Is My Dream

Is My Dream
Bagian 10



"Kak?"


"Apa?"


"Makasih..."


Revan segera melepaskan pandangannya dari layar hpnya, ia menatap lutut Reva yang sudah dibalut perban kemudian bertanya, "Luka kamu udah gak perih?"


"Iya, udah gak lagi," Jawab Reva.


Setelah jawaban Reva, keduanya kembali terdiam. Mereka sama-sama kaku untuk sekedar mengeluarkan sepatah kata saja. Saat Reva hendak meraih ponselnya dimeja, suara bell rumah tiba-tiba berbunyi. Syukurlah, mungkin itu Mama. Mereka tidak akan terbelenggu dalam suasana canggung ini.


Revan segera turun kebawah untuk membuka pintu dan begitu pintu terbuka Revan langsung kaget karena yang datang ternyata Ratu. Padahal Ratu bilang akan menunggu besok untuk bertemu tapi justru datang malam ini.


"Siapa???" Teriak Reva sambil menuruni anak tangga. Sama seperti Revan, Reva juga langsung kaget saat mengetahui siapa yang datang.


Ratu? batin Reva menyebut namanya.


Kenapa gadis itu datang lagi dimalam seperti ini? Bukankah tidak sopan bertamu dirumah pacarnya yang sudah memiliki istri? Setidaknya jika ingin bertemu untuk sekedar melepas rindu tunggulah ditempat lain dan di hari lain. Memang benar kata orang, terkadang berpendidikan tinggi tidak berarti menjamin orang itu akan pintar. Pintar lah sedikit dalam berselingkuh, Ratu.


"Hai!!!!"


"Hai katanya? Pftttt..," Gumam Reva yang berdiri tidak jauh dari Revan dan Ratu.


"Ngapain datang malam-malam?" Tanya Revan dengan tenang. Melihat Ratu, Revan tidak se semangat seperti biasanya. Mungkin karena pertengkaran tadi, Revan jadi kurang mood.


"Kangen..," Jawab Ratu sambil bergelayut manja dilengan Revan.


Reva memutar bola matanya dengan malas. Kenapa nasibnya selalu serburuk ini? Kenapa Reva harus melihat pemandangan yang tidak menyenangkan di depannya? Dan kenapa ia tidak suka? Dari awal Reva hanya sering merasa kesal setiap melihat Revan dekat dengan Ratu, tapi kali ini berbeda, rasanya sedikit menyesakkan.


Reva hendak berbalik ke kamarnya namun panggilan Revan langsung menghentikan langkahnya. Revan bilang ia juga harus di sini dan berjaga-jaga jika Mama datang. Jangan sampai melihat Ratu yang hanya bersama Revan. Reva menghela napasnya dengan pasrah, Revan bisa khawatir tentang Mama tapi tidak dengannya.


Satu jam bertamu, Ratu hanya menghabiskan waktunya dengan terus memeluk pinggang Revan. Sesekali melirik Reva, dan Reva sadar akan hal itu. Entah maksudnya apa tapi Reva seperti merasa diejek.


"Udah larut, kamu bisa pulang dulu gak?" Revan memperlihatkan jam tangannya pada Ratu dan membuat Ratu langsung cemberut.


Reva mencebik, dasar manja.


"Aku nginap aja boleh?"


"GAK!!!!" Teriak Reva yang langsung membuat Revan dan Ratu melihat kearahnya. Mereka sangat kaget apalagi Revan yang sangat jarang mendengar Reva berteriak, atau mungkin dia yang lupa?


"Kamu kenapa?" Tanya Revan pada Reva.


"Mikir, mau nginap di sini katanya?" Reva langsung mengalihkan atensinya kearah Ratu. "Kamu tuh masih gadis, berpendidikan juga, jangan mau diajarin anak kecil kayak aku. Kamu mending pulang, tolong hargai aku sebagai istrinya." Dan setelah mengatakan itu Reva langsung naik keatas kamar. Jika terus berada dibawah, mata Reva rasanya akan memanas.


Ratu yang tidak suka dengan kata-kata Reva langsung menatap Revan dan berharap mendapat pembelaan. Tapi siapa sangka yang ditatap justru menatap Reva yang sedang berjalan menaiki tangga. Tanpa mengucapkan satu kata pun Ratu langsung melangkah kan kakinya keluar dari rumah Revan. Revan menyadarinya dan segera menyusul untuk menutup pintu rumah, bukan menghentikan.


Selesai menutup pintu dan memastikan Ratu sudah pergi, Revan langsung menyusul Reva di kamar. Di dalam sana ia bisa melihat Reva sedang duduk dipinggir ranjang sambil meremas rambutnya. Revan hendak marah, namun melihat Reva seperti itu rasanya jadi tidak tega. Revan pun ikut duduk di samping Reva.


"Maaf," Ucap Revan.


"Untuk tadi, untuk kelakuan Ratu."


Tanpa membalas perkataan Revan, Reva langsung berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sepertinya Reva tidak ingin membahas masalah Ratu, Revan harus paham dengan hal itu. Ada baiknya jika membiarkan Reva untuk sendiri sampai besok pagi.


Akhirnya Revan keluar dari kamar dan tidur dikamar tamu. Besok saja ia berusaha untuk berbicara pada Reva.


"Aneh. Akhirnya aku sedikit peduli juga sama dia," Gumam Revan disertai senyum miris.


...----------------...


Keesokan harinya, di pagi yang sangat cerah Reva sudah disibukkan banyak hal. Memasak, membersihkan rumah, menyapu halaman, dan menyiram tanaman. Demi menghilangkan beban pikiran Reva harus mencari kesibukan dan syukur saja itu berhasil. Reva jadi menikmati apapun yang dilakukannya tanpa harus memikirkan hal lain.


Setelah semuanya selesai, Reva langsung melepaskan kaos tangan yang biasa dipakai untuk mencabuti rumput dan duduk sambil menikmati secangkir teh.


"Revan udah bagun belum yah?" Tanya Reva. Ia sampai lupa jika ini sudah jam 9 pagi, itu artinya Revan terlambat sarapan.


Reva bergegas menuju kamar tamu tapi kaget setelah melihat Revan sudah duduk anteng di depan meja makan sambil melahap sarapannya.


"Gak sarapan juga?" Tanya Revan.


"Kamu aja dulu," Jawab Reva.


"Sini sarapan bareng. Gak usah gengsi gitu."


"Dih, siapa yang gengsi."


Reva akhirnya mencuci tangan lalu ikut duduk di meja makan. Sebenarnya Reva masih agak kenyang akibat terlalu banyak mencicipi rasa masakannya. Bagaimana tidak, Reva mencicipi makanannya terlalu sering sampai harus minum air putih berkali-kali. Belum lagi setelah selesai membersihkan halaman rumah, Reva sempat menikmati secangkir teh sambil memakan kue bolu kesukaannya.


"Ngapain?" Tanya Revan saat melihat Reva mengambil makanan dengan porsi yang sangat sedikit.


"Makan," Jawab Reva dengan singkat dan terdengar malas.


"Iya tau makan, tapi gak gitu juga porsinya."


Revan langsung bergerak kesana kemari untuk menambah porsi piring Reva. Reva menganga melihatnya, ia ingin menahan tapi sudah terlanjur. Apa kabar dengan perutnya? Akan disimpan di mana makanan ini? Di otak?


Padahal karena sudah terlalu kenyang jadi porsi piring Reva sedikit. Tapi Revan berpikir Reva seperti itu karena ingin menunjukkan kekesalannya akibat masalah semalam.


"Aku minta maaf karena masalah kemarin," Ujar Revan.


"Ngapain minta maaf?" Reva bertanya sambil memainkan makanan di piringnya. Entah saat ini Revan meminta maaf untuk dirinya atau untuk Ratu.


"Sama kelakuan aku dan Ratu semalam. Aku tau itu kurang sopan tapi aku sendiri gak tau harus gimana."


Sudah Reva duga permintaan maaf Revan itu untuk Ratu. Reva langsung membanting sendoknya dan segera berdiri meninggalkan meja makan. Revan yang melihat itu kaget tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain berpikir untuk meminta maaf lagi.


Sepertinya memang kebiasaan Revan setiap kali dalam masalah selalu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Harus minta maaf dengan cara apa lagi?" Tanya Revan pada dirinya sendiri.