
Reva menenggelamkan wajahnya berkali-kali ke dalam bathtub, saat ini ia sedang berendam demi mengalihkan rasa malu. Ucapannya yang spontan mengatakan Revan tampan terus berputar dikepala. Reva merutuki kebodohannya yang satu itu. Bisa-bisanya ia mengakui paras rupawan dari suaminya secara langsung. Revan pasti akan merasa sangat bangga sekaligus percaya diri. Dan yang pasti untuk beberapa hari ke depan Revan akan menjadikan itu sebagai bahan ledekan.
"Arggghhhh," Teriak Reva.
Bodoh, bodoh, bodoh, Reva beberapa kali mengumpat untuk dirinya sendiri. Bagaimana jika Revan justru menjauhinya karena hal itu? Bisa saja Revan tidak ingin kalau Reva sampai terpesona dengan ketampanannya.
"Rev, ayo makan. Lagi ngapain sih di dalam?" Panggil Revan, terus menggedor pintu sementara Reva masih berendam di dalam kamar mandi.
Dengan cepat Reva berdiri lalu memakai kimono dan sandalnya, ia pun segera keluar dan membuka pintu kamar. Revan yang saat itu berdiri di depan pintu dan melihat penampilan Reva hanya memakai kimono langsung paham kalau gadis itu dari tadi sedang mandi di dalam sana.
Revan meneguk ludahnya, dengan cepat membalikkan badannya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Reva yang kebingungan. Ada apa dengan Revan? Bukankah dari tadi ia terus mendesak agar dibukakan pintu kamar?
Reva terdiam beberapa saat sampai akhirnya terbelalak begitu menyadari penampilannya. Astaga, ia hanya memakai kimono sekarang dan tanpa penutup kepala membiarkan rambut panjangnya yang basah tergerai.
Revan pria normal, dasar Reva bodoh! Reva dengan kecepatan kilat langsung masuk kembali ke dalam kamar dan memakai baju.
Sementara itu, di bawah sana Revan berjalan kedapur sambil mengelus dadanya. Meskipun Revan memiliki seorang kekasih, ia belum pernah melihat kekasihnya memakai yang seperti Reva pakai tadi, kimono maksudnya. Tentu saja Revan sangat kaget saat melihat Reva memakainya tanpa rasa canggung.
"Ada-ada aja," Gumam Revan lalu duduk di meja makan sambil menunggu Reva.
Malam ini mereka hanya bisa makan makanan jadi, Revan yang memesannya karena sejak tadi Reva tidak pernah keluar kamar. Pasti karena malu dengan ucapan spontan yang keluar dari mulutnya. Revan terkekeh, bisa-bisanya Reva baru menyadari kalau pria yang selama ini tinggal bersamanya setampan itu.
"Wahhh, pizza," Pekik Reva yang senang melihat ada pizza di meja makan.
"Makan nasi dulu." Revan menarik pizza itu kearahnya lalu mendorong satu porsi nasi dan ayam crispy ke depan Reva. Reva merotasikan kedua matanya dengan malas, padahal sejak tadi ia sangat ingin memakan pizza.
"Padahal udah tau aku sukanya ayam bakar."
"Gak tau, malas tau juga. Udah makan aja yang ada." Sekarang giliran Revan yang malas jika mengingat lagi kejadian tempo hari. Ayam bakar saja sudah mampu mengingatkannya tentang kedekatan Vano dan Reva.
Bukan!
Ini bukan berarti Revan cemburu. Hanya saja jika mengingat ia lebih dulu mengenal Reva dan tinggal bersamanya, membuat Revan sedikit malu karena justru Vano lebih tau apa yang Reva sukai.
Kata cemburu itu jelas masih jauh dari perasaan Revan, baginya sekarang Reva adalah seorang teman dan itu artinya sebagai seorang teman mereka harus saling mengenal satu sama lain, setidaknya sedikit hal penting mulai dari apa yang di suka dan tidak sukai.
Revan terus memperhatikan Reva yang sedang makan, memastikan gadis itu menikmati makanannya dengan baik. Tentu saja Reva menikmatinya, menyukai ayam bakar bukan berarti tidak menyukai ayam lain, bagaimanapun Reva tetap mensyukuri apa yang ada. Ucapannya tadi hanya sendiran untuk Revan yang bisa-bisanya sudah tahu makanan apa yang paling Reva sukai tapi tidak membelinya.
Setelah selesai dengan makanan wajibnya yaitu nasi, Reva langsung meneguk segelas air lalu menunggu giliran pizza hangat itu masuk ke dalam perutnya.
"Nih." Revan menyodorkan sepotong pizza untuk Reva dan tanpa mengambil potongan itu, Reva justru memajukan wajahnya dan menggigit pizza itu dari tangan Revan.
Suapan pertama, batin Reva.
"Dipegang, Rev. Modus banget padahal masih kecil."
"Suapan pertama dari temanku yang amat sangat jelek." Reva terkekeh lalu menerima pizza yang diberikan Revan.
"Siapa tuh tadi yang bilang aku ganteng?" Tanya Revan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Gak percayaan banget kalau tadi tuh aku lagi ngehaluin Papa aku," Jawab Reva, mencoba mengelak tapi Revan justru tertawa dibuatnya.
"Ihhhh Revaaaan... Diam gak?" Reva berdiri lalu memukul bahu Revan berkali-kali. Ia benar-benar sangat malu sekarang.
Tapi Revan tidak berhenti tertawa, ia justru berlari untuk menghindari serangan pukulan dari Reva. Melihat Revan berlari tanpa berhenti mengejeknya, Reva pun geram dan mulai mengejar Revan. Ia sangat ingin menghabisi Revan dan tidak peduli dengan status jandanya dikemudian hari.
Seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, Revan dan Reva kini mengabaikan makan malamnya. Bahkan Reva lupa dengan pizza yang sejak tadi diidam-idamkan oleh perutnya demi mengejar dan memukuli Revan.
...****************...
Revan dan Reva sekarang terkapar di lantai ruang keluarga. Napas mereka ngos-ngosan, keringat terus bercucuran. Ini akibat karena mereka menghabiskan waktu berlarian kesana kemari dan tertawa, seperti lagu 'Payung teduh.'
Revan melirik Reva yang berbaring di sampingnya sambil memejamkan mata. Ia tersenyum tipis, ternyata Reva anak yang seasik itu. Kalau saja mereka bukan sepasang suami istri, Revan sangat ingin meminta Reva menjadi adiknya saja dan tinggal bersama untuk waktu yang lama.
"Rev, pernah gak pengen banget punya kakak?"
Reva membuka matanya dan melirik kesamping, ditatapnya Revan yang sedang berbaring menatap plafon. Pertanyaan Revan barusan membuat Reva jadi teringat sesuatu.
"Pernah," Jawab Reva lalu tertawa kecil. "Aku pernah pengen banget punya kakak tapi cowok. Soalnya dulu waktu SD pernah diisengin sama teman sekelas terus aku bilang, kalau aja punya kakak cowok, aku bakalan suruh dia buat ngelawan mereka," Lanjutnya kemudian mengubah posisi menjadi duduk.
"Pernah mau punya adik?" Tanya Revan lagi dan Reva menggeleng.
"Nggak. Aku gak mau punya adik. Kenapa kamu nanya begini?" Jawab Reva sekaligus melemparkan pertanyaan kembali pada Revan.
"Aku pernah mau banget punya adik, tapi mama sama papa udah gak bisa ngasih. Jujur yah, ngelihat kamu seasik tadi aku tiba-tiba pengen banget kamu jadi adik aku. Akan lebih cocok begitu," Ucap Revan.
Adik? Reva lagi-lagi merasakan sesak disekitar dadanya saat mendengar kata itu keluar dari mulut Revan. Jika berkata seperti itu saat pertama kali mereka saling mengenal, mungkin Reva akan biasa saja atau justru menyetujuinya. Tapi tidak untuk sekarang, semenjak Reva merasa nyaman dengannya. Apakah akan disebut tidak tahu malu jika Reva mengakui ingin menjadi istri Revan saja?
Ya, Reva menginginkannya sekarang!
Dulu Reva tidak menginginkan pernikahannya karena itu artinya ia harus kehilangan mimpi melanjutkan pendidikan. Tapi sekarang Reva tetap bisa berkuliah bahkan setelah menikah dan itu berkat Revan.
Egois memang, tapi jika bisa mendapatkan keduanya, Pendidikan juga Revan, kenapa tidak?