
Sudah 4 hari lamanya suasana rumah tidak senyaman biasanya. Reva masih enggan berbaikan sementara Revan terus memohon agar mereka tidak seperti ini. Sepertinya rasa kecewa Reva benar-benar sudah mencapai puncak sampai memaafkan pun Revan sesulit itu.
Hari ini Revan lelah. Sepulang dari kampus Ratu terus mendesaknya agar mau ditemani berbelanja. Awalnya Revan berusaha menolak tapi karena desakan Ratu lebih kuat, ia akhirnya mengalah. Merebahkan tubuhnya disofa, Revan memandang langit-langit rumah dengan sedih. Hidupnya sekarang benar-benar dipenuhi masalah, hatinya sering kali dilanda perasaan bimbang. Andai saja Revan diberi kesempatan untuk membuat permohonan, ia hanya ingin memohon agar masuk ke dunia di mana dirinya tidak perlu merasakan tumbuh menjadi orang dewasa, seperti Neverland?
Tapi itu fantasi, tidak mungkin terjadi.
Revan memalingkan wajahnya, melihat ke atas di mana kamar Reva berada. Akhir-akhir ini pintunya sering ditutup rapat dan penghuninya juga sangat jarang keluar. Rasanya jadi seperti tinggal sendirian dirumah. Dingin, sepi, dan mencekam.
Revan memejamkan kedua matanya, menarik napas dalam-dalam seraya membantin, akan sampai kapan seperti ini?
Sementara Reva yang berada di dalam kamarnya juga melakukan hal serupa. Memejamkan mata tetapi pikirannya ke mana-mana. Reva tahu di bawah sana sudah ada Revan, tapi entah kenapa hatinya terlalu berat untuk menyapa dan membuat keadaan menjadi lebih baik. Seolah sesuatu berbisik padanya dengan mengatakan bahwa bersikap masa bodoh seperti ini jauh lebih baik.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kamarnya diketuk, Reva segera menyimbak selimutnya dan duduk bersila, itu pasti Revan.
"Rev... Buka dulu, aku mau ngomong."
Dan benar, itu Revan. Memangnya siapa lagi? Di rumah ini jelas-jelas hanya ada mereka berdua.
Dengan malas Reva segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membuka pintu. Nampak lah Revan yang mengangkat kepalan tangannya hendak mengetuk pintu sekali lagi. Untung saja Revan sadar dan langsung menurunkan tangannya.
"Sibuk?" Tanya Revan, sekedar basa basi dan Reva hanya menggeleng.
Suasana kembali canggung karena saat ini Revan sedang menunggu tuan kamar mengajaknya masuk tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali. Revan berdeham hingga akhirnya Reva mengangkat satu tangan untuk memberi isyarat pada Revan masuk ke kamar.
"Ada urusan apa?" Reva bertanya dengan kepala menghadap ke arah lain. Mereka saat ini duduk bersama diatas tempat tidur. Reva berada di tengah sementara Revan di sudut.
"Aku mau minta maaf."
"Udah aku maafin."
"Tapi kamu masih begini.
" Van...." Reva kali ini menatap Revan, wajahnya seperti orang yang sedang memohon. "Tolong, jangan buat aku berpikir kalau kamu tuh peduli!"
"Aku peduli, Rev."
Reva menggeleng. "Kamu gak pernah peduli. Yang kamu peduliin itu cuma diri kamu. Kalau memang kamu peduli sama aku, kenapa kamu sering bikin aku kecewa?"
Revan terdiam.
"Kalau teman kamu yang pakai uang kamu, aku bisa anggap itu sebagai bantuan. Tapi Ratu? Itu buat nenangin dia kan? Buat manjain dia?" Reva menggeleng. Tidak habis pikir dengan pria yang saat ini sedang berada dihadapannya. "Jangan bodoh, Van."
"Kamu belum pernah jatuh cinta, itu sebabnya kamu gak ngerti," Ucap Revan yang seketika membuat tawa Reva meledak.
"Aku jatuh cinta, Van. Sama kamu, makanya aku ngerti."
Kalimat yang mampu membuat Revan tertegun. Napasnya seakan hanya sampai di kerongkongan, ia tercekik. Pernyataan barusan? ia tidak salah dengar kan?
"Rev..."
"Aku tahu setelah pengakuan ini kita akan jadi lebih canggung, atau mungkin kembali saling benci? Tapi aku udah pikirin semuanya sebelum ngomong. Aku cuma capek pendam sendiri. Aku juga tau selama ini kamu selalu khawatir tentang perasaan aku kan? Karena perhatian yang aku kasih dan sikap sensitif ku ke Ratu? Kamu khawatir kalau misalkan aku sampai ada rasa ke kamu? Kekhawatiran kamu benar adanya," Ungkap Reva dan kali ini Revan benar-benar nyaris kehilangan napasnya. Kepalanya pening, seperti telah menelan banyak alkohol. Apa yang harus Revan lakukan setelah pengakuan barusan? Tentu saja mereka akan menjadi canggung, tapi benci? Tidak! Revan yakin ia tidak bisa melakukan itu lagi pada Reva. Mereka sudah sangat dekat dan saling bergantung sekarang.
Revan tidak ingin kehilangan adik seperti Reva.
"Aku lebih serius," Potong Reva, tatapannya begitu tajam. Membuat Revan menutup mulutnya rapat-rapat.
"GAK TAU DIRI!"
Revan dan Reva berbalik bersamaan, menatap ke arah pintu dan kaget.
Ratu?
"Kok..."
Plak.
Ucapan Reva terpotong oleh tamparan yang diberikan Ratu. Melihat itu tentu saja Revan kaget dan juga marah, diraihnya lengan Reva agar berdiri di belakangnya lalu menatap nyalang kearah Ratu.
"Apa-apaan sih kamu." Bentak Revan.
Mendapat bentakan seperti itu dari sang kekasih, gigi Ratu gemeretak. Hatinya sangat panas sehingga berusaha maju agar bisa menarik Reva dan menyakitinya. Namun gerakan Revan sangat cepat, ia mencoba menghalangi Ratu agar tidak menyentuh Reva sama sekali.
"Diam, Van. Kamu belain dia dari pada aku?"
"Kamu pikir dengan kamu datang seperti ini dan bertindak seenaknya aku akan belain kamu?"
Ratu berhenti, ia menatap Revan dengan tajam. "Kamu marahin aku?"
"Coba jelasin ke aku kenapa kamu bisa ada di sini tiba-tiba.
Sial, Ratu mengumpat dalam hati. Ia baru sadar sudah memasuki rumah Revan tanpa izin. Niatnya hanya sekedar mencari Revan ke penjuru ruang tamu juga dapur, namun karena sangat penasaran ia pun naik ke kamar Reva dan mendapati Revan ada di sana.
"Jahat yah kamu, Van." Bukannya menjawab, Ratu justru menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Berpura-pura menangis agar memancing rasa kasihan Revan.
Reva memutar bola matanya, drama sekali.
"Ratu, kita keluar dulu."
Ratu menggeleng, kembali menatap Reva penuh amarah. Tapi yang ditatap justru menaikkan sebelah alisnya seolah memberi tantangan.
"Gila yah lo. Bisa-bisanya confess sama pacar orang," Ucap Ratu.
"Lebih gila mana dengan pacaran sama orang yang udah nikah?" Balas Reva.
Melihat suasana semakin mencekam, Revan berusaha menarik tangan Ratu untuk keluar dan menjelaskan semuanya. Tapi Ratu menolak, ia menghempaskan tangan Revan berkali-kali.
"Kamu janji sama aku buat ceraiin dia." Ratu menatap Reva dengan dingin.
Reva tersenyum sinis. "Dia? Ceraiin aku?" Reva maju selangkah lalu melanjutkan ucapannya. "Gak semudah itu."
"Oh, ya? Karena apa?" Tanya Ratu. Emosinya sudah benar-benar tidak terkontrol lagi. Dibawah sana kedua tangannya sudah terkepal kuat. Bersiap melayangkan pukulan untuk Reva.
"Karena banyak hal," Jawab Reva.
"Ratu, Reva, udah." Revan sekali lagi berusaha melerai keduanya agar tidak berdebat terlalu jauh dan berakhir menyebabkan keributan.
"Dan.... Kamu bisa gak sopan sedikit? Gak masuk kerumah orang sembarangan tanpa izin? Ingat kamu punya batasan di sini, kamu bukan keluarga." Reva mendorong Ratu dan Revan agar keluar dari kamarnya kemudian kembali mengunci pintu.