Is My Dream

Is My Dream
Bagian 17



Sudah malam dan Reva sama sekali belum keluar dari kamarnya, membuat Revan merasa semakin tidak enak. Setelah kepulangan Reva tadi, Revan langsung meminta Ratu untuk pulang. Awalnya Ratu menolak dan merasa sangat keberatan tapi karena Revan terus merayunya agar mencoba mengerti situasi, Ratu akhirnya pergi walau dengan hati yang panas. Bahkan Revan bisa mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut kekasihnya itu.


Kembali pada Reva, gadis itu belum makan sama sekali. Revan sudah mencoba mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada jawaban satupun yang diterima. Kamar itu seperti kosong tak berpenghuni tapi Revan tahu jika Reva ada di dalam sana. Ini memang salahnya, Reva pamit untuk keluar sementara dirinya tidak meminta izin lebih dulu memasukkan Ratu di rumah.


Hanya saja yang membuat heran adalah bukankan kesepakatan awal mereka tidak harus mempermasalahkan izin dan sebagainya? Mereka sepakat untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan, mengingat jika pernikahan ini juga didasari paksaan. Tapi akhir-akhir ini Reva berbeda, seperti lebih perhatian dan lebih mudah kesal jika Revan bertingkah semaunya.


"Semoga nggak deh," Gumam Revan, menatap pintu kamar Reva sejenak lalu pergi dan turun ke kamarnya. Mungkin besok Reva bisa lebih baik dan ia akan meminta maaf.


Sementara itu, dari dalam kamar Reva hanya bisa duduk di atas tempat tidur sambil memeluk lututnya. Memikirkan hal yang tidak-tidak. Apa saja yang Revan dan Ratu lakukan selama ini dan apa yang mereka lakukan tadi. Cukup dengan Revan tidur dipangkuan Ratu saja membuat pikiran Reva berkelana ke mana-mana.


"Huh... Rev, kontrol diri kamu."


Reva menjambak rambutnya sendiri. Sekarang hal yang paling ia takutkan adalah perasaannya. Tentang bagaimana jika dirinya benar-benar jatuh dalam pesona Revan dan sulit mengendalikan dirinya sendiri. Bukankah cinta juga membuat seseorang nekat?


"Ah nggak. Aku gak akan sejauh itu. Ya Tuhan, cukup buat Reva suka aja. Jangan sampai jatuh cinta." Reva menyatukan kedua tangannya menatap langit-langit kamar memohon yang sebesar-besarnya agar sang Pencipta dengan malaikat cintanya tidak membuat Reva jatuh sejauh itu. Bagaimanapun, ia terlalu takut untuk patah hati. Baginya juga masih terlalu muda untuk merasakan sakit karena cinta. Memikirkannya saja membuat perut Reva menjadi geli.


...****************...


Hari berganti, sinar matahari yang menyelinap masuk melalu pentilasi membangunkan Revan yang masih sangat mengantuk. Matanya masih sulit terbuka, namun sialnya suara alarm membuatnya harus segera bangkit.


kring... kring...


Alarm itu terus berbunyi dan karena sangat kesal, Revan mengarahkan tangannya pada jam itu lalu membanting nya asal.


Revan segera bangkit menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya lalu kembali duduk dipinggir kasur. Matanya masih redup, rasa ngantuk pun masih enggan pergi.


"Udah jam berapa sih? Ah, ngantuk banget."


Revan hendak berbaring lagi namun suara langkah kaki Reva yang akan ke kamarnya membuat Revan mengurungkan niatnya.


"Bangun. Aku udah siapin sarapan. Hari ini aku mau keluar."


"Lagi?"


"Reva mengangguk "Kenapa?" Tanyanya kemudian. Membuat Revan gelagapan bingung harus menjawab apa. Lagipula kenapa kalau Reva keluar, itu kan bukan urusannya. Tapi entah kenapa Revan jadi penasaran.


"Yaudah, aku keluar dulu. Kamu hati-hati dirumah."


"Pulang jam berapa?"


"Aku cuma mau ke toko buat beli bahan masakan."


"Aku ikut yah. Aku yang antar." Revan menarik kursi lalu duduk dan ikut sarapan bersama Reva dimeja makan. Keheranan, Reva terus menatap wajah Revan yang sedang asik menyantap makanannya. Ada apa dengannya? Pikir Reva.


"Kamu ngapain?"


"Minta maaf buat semalam."


"Penting buat aku?" Pertanyaan Reva yang ini seketika membuat Revan berhenti mengunyah makanannya. Menatap gadis itu dengan sangat serius.


"Penting gak penting, menghargai aja kan? Bukannya itu yang kamu mau? Lagian, kamu juga udah cukup baik sama aku. Hitung-hitung ngasih balasan." Jawaban Revan yang kali ini membuat Reva tersenyum meremehkan.


"Huh, gayaan. Buruan sarapan, aku mau buru-buru. Hari ini kamu berangkat siang?"


Reva berjalan kearah wastafel dan mulai mencuci tangannya. Disusul Revan yang buru-buru meneguk air minum.


"Huum, aku masuk siang."


Reva sangat ingin tertawa sekarang. Melihat bagaimana sibuknya Revan ke sana kemari mencari kunci mobil. Padahal kunci mobil sudah jelas dirinya yang pegang.


"Kunci ada di aku. Yah mana aku tau kamu mau ikut. Nih..." Reva melemparkan kunci mobil kearah Revan. Karena kurang siap, kunci itu langsung mengenai kepala Revan. Hanya bermodalkan minta maaf dengan mengangkat kedua jarinya berbentuk 'peace' Reva langsung berlari dan masuk kedalam mobil.


"Gemes tapi ngeselin juga sih. Gini nih bukannya dikasih istri sama mama, malah dikasih anak kecil," Gumam Revan kemudian menyusul Reva di dalam mobil.


Mereka berangkat bersama. Sangat diluar ekspektasi jika Revan akan ikut dengannya, namun Reva mencoba untuk tidak peduli. Lagipula Revan sudah mengatakan jika itu adalah wujud minta maafnya karena masalah semalam. Yang harus dilakukan sekarang hanya menikmati waktu bersama dengan berbelanja. Yah, itu cukup menggelitik perut Reva.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu panjang, mereka akhirnya tiba di supermarket tempat ibu Revan biasanya berbelanja jika ingin berkunjung kerumah putra semata wayangnya. Reva sudah tahu supermarket itu, karena setelah menikah dengan Revan dirinya selalu berbelanja di sana. Juga karena supermarket itulah yang terdekat dan terlengkap.


"Mau nunggu dimobil?"


"Emang aku sopir kamu?"


Reva terkekeh dan akhirnya menarik lengan kaos Revan agar masuk bersama. Beginilah jika mereka berdua terlalu membatasi diri. Sepasang suami istri yang seharusnya bergandengan tangan, justru bergandengan lengan baju. Miris sekali.


Tapi tidak menutup fakta jika mereka memang tidak memiliki perasaan yang lebih. Jadi hal seperti itu bagi mereka masih wajar.


"Mau beli apa dulu?" Revan menarik troli membiarkan Reva berjalan di depannya.


"Hmmm... Kita kesana dulu deh." Reva menunjuk bagian rak makanan instan. Mengambil beberapa mie kesukaannya juga kesukaan Revan. Bahkan tanpa bertanya lebih dulu, Reva sudah tau apa yang Revan sukai.


Mereka berdua menghabiskan waktu berbelanja bersama, untuk pertama kalinya juga bagi Revan melakukan hal ini dengan orang lain selain ibunya. Bahkan dengan Ratu pun belum pernah. Jujur saja di dalam hatinya yang paling dalam, Revan merasa nyaman dengan hal-hal kecil yang selalu Reva perhatikan tentangnya. Mungkin Revan benar-benar harus bersikap lebih baik sekarang. Setidaknya hanya untuk menghargai kebaikan Reva. Melupakan niat awalnya untuk membuat gadis itu tersiksa karena telah merenggut kebahagiaannya. Reva juga adalah korban, namun berbeda dengan Revan yang bertingkah semaunya, Reva justru melakukan hal-hal baik sejauh ini.