
Reva tengah duduk ditepi ranjang, dengan wajahnya yang penuh warna kemerahan. Rambutnya seperti tarzan, acak-acakan kesana kemari. Leher bajunya sekarang melorot hingga lengen. Kenapa demikian?
Kembali ke waktu sekitar setengah jam lalu. Di mana ketika Reva mendorong Revan dan Ratu keluar dari kamarnya, rambut Reva justru dijambak lalu diseret oleh Ratu agar ikut keluar. Karena tidak terima rambutnya ditarik, mereka berduapun bertengkar saat itu juga, saling menarik satu sama lain dengan hanya railing sebagai penahan agar tidak terjatuh. Revan saat itu panik, hanya bisa mengangkat tangan karena setiap kali tangannya berusaha menarik Reva atau Ratu, justru ditepis dengan kasar.
Seperti itu terus sampai akhirnya Reva berhasil mencengkram leher Ratu dan menyandarkan nya pada railing. Sekali saja tangannya bergerak tegas, Ratu bisa jatuh dan mungkin kehilangan nyawanya. Beberapa kali Ratu terbatuk, menepuk-nepuk tangan Reva agar terlepas dari lehernya. Setiap kali Ratu memandang kebawah, kepalanya jadi pening.
Melihat perlakuan Reva itu tentu saja mengundang emosi Revan. Kalau Ratu sampai terdorong dan celaka, ia akan kehilangan keduanya sekaligus. Tidak ingin membiarkan itu terjadi, Revan menarik tangan Reva dengan kasar dan mendorongnya hingga terjatuh. Ratu terbatuk, memegangi lehernya yang memerah lalu beranjak dan menarik lagi rambut belakang Reva.
"Gue bakal buat perhitungan yang lebih dari ini! Sialan!" Desisnya kemudian pergi.
Reva melirik Revan dengan tajam. Andai saja pria itu tidak. menarik lalu mendorongnya, Reva pasti sudah mencekik Ratu hingga benar-benar puas. Seharusnya Revan dulu yang ia kurung dikamar agar tidak ikut campur urusan perempuan.
"Maaf." Merasakan tatapan tajam Reva, Revan hanya bisa meminta maaf. Selalu maaf, maaf, dan maaf. Reva nyaris membenci kata itu sejak Revan selalu mengucapkannya. Minta maaf untuk apa jika masih diulangi berkali-kali?
"Kamu bawa pacar kesayangan kamu itu jauh-jauh. Kurang ajar, masuk sampai ke kamar orang gak bilang-bilang? Haha, baru kali ini aku berhadapan dengan orang begitu. Jangan sampai aku ngadu ke orang tua kamu yah?"
Revan gelagapan. Tidak! Reva tidak boleh melaporkan apapun tentangnya dan Ratu. Kalau itu terjadi, Revan benar-benar akan tamat.
"Aku gak akan biarin hal begini terjadi, aku pastiin itu."
Reva tersenyum sinis. Matanya memanas. Sebegitu cintanya Revan pada Ratu. "Aku berharap gak akan buta seperti kamu, Van," Gumam Reva.
"Hah? Kamu ngomong apa?" Revan seperti mendengar Reva mengucapkan sesuatu, tapi pelan sekali sampai sulit terdengar.
"Nggak. Kamu keluar aja. Aku mau bersih-bersih."
"Kamu belum mau maafin aku?"
Reva menggeleng, "Belum."
Revan akhirnya keluar dengan perasaan yang aneh. Bahkan Reva tidak melanjutkan ungkapan perasaannya tadi. Merutuki kebodohan Ratu, ingin rasanya Revan membungkam pacarnya untuk saat ini. Kalau saja ia tidak mengacaukan semuanya, Reva pasti akan terus berbicara tentang perasaannya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di kediaman Ratu.
Ratu membanting semua barang yang ada dikamarnya. Emosinya memuncak, wajahnya merah padam, dan berteriak layaknya orang gila. Kejadian di rumah Revan masih mengobarkan amarah dihatinya, ia merasa sangat terluka. Revan tidak pernah memihak siapapun seperti itu, tapi sekarang berbeda, Revan sangat memihak Reva.
Rasa takut yang teramat sangat sudah mulai Ratu rasakan. Ia takut kehilangan Revan, takut jika Revan berpindah hati. Tidak bisa dipungkiri bahwa suatu saat Revan dan Reva bisa saja saling jatuh cinta karena terbiasa bersama. Jelas mereka akan lebih banyak melakukan hal-hal berdua.
Ratu mengangkat tangannya, hendak membanting ponsel namun sadar di dalam benda kotak itu terdapat file-file penting, akhirnya ia memilih untuk berteriak sekali lagi. Dengan napas yang naik turun, Ratu memandangi cermin dihadapannya. Cermin yang menampakkan wajah kacaunya.
"Gue gak bakalan biarin lo bahagia, Rev. Ini melukai harga diri gue," Desisnya disertai senyum licik penuh arti.
...****************...
Lily mengangkat kedua tangannya, memperhatikan cat kuku yang baru saja ia pakai. Cantik, Lily tersenyum puas, namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik hingga akhirnya lenyap digantikan tatapan tajam penuh dendam.
Hidup sungguh menyedihkan, terutama untuk Reva. Dijodohkan dengan pria yang sudah memiliki kekasih, bukankah itu sebuah musibah? Reva bahkan memiliki banyak sekali musuh, dan salah satu yang terkuat adalah Ratu.
Ah, tidak. Lebih tepatnya Lily lah yang terkuat.
"Aku gak tau kalau kamu sepintar itu, Al," Ucap Lily. Kembali fokus pada kuku-kukunya.
Sosok yang disapa Al tersenyum. "Kamu gak pernah kecewa sama kerja kerasku."
"Tapi aku tetap memilih Erina."
Al memutar bola matanya malas, selalu saja Erina. Bahkan ketika gadis itu tidak berada di sini, Lily masih saja memujinya. Kalau bukan sabahat sejak kecil, Al juga akan membunuhnya.
"Erina gak ada di sini. Bisa gak sih puji aku." Al melipat kedua tangannya di depan dada. Merajuk seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Lily terkekeh, mengacak rambut Al lalu menepuk pundaknya sambil memuji pekerjaannya. Hal itu tentu membuat Al senang.
"Jadi kamu sadap setiap ruangannya?"
Al menyeruput teh di depannya lalu mengangguk. "Benar."
"Gimana caranya?"
"Jasa tukang bersih AC."
Lily akui, Al adalah sosok gadis cerdas dan sangat lihai dalam menjalankan tugas. Pekerjaannya yang selalu berakhir bersih membuat Al cukup dicari oleh orang-orang hebat yang senang bermain curang terutama dalam urusan politik.
Walaupun terlahir sebagai manusia jahat dan selalu bermain kotor, Al belum pernah melakukan pembunuh*n meskipun disuruh dengan imbalan yang bukan main banyaknya. Katanya lebih senang menyiksa mereka perlahan-lahan.
Al memang sangat jahat.
"Nih." Lily melemparkan uang yang sangat banyak di atas meja. Melihat itu Al tersenyum. Ia jadi bisa makan banyak dan membeli barang-barang mahal sekarang. Tentu saja uang yang diberikan Lily tidak sedikit. Sesuai kesepakatan awal hanya 15 juta. Tapi ratusan juta lainnya akan menyusul.
Mencium aroma lembaran berwarna merah pemberian Lily, Al mengedikkan matanya dengan genit. "Apa aku harus bunuh anak itu?.
"Jangan macam-macam. Aku masih mau main-main sama dia."
"Baru kali ini aku lihat anak yang orang tuanya dibunuh pengen main sama anak yang orang tuanya pembunuh."
Lily menatap Al dengan tajam, membuat tubuh Al seketika membeku tidak bisa bergerak saking ngerinya. Al tahu seberapa jahat dirinya, tapi Lily tentu jauh lebih jahat. Hanya saja mampu menyembunyikan diri dengan tetap bersikap tenang.
"Jangan ungkit itu dengan gampangnya, Al. Kalau gak mau mulutmu sobek.
Al mengangguk dan buru-buru keluar meninggalkan ruangan Lily.