
Selesai dengan urusannya, Revan langsung mengemasi barang-barangnya dan bersiap menuju parkiran karena Reva pasti sudah menunggunya sejak tadi di sana.
Saat Revan mulai berjalan di Koridor, kerumunan mahasiswa membuatnya berhenti. Tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, tapi beberapa gadis sampai ada yang berteriak juga berbisik-bisik namun masih jelas terdengar. Tidak mau penasaran, Revan pun menghampiri kerumunan itu dan berjinjit untuk melihat apa yang mereka semua lihat.
Betapa kagetnya Revan saat melihat Ratu ada di tengah-tengah sana duduk meringkuk sambil menangis sesegukan. Kemana Vano disaat-saat seperti ini?
"Minggir!!!" Revan menerobos kerumunan, menyingkirkan beberapa orang yang sudah mendengar perintahnya tapi masih enggan memberi akses jalan.
"Revan...." Mendengar suara Revan, Ratu segera mengangkat wajahnya dan memeluk kekasihnya cukup erat. Revan membalas pelukan itu sambil mengusap punggung Ratu dengan lembut.
"Kenapa sayang?"
Ratu melirik kesamping dan Revan segera mengikuti arah mata Ratu. Entah sudah berapa kali Revan kaget hari ini, tapi ini lebih mengagetkan lagi karena Revan melihat ada bangkai tikus tergeletak penuh darah di samping Ratu.
Revan sempat mual, ia sangat benci dengan tikus.
"Ini apa? Kenapa? Aku gak paham."
"Aku gak tau siapa yang ngelakuin ini. Aku beneran kaget lihat ada bangkai tikus di loker aku. Hiks, aku takut..." Ratu kembali memeluk Revan sambil menangis sesegukan.
Tidak tahu harus berbuat apa, Revan seperti mati kutu. Ia juga takut tapi penasaran siapa yang melakukan hal serendah ini. Memang ada banyak yang tidak menyukai Ratu, tapi belum pernah ada yang sampai berani melakukan hal seperti ini. Seberani apa dia?
Beberapa orang sudah keluar dari kerumunan. Sebenarnya mereka tidak kasihan, tapi penasaran. Justru di antara mereka ada yang masih sempat tersenyum dan mengatakan kalau itu adalah hukuman.
Setelah satu persatu kerumunan mulai pergi, tiba-tiba Aren dan Devi datang dengan membawa Reva lalu menghempaskannya hingga terjatuh ke lantai, tepat disamping Revan yang sedang memeluk Ratu.
Reva menatap Aren dan Devi dengan tajam, lengannya sampai memerah diseret seperti hewan oleh mereka berdua.
"Apaan sih ini?" Tanya Revan yang keberatan dengan perlakuan kedua teman Ratu pada Reva.
Devi menatap Reva dengan tatapan mencela, begitupun dengan Aren. "Lo kan yang masukin bangkai itu ke loker Ratu?"
"Hah?" Reva bingung, tidak tahu maksud dari pertanyaan Devi barusan. Bangkai? Bangkai apa?
Aren menendang tikus yang sudah mati itu ke arah Reva. Membuat Reva langsung menjerit dan hampir menangis. Ia sangat tidak menyukai tikus, demi apapun.
"Sebentar. Ini gue makin gak paham. Dev, lo kalau ngomong yang jelas, jangan mancing emosi gue. Lihat, yang lain pada ngumpul lagi." Revan melihat sekililingnya dan orang-orang kembali berkumpul. Kepalanya jadi semakin pusing sekarang.
Devi tersenyum miring, mengambil tas Reva dengan kasar lalu membuka resletingnya dan mulai mengeluarkan semua isi tas itu. Betapa kagetnya Reva saat Devi lagi-lagi menendang sesuatu kearahnya.
Lap?
Iya benar, itu lap. Reva bisa tahu dengan jelas kalau itu lap. tapi anehnya lap itu terdapat bercak dasar dan bau yang aneh. Bau busuk dari tikus.
Tidak!
Reva langsung menatap Revan dan menggeleng, ini bukan perbuatannya. Ia tidak serendah itu untuk melakukan hal-hal seperti ini. Bahkan Reva tidak memiliki waktu memikirkannya. Dirinya pasti dijebak.
Sementara Revan, ia juga sama kagetnya dan tidak percaya jika Reva yang melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, satu bukti itu ada dari dalam tas Reva dan tentu saja semua orang akan menyalahkannya.
Begitu sampai di secret room, Revan melepaskan cengkraman nya dari lengan Reva. Reva meringis dibuatnya, lengannnya seperti akan patah akibat terlalu sering di cengkraman. Kalau itu Devi dan Aren, Reva tidak begitu sakit, tapi ini Revan. Yang lebih sakit justru hatinya.
Tidak bisakah Revan bersikap lebih lembut seperti ke Ratu Tadi?
Reva ingin menangis, tapi air matanya hanya sampai dipelupuk.
"Maksud kamu apa?" Revan melemparkan pertanyaan itu dengan sangat emosi.
Reva tidak menyangka kalau ternyata Revan juga menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Ratu.
"Maksudnya gimana? Kamu percaya aku yang ngelakuin hal kayak gitu? Van, kita aja seharian bareng. Aku mana sempat ngelakuin itu." Reva mencoba menjelaskan kalau bukan ia pelakunya.
Tapi kedua telinga Revan seolah tertutup dan tidak ingin mendengarkan alasan darinya.
"Jijik tau, Rev."
Setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu, Revan langsung berlalu meninggalkan Reva.
Dan selamat, ucapan terakhir Revan berhasil membuat air mata Reva yang tadinya tertahan akhirnya mengalir juga. Sakit, benar-benar sakit. Reva bahkan tidak tahu apa-apa tapi justru dirinya yang disalahkan.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka berdua bertengkar, seseorang tengah tersenyum menikmati kemenangannya. Ternyata tidak sesulit itu membuat hubungan keduanya dalam kesulitan, juga sekalian dengan Ratu.
Seperti pepatah "Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui."
...****************...
"Kalian yakin kalau Reva yang ngelakuin?"
Ratu, Devi, dan Aren saat ini berada di uks. Mereka bertiga sedang membicarakan Reva terutama Ratu yang merasa tidak yakin Reva berani melakukan hal konyol padanya. Kalau benar Reva, berarti Ratu tidak bisa lagi menyepelekannya.
Devi terdiam, memikirkan kalau bukan Reva lalu siapa lagi? Jelas-jelas bukti tadi ada di dalam tasnya. Tapi ada satu yang membuat Devi bingung, pesan anonim yang mengatakan kalau Reva pelakunya. Dari mana orang itu tahu, dan apa tujuannya mengadu tentang perbuatan Reva. Apa orang itu memiliki masalah dengan Reva? Pertanyaan itu menjadi teori untuk Devi yang memang sangat menyukai hal-hal berbau misteri.
"Tapi ini kan juga baik buat lo," Celetuk Aren, membuat Ratu menatapnya dengan geram.
"Baik apanya? Takut dan jijik banget tadi. Mending kalau mau ngejatuhin tuh pakai cara lain deh, jangan tikus, hiiiii geli banget." Ratu bergidik ngeri. Membayangkan tikus tadi membuat perutnya bergemuruh.
"Tapi, Rat. Gue jadi pengen tau aslinya Reva. Kalau beneran dia yang ngelakuin berarti lo yang harus hati-hati sama dia, cukup sadis."
Ratu menggeleng. "Nggak, gue yakin bukan dia. Tapi gakpapa, benar kata Aren ini ada baiknya juga buat gue. Mungkin diluar sana ada yang pengen ngejatuhin Reva. Jadi gue cuma perlu menikmati."
"Ngejatuhin Reva atau ngejatuhin lo? Di sini ada dua orang yang dirugikan. Benar masih bisa bilang gakpapa?"
Ratu dan Aren saling berpandangan. Ya, beginilah nasib menjadi teman Devi, bukannya mendapat semangat justru membuat Ratu overthinking.
Bagaimana kalau itu benar? Terror dengan cara seperti tadi cukup menakutkan.