah, kita pesan sekarang yah?" Putri mengangkat tangannya memanggil pelayan dan mulai memesan makanan. Namun saat giliran Reva yang memesan, seseorang tiba-tiba datang menghampiri meja mereka.


"Permisi," ucap seorang pria tinggi berkulit putih. Menyapa mereka dengan sangat sopan. Reva heran karena tidak mengenali pria tersebut, namun berbeda dengan Putri yang justru tersenyum dan mempersilahkannya untuk ikut duduk bersama.


"Ini Reva?" Pria itu menunjuk Reva dengan ibu jarinya dan dijawab anggukan antusias dari Putri. Semakin heran, Reva ikut menunjuk dirinya, seolah bertanya 'Aku?'


"K-kok kenal?" Reva bertanya-tanya. Bergantian menatap Putri dan pria itu.


"Kolot banget sih. Ini tuh Dion, Satu sekolah kita di SMP."


"Iya kah? Sebentar deh."


Reva mengamati wajah orang yang Putri sebut namanya sebagai Dion. Matanya menyipit, penuh keseriusan. Lalu matanya membulat, memukul lengan Dion cukup keras. Putri ikut kaget dan memasang wajah tidak enaknya sambil mengusap punggung Dion. Reva memang sangat suka memukul.


Reva menunjuk Dion tanpa bisa berkata-kata, ia ingat sekarang. Dion adalah anak dari kelas sebelahnya, cukup terkenal karena pintar namun cupu. Kalau kata orang, Dion ini cukup culun. Reva adalah salah satu anak yang pernah meminta pertolongan Dion saat sedang kesusahan mengerjakan tugasnya, hanya sekali jadi wajar saja Reva tidak begitu mengingatnya.


"Astagaaaaa... Aku pernah minta tolong kamu gambarin peta dunia kan? Aduh, aku gak bisa gambar waktu itu dan dia bantuin aku, Put... Beda banget ih sekarang. Udah cakep begini," Ucap Reva menggebu-gebu. Dion tersenyum tipis, merasa malu mendengar ucapan terakhir Reva. Sementara Putri hanya bisa memijat keningnya karena malu.


"Gini, Reva...."


"Bentar Put," Potong Reva. Menyentuh dagu Dion dan memiringkan wajahnya ke kanan lalu ke kiri. Sepertinya masih kurang percaya dengan perubahan pria itu.


Merasa semakin malu, Putri menarik tangan Reva dari wajah Dion. Memukulnya pelan dan hanya bisa tersenyum meminta maaf kepada Dion karena kelakuan sahabatnya. Menanggapi hal itu, Dion hanya mengangguk pelan.


"Iya, apa kabar?" Dion mulai bertanya.


"Baik kok. Maaf yah? aku emang suka lupa muka orang. Apalagi kita gak dekat-dekat baget."


"Haha... Gakpapa, tapi mulai sekarang kamu harus ingat muka aku, oke?"


Reva mengangguk. Mereka bertiga akhirnya menikmati makan bersama. Obrolan yang didominasi oleh Reva pun membuat suasana meja yang hanya diisi oleh mereka bertiga seperti diisi oleh satu keluarga saking ramainya. Pembahasannya juga begitu random, Reva seperti kereta api yang terus melaju tanpa rem dan anehnya pembahasan itu tidak membosankan sedikitpun. Dion terus tersenyum mengamati wajah polos Reva yang begitu manis. Tidak ada yang berubah dari gadis itu padahal sudah lulus sekolah menengah atas. Seharusnya ada perubahan dari segi bagaimana mengontrol cerewetnya.


"Ohhhh. Jadi restoran ini punya kamu? Ih cantik banget, aku bakalan kesini tiap hari sih," Ucap Reva penuh semangat. Putri sudah mengalah sejak tadi, ia akan membiarkan saja sahabatnya itu bertingkah. Lagi pula


meja yang Dion pesan untuk mereka memang beda kelas dengan meja lain, bisa dibilang ini diperuntukkan bagi orang tertentu. Hanya tersedia satu meja diruangan khusus, vvip. Jadi mau sebanyak apa Reva bercerita atau bahkan berteriak, yang mendengarnya hanya mereka yang berada diruangan itu juga. Selamat lah untuk Putri.


"Rev, fokus makan dulu ih."


Menepuk dahinya, Reva langsung memakai tasnya dan berdiri. Putri mulai merasa jengkel, Putri sudah kelewatan sekarang.


"REV!"


"Duh, Put... Aku minta maaf. Tadi janjinya cuma keluar dua jam sama Revan."


"Loh? Dia peduli apa soal kamu mau keluar jam berapa?"


Reva mulai merasa tidak enak. Menatap Putri dan Dion bergantian, kedua tangannya menggenggam erat ponselnya.


"Aku pulang deh, Put."


Baru saja Reva melangkah, pertanyaan Putri membuat langkahnya seketika terhenti.


"Emang kamu yakin di sana Revan sendirian?


Dion hanya bisa diam melihat kedua wanita di depannya berbicara. Melihat bagaimana Putri yang kesal dengan Reva dan Reva yang ketakukan dengan Putri.


" Gini nih, Rev..." Putri menyentuh kedua bahu Reva dan melanjutkan kembali kalimatnya "Kamu keluar begini kita gak tau di sana Revan ngapain. Kamu ada di rumah aja Ratu udah berani datang buat ketemu Revan, apalagi kamu gak ada? Yaudah sih gak usah buru-buru banget sampai takut begitu, lagian kita juga bakalan pulang. Aku cuma gak suka ngelihat kamu kayak 'Aduh aku harus pulang, kalau Revan marah gimana?' Ingat kan kesepakatan kalian berdua buat gak melampui batasan?"


Reva masih terdiam, tidak memotong sedikitpun kalimat yang keluar dari mulut Putri. Sejenak ia membenarkan ucapan dari sahabatnya, namun meminta maaf dengan melepaskan kedua tangan Putri dari bahunya dan tetap pergi. Melihat hal itu Dion menjadi sangat penasaran. Sepertinya Reva sedang tidak baik-baik saja. Melihat kepergian Reva yang sedih, pasti Putri menjadi sangat tidak enak sekarang.


"Revan siapa?" Tanya Dion penasaran.


"Suami Reva."


"Hah??"


Sekarang Dion yang mematung. Perasaannya tiba-tiba menjadi sangat tidak enak.


...****************...


Reva segera turun dari taxi dan membayar ongkos perjalanannya. Setelah itu berlari sambil tangannya meraih kunci cadangan dari dalam tas. Tetapi saat tiba di depan pintu, rumah ternyata tidak dikunci. Degdegan dan takut mulai menyelimuti perasaan Reva. Ternyata benar, begitu masuk Ratu sudah duduk diruang tamu sambil memangku kepala Revan di pahanya. Mereka berbicara dan tertawa begitu lepas sampai tidak menyadari keberadaan Reva.


Sesak, sungguh. Reva tidak tahu jika pemandangan di depannya bisa se berpengaruh itu pada perasaannya.


Akhirnya dengan penuh kepura-puraan seolah tidak peduli, Reva langsung naik ke atas menuju kamar. Barulah Revan menyadari keberadaan Reva lalu segera bangkit dan duduk. Ratu yang tadinya tertawa langsung memasang raut wajah kesal.


"Kenapa?" Tanya Ratu.


Revan menatap pintu kamar Reva yang tertutup rapat. Entah kenapa ia mendadak merasa tidak enak dan Ratu jelas menyadari hal itu. Tapi baginya ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun, secepatnya Ratu harus memisahkan mereka berdua. Terbiasa bersama justru bisa menjadi peluang perasaan untuk keduanya tumbuh sewaktu-waktu.


"Nggak. Gakpapa," Jawab Revan berbohong.