Is My Dream

Is My Dream
Bagian 11



Reva duduk termenung di depan meja belajar kamarnya. Sederet novel yang tersusun rapi tidak ada yang berhasil menarik minatnya. Reva mengutuk dirinya sendiri karena seperti ini hanya karena Revan. Tapi mau bagaimana lagi? Reva sudah berusaha menyibukkan diri di kamar tapi tidak ada yang bisa mengalihkan pikirannya, semua mengalir begitu saja.


Bahkan disaat mandi pun, yang ia pikirkan hanya Revan, Entah itu tentang kebaikan atau keburukannya.


Reva sangat ingin istirahat sebentar saja tanpa harus memikirkan hal yang tidak penting. Reva juga sangat ingin menginjakkan kaki keluar kamar tapi rasa kesalnya terhadap Revan masih besar. Kenapa harus selebay ini? Kenapa Reva se berlebihan ini? Seperti katanya, semua mengalir begitu saja tanpa bisa dikontrol.


"Reva... Buka pintunya, udah dua hari kamu di dalam terus, apa gak lapar?"


Ya, siapa lagi? Itu suara Revan yang sejak tadi menggedor pintu kamar.


Reva menatap tempat tidurnya yang sudah di penuhi sampah roti. Ada juga snack dan beberapa botol minuman. Untung saja waktu Mamanya datang membawa beberapa keperluan masakan, ternyata ada juga bungkusan jajan favorit Reva.


Reva menghela napas, ia sendiri juga tidak tahu kenapa sangat sulit untuk sekedar membuka pintu, padahal rasa kasihannya pada Revan juga sudah semakin membesar. Revan pasti berpikir dirinya belum makan sama sekali.


"Seenggaknya makan sedikit aja, aku udah beli nasi kotak. Aku gak mau yah disalahin Mama kalau sampai ngelihat kamu kurus kering. Nanti malah mikir aku gak ngasih kamu makan," Omel Revan diluar sana.


Karena merasa semakin tidak tega, Reva pun berjalan kearah pintu dan membukanya. Diluar ternyata sudah ada Revan yang berdiri membelakangi nya. Ternyata Revan sudah menunggu sejak tadi sampai Reva memutuskan keluar kamar.


"Van..," Panggil Reva.


Revan segera berbalik dan dengan cepat memeriksa kondisi tubuh Reva. Tangannya bergerak untuk menyentuh dahi Reva dan memastikan gadis itu masih dalam kondisi sehat dan tidak demam.


'Van, Mama minta tolong jaga Reva yah? Jangan biarin dia sakit. Karena tugas Papa dan Mama buat jaga dia udah pindah ke kamu.'


"Kamu gakpapa kan? Perut kamu gimana? Perih gak?"


Mata Reva berkedip polos, dengan cepat ia menutup pintu kamar karena takut Revan melihat sampah berceceran diatas tempat tidur. Bodoh sekali, kenapa Reva lupa membereskannya lebih dulu sebelum keluar.


"Nggak, aku gakpapa. Cuma malas aja keluar kamar."


"Pasti karena masalah waktu itu kan?" Pertanyaan Revan membuat mood Reva kembali rusak. Seharusnya mereka tidak perlu membahas masalah itu lagi.


"Gak usah dibahas, Van. Aku pengen lupain masalah itu, kalau diingat bikin malas lagi."


Reva mengangguk. Memang seharusnya mereka tidak membahas masalah itu.


"Yaudah ayo makan."


Mereka berdua lalu berjalan turun menuju meja makan untuk menikmati makanan yang sudah dibeli Revan. Karena memang Revan tidak begitu pandai memasak jadi ia hanya bisa beli diluar.


"Apa aku aja yah yang ngerasa akhir-akhir ini kamu agak peduli," Ucap Reva sambil menyuapi makanannya kemulut. Sejenak Revan terdiam lalu menanggapi ucapan Reva.


"Ke siapa?" Tanya Revan.


"Ke aku," Jawab Reva.


"Gak juga, aku memang gini orangnya. Pas awal aku memang masih belum terlalu dekat sama kamu, jadi agak malas buat ngomong."


"Judes juga," Sindir Reva. Mendengar itu Revan tidak ingin lagi menanggapi.


"Bentar, aku mau nelpon Ratu dulu."


Revan langsung berlari menjauh dari Reva untuk menelpon Ratu. Reva yang melihatnya hanya bisa menahan kesal sambil memenggertakkan gigi dan mengepalkan tangan kuat-kuat.


Baiklah, Reva akan mengakuinya. Ia sudah roboh, sepertinya Reva mulai tertarik pada Revan. Sekalipun belum bisa memastikannya dengan benar, Reva sudah cukup tahu jika dirinya tidak suka melihat Revan bersama Ratu. Setiap kali melihat mereka, bukan hanya kesal yang Reva rasakan melainkan sesak. Seperti ingin membuang Ratu jauh-jauh sampai hatinya bisa merasa sangat puas.


Tapi bagaimana mungkin, Revan sendiri sangat mencintai gadis itu. Bahkan rela melakukan apapun demi dirinya. Berbeda dengan Reva yang bagaikan benalu dihidup Revan, mungkin suatu saat nanti ia juga akan disingkirkan. Reva hanya perlu menunggu waktu kapan itu semua akan terjadi.


"Maaf Rev, aku mau keluar sebentar," Pamit Revan dan meraih kunci mobil di meja ruang tamu.


"Mau ke mana?"


"Kerumah Ratu. Kamu di sini aja."


Revan langsung pergi begitu saja, meninggalkan Reva sendirian bahkan disaat mereka baru saja berbaikan.


'Lihat, Rev... Kamu bukan siapa-siapa,' batin Reva.


...----------------...


Revan segera memarkirkan mobilnya di depan rumah Ratu. Melihat suasana rumah yang sangat sepi, Revan langsung menelpon Ratu untuk menanyakan apakah dia ada dirumah atau tidak. Bahkan satpam yang biasanya berjaga di depan sudah tidak ada.


Setelah beberapa panggilan yang tidak dijawab, akhirnya panggilan terakhir Revan diangkat oleh Ratu. Revan mulai menanyakan kenapa rumah sangat sepi dan Ratu beralasan jika semua pembantu dan satpamnya izin untuk tidak bekerja hari ini. Sedikit aneh memang karena mereka meminta izin bersamaan padahal ada tiga pembantu dirumah Ratu dan dua satpam.


Awalnya Revan merasa aneh tapi karena khawatir, akhirnya ia memilih masuk dan menyusul Ratu.


"Rat... Ratuuu...," Panggil Revan setelah berada di dalam rumah Ratu.


"Kenapa sayang? Sini duduk dulu," Jawab Ratu. Di tangannya terdapat dua botol minuman cola. Revan bingung dibuatnya, bagaimana tidak? Di telepon tadi Ratu berbicara seolah-olah dia sedang dalam bahaya tapi sekarang justru terlihat sangat baik-baik saja.


"Loh, bukannya kata kamu tadi mau minta tolong? Ini kayaknya lagi baik-baik aja."


Reva terkekeh kemudian menjawab, "Yah kan minta tolong nya buat ditemenin kamu malam ini."


Revan memejamkan matanya, ternyata ia sudah dibohongi oleh Ratu. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik dirumah saja sambil menemani Reva yang mungkin saat ini jauh lebih tidak baik-baik saja.


Senyum Ratu langsung luntur saat melihat wajah Revan yang kurang senang. Senyumnya hilang digantikan tatapan sinis, dalam hatinya berkali-kali mengumpat untuk Reva. Pasti karena Reva sampai Revan jadi seperti ini. Sebelumnya setiap mereka bersama selalu ada tawa dan keseruan, sekarang semuanya nampak berbeda. Apa Ratu harus menyingkirkan gadis itu segera?


"Sayang, kamu kenapa? Gak senang yah? Maaf kalau gitu." Ratu menundukkan kepalanya seolah merasa sangat sedih dan bersalah.


"Hah? Ng- nggak sayang. Yaudah aku temanin kamu yah?"


Ratu kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum sambil mengangguk antusias. Namun di dalam hatinya ia sangat marah, terlebih lagi saat dengan jelas matanya menangkap Revan tengah mengirim pesan pada Reva.


'Kayaknya memang harus disingkirin.' Batin Ratu disertai senyum sinisnya yang terkenal menakutkan.