Is My Dream

Is My Dream
Bagian 26



Sejak kejadian di kampus dua hari lalu, baik Revan maupun Reva sama-sama saling mendiami. Tidak ada yang berniat membuka obrolan. Setiap kali membutuhkan sesuatu, mereka harus mencari atau mengerjakannya sendiri. Tentu hal itu sulit bagi Revan karena rumah sudah diatur oleh Reva. Tempat garam pun Revan tidak tahu di mana letaknya.


Hampir 80% barang di dapur sudah diubah posisi letaknya, kecuali kulkas yang memang pada saat itu sulit dipindahkan Reva.


Ini adalah yang ketiga harinya. Revan duduk termenung di atas tempat tidur, memikirkan nasib kedepannya jika terus seperti ini. Saling mendiami bukan solusi untuk masalah mereka, justru akan semakin memperkeruh.


Menarik napas dalam-dalam, Revan lalu menyimbak selimut yang menutupi kedua kakinya dan keluar dari kamar untuk mencari Reva. Entah kenapa Revan tidak tahan berada di situasi seperti ini. Revan sadar, jika sedikit demi sedikit kebencian yang dulu ia miliki kepada Reva mulai terkikis. Tapi tidak menutup fakta lain juga bahwa Revan memang bukanlah pria yang pembenci. Bahkan ketika dirinya disakiti ada saja waktu di mana Revan bisa melupakan rasa sakit itu dan menganggap semuanya baik-baik saja. Apalagi selama ini Reva sudah melakukan banyak hal baik untuknya. Merawatnya ketika sakit, dan memperhatikan apapun yang ada padanya.


Revan akui jika ini adalah kesalahan. Seharusnya ia terus membenci Reva, gadis sok polos yang telah merenggut hampir semua kebahagiaan di masa remaja, bahkan menjadi penghalang untuk cintanya. Tapi bukan kah Reva juga korban sepertinya? Reva bahkan jauh lebih muda untuk menghadapi kesulitan seperti ini. Yang harus Revan salahkan adalah ke empat orang tua yang sudah mengesampingkan cita-cita anak mereka demi kesepakatan perjodohan yang mereka buat.


"Rev...," Panggil Revan. Ternyata Reva berada di halaman belakang sedang membersihkan bunga-bunga kesayangannya. Mencabuti daunnya yang kering lalu membuangnya ke tempat sampah.


Reva hanya berbalik sekilas lalu kembali fokus pada kesibukannya. Sengaja mengabaikan Revan karena masih mengingat masalah kemarin.


Revan menghela napas, kenapa jadi dirinya yang kelihatan patuh dan memelas seperti ini ke Reva?


"Kalau orang manggil itu nyaut."


"Hm," Sahut Reva.


"Udah deh, jangan begini. Kayak anak kecil."


"Memang aku anak kecil.


"Rev, serius."


Reva menghentikan aktivitasnya lalu membersihkan kedua tangannya kemudian menatap Revan. Merasa situasi jadi lebih serius sekarang, Revan menarik tangan Reva agar duduk di kursi teras.


"Mau sampai kapan diam-diam begini?" Tanya Revan.


Reva sedikir berpikir, lebih tepatnya pura-pura berpikir dan Revan sangat tahu itu. Setelah selesai dengan pura-pura berpikirnya, Reva langsung menjawab, "Bukannya bagus yah yang begini? Lagian siapa peduli sih kalau kita saling cuek? Orang dari awal hubungannya udah gak baik-baik aja." Reva memperbaikinya posisi duduknya dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Kalau aku pikir-pikir lagi nih yah kak, kita gak bisa lupa tentang hancurnya perasaan kita pas nikah. Hal begini yaudah, gak usah diambil pusing."


"Reva, masalahnya yang ngatur rumah itu kamu. Aku kalau mau apa-apa harus nanya ke kamu. Aku bahkan gak tau kamu nyimpan bumbu dapur di mana, piring dan mangkuk di mana, sampai sendok pun aku gak tau di mana," Keluh Revan. Baiklah, mungkin ini berkesan berlebihan, tapi memang benar Revan tidak tahu di mana semua benda-benda penting di rumahnya itu. Jangan salahkan ia, ini karena semenjak menikah Revan jadi jarang mempersiapkan segalanya sendirian. Selalu ada Reva yang menyiapkan semuanya lebih dulu.


Reva mengulum senyum. Sebenarnya penyebab utama ia malas berbicara dengan Revan adalah Ratu. Reva tidak suka melihat kemesraan mereka berdua saat berada di kantin waktu itu. Dan sekarang, kalimat yang Revan ucapkan tadi mendadak menggelitik perutnya, membuat Reva jadi salah tingkah tapi untung saja bisa menahan diri.


Revan secara tidak langsung mengatakan jika ia bergantung pada Reva.


Sungguh, ini tidak aman untuk hati Reva!


"Yaudah. Tapi bentar-" Reva menggantungkan kalimatnya. Membuat Revan heran dan juga penasaran.


"Bentar apa?"


Reva memicingkan kedua matanya. Mendekatkan wajahnya ke wajah Revan hingga membuat Revan harus mundur beberapa centi.


Tak!


Satu tamparan dari telapak tangan Revan untuk Reva. Reva meringis mengusap keningnya, walau sebenarnya tidak keras tapi cukup membuat Reva sedikit kesakitan.


"Bukan tiba-tiba peduli. Yang ngajak temenan waktu itu siapa? Kamu kan? Bodoh banget heran."


Reva menganggukkan kepalanya. Benar, Reva hampir lupa kalau dirinyalah yang sempat mengajak Revan akur dan kalau bisa menjadi teman. Tapi ini diluar dugaan, Reva tidak menyangka jika tawarannya waktu itu akan diterima.


Keduanya kembali terdiam. Sama-sama menatap lurus kedepan. Memikirkan kenapa mereka tiba-tiba jadi seperti ini, sangat berbeda diawal. Revan pernah mengatakan jika melihat Reva ia akan tersiksa dan Reva pernah berpikir dirinya tidak akan menyukai Revan sampai kapanpun.


Tapi ini berbeda. Semakin lama mereka justru semakin akrab.


Apa mungkin karena terbiasa? Orang bilang, ketika kita terbiasa menghadapi sesuatu, kita bisa saja menyukainya. Tidak peduli sebesar apa kita pernah membencinya.


"Van," Panggil Reva.


"Hm?"


"Kamu gak akan lanjut benci aku?"


Pertanyaan Reva membuat Revan terdiam. Entahlah, Revan sendiri sebenarnya bingung. Dengan berbaik hati membantu Reva melanjutkan pendidikannya juga menerima tawarannya untuk menjadi lebih akur, bukan berarti Revan melupakan rasa bencinya. Ada waktu di mana terkadang Revan bisa tiba-tiba merasa kesal dengan Reva. Seperti saat moodnya sedang dalam kondisi yang tidak baik.


Revan mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


"Sebenarnya benci tuh gak bakal bikin kita puas."


"Kamu ngomong gini biar aku gak benci kamu kan?" Goda Revan. Memutarkan jari telunjuknya ke depan wajah Reva.


Reva menepis jari Revan dari wajahnya "Sok tau. Kamu mau benci yaudah. Bodoamat."


"Terus ngapain ngajakin temenan?" Revan terus menggoda Reva sambil tertawa mengejek.


Apakah ada yang sadar dengan situasi ini? Ya, Reva baru saja menyaksikan Revan tertawa karenanya. Walau tidak selepas saat bersama Ratu, setidaknya Reva bisa melihat dengan lebih jelas setampan apa Revan saat tertawa.


Dan dia sangat tampan, juga menggemaskan.


Kedua tangan Reva saling meremas. Berusaha menahan diri agar tidak mencubit kedua pipi Revan yang dari tadi terus menggoda dan mengejeknya. Mata bulan yang terbentuk ketika ia tersenyum benar-benar membuat Reva takjub. Revan adalah pria tertampan yang pernah Reva temui.


"Rev..," Panggil Revan. Melambaikan tangannya di depan wajah Reva yang tiba-tiba saja melamun di tengah-tengah candaan yang mereka buat. Revan Pikir Reva sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu sakit?" Tanya Revan sekali lagi dan ucapan Reva justru membuatnya semakin kebingungan.


"Ganteng." Itu yang Reva ucapkan.