
Setelah memeriksa kelengkapan stok bahan masakan yang sudah mereka beli, Revan dan Reva akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Mengingat Revan juga harus segera berangkat kuliah.
Sebelum benar-benar pulang, Revan menyempatkan dulu untuk membeli dua eskrim. Satu untuknya dan satu untuk Reva.
"Dimakan kan ini?" Revan menyodorkan satu eskrim pada Reva dan dengan senang hati gadis itu menerimanya.
"Dimakan lah ini. Orang enak, coklat kacang pula," Ucap Reva disertai cengiran dan mulai menyantap eskrimnya.
"Rev, pernah gak sih kamu tuh kayak pengen banget mukulin aku?"
Reva hanya mengangguk, lebih fokus pada eskrimnya.
"Kapan?" Tanya Revan sekali lagi.
"Tiap hari. Hari ini juga rasanya aku pengen mukulin kamu."
Revan akhirnya tertawa mendengar jawaban Reva. Kebanyakan perempuan memang begitu.
"Cewek kalau kesal kenapa yah suka mukul gitu."
"Gak karena kesal juga sih. Kadang juga karena gemas. Intinya emang suka mukul aja. Cuma bukan mukul yang keras. Kalau aku sih udah pasti mukul keras."
"Kenapa gitu?"
"Karena kesal lihat gaya pacaran kamu yang alay banget, wle..." Reva menjulurkan lidahnya lalu berlari dan masuk lebih dulu kedalam mobil. Meninggalkan Revan yang hanya bisa menggeleng melihat tingkah Reva barusan.
Revan akhirnya dengan pasrah mengangkat semua barang lalu memasukkannya ke dalam bagasi sendirian. Setelah selesai dan merasa tidak menyisahkan satu barang pun, Revan langsung ikut masuk ke dalam mobil.
"Pulang sekarang?" Tanyanya lebih dulu.
"Iya. Udah lengkap semuanya."
Revan mengangguk dan mereka berdua akhirnya pulang. Setibanya dirumah, Reva langsung menyusun semua bahan makanan ke dalam kulkas. Sebagian lagi akan ia masak untuk makan siang sebelum Revan berangkat kuliah.
Memasak adalah hal yang mudah bagi Reva karena sejak kecil ia sudah belajar dari kedua neneknya. Bahkan Reva sempat memiliki cita-cita ingin menjadi seorang koki serba bisa. Ia ingin memasak banyak makanan enak lalu membuat usaha besar atas namanya sendiri. Mimpi masa kecil yang pada akhirnya harus ia lupakan begitu memasuki bangku SMA, karena ternyata bakatnya ada dibagian sastra. Reva sangat suka menulis cerita dan membuat puisi. Andai dirinya bisa melanjutkan pendidikan dibangku kuliah, Reva pasti akan memilih sastra dan bahasa Indonesia.
Memasak sambil bernostalgia tentang masa lalu ternyata bisa membuat Reva bergerak lebih santai. Bahkan di saat beberapa masakannya sudah selesai Reva tidak merasa lelah sedikitpun. Melipat kedua tangannya di depan dada, Reva menatap masakannya satu persatu dengan bangga lalu mulai menyusunnya di atas meja satu persatu.
"Revaaaan... Ayo makaaaan, " Teriak Reva, melepaskan celemeknya dan mulai menuangkan nasi ke piring Revan, juga piringnya sendiri.
Revan turun sambil menenteng tasnya.
"Kamu makan dulu gih."
Revan menarik kursi dan duduk "Kamu gak makan?" Tanyanya begitu melihat Reva justru kembali kedapur.
"Hah?"
"Karena kamu udah temanin aku belanja."
Reva kembali ke meja makan lalu memberikan satu kotak bekal pada Revan. Melihat hal tersebut, Revan terdiam tidak tahu harus mengatakan apa. Perlakuan Reva sepertinya sudah berlebihan. Bagaimana cara menghentikannya?
Dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya, Reva menarik tangan Revan dan menuntunnya agar menerima kotak bekal tersebut.
"Kalau kamu gak keberatan, aku mau kita berteman dengan baik. Terima bekal ini dan gak usah mikir yang aneh-aneh." Reva ikut duduk dan mulai menyantap makan siangnya. Mengabaikan ekspresi Revan yang kebingungan, bahkan sarapannya hanya bisa ia pandangi dengan kosong.
"Van?" Reva melambaikan tangannya ke depan wajah Revan. Membuat pria itu tersadar dan dengan cepat memperbaiki ekspresi wajahnya.
Mereka makan bersama tapi dengan pikiran yang berbeda. Reva memikirkan kenapa dirinya melangkah sejauh itu, kenapa melakukan hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan, dan kenapa sangat berani. Sementara Revan hanya memikirkan bagaimana cara mengatasi situasi seperti ini.
Jika dipikir-pikir memang tidak ada salahnya berteman. Tapi awal dari sebuah perasaan adalah pertemanan. Kita akan dekat, saling mengenal satu sama lain, dan akhirnya jatuh cinta. Fase yang pernah Revan dan Ratu lalui bersama. Jika Revan melaluinya juga dengan Reva, besar kemungkinan salah satu diantara mereka akan memiliki perasaan lebih, apalagi mereka tinggal di satu atap yang sama.
Ingin menolak, tapi apa salahnya mencoba? Lagipun perasaan Revan hanya untuk Ratu dan bisa saja Reva memang tidak memiliki ketertarikan untuknya selain teman.
"Aku makan nanti. Aku berangkat dulu," Pamit Revan yang mendadak sedikit canggung.
Kepergian Revan menyisahkan keheningan untuk Reva. Menyentuh dadanya, Reva merasakan sesak yang aneh. Bertanya-tanya apakah ia akan sanggup melewati hari sebagai teman untuk Revan. Akan ada resiko yang harus ia tanggung nantinya, seperti kemungkinan untuk jatuh cinta dan pada akhirnya patah hati. Tapi keinginan untuk menghabiskan banyak waktu bersama Revan menjadi impian Reva sekarang. Ia suka saat-saat di mana Revan ada didekatnya. Iya, katakan saja Reva gila sekarang. Kebenciannya hilang dengan mudah dan itu sangat disayangkan.
"Aku bisa apa," Gumamnya sedikit sedih.
Setelah membersihkan meja makan, Reva menyempatkan diri duduk di ruang tamu sambil bermain handphone. Membuka youtube untuk sekedar menonton acara memasak dan sesekali memeriksa media sosialnya. Saat membukan whatsapp, Reva tanpa sengaja melihat snap milik Revan dan sepertinya pria itu sedang berada di kantin.
Bersama Ratu.
Terlihat mereka sedang makan bersama, hanya berdua. Reva tersenyum kecut, merasa bodoh karena tidak menyukai pemandangan ini. Kenapa? Kenapa dirinya harus tidak suka? Bukankah mereka sepasang kekasih? Tapi Reva istrinya!
Menarik napas dalam-dalam, Reva segera bangkit dan berjalan ke kamarnya. Membanting pintu keras-keras kemudian berbaring tengkurap dengan tangannya meremas seprai untuk melampiaskan kekesalan. Seharusnya jika tidak ingin sakit hati, Reva harus memiliki kekasih. Jadi ia tidak perlu merepotkan hatinya untuk jatuh pada sosok yang sudah memiliki pasangan.
"Ngeselin, Revan ngeselin!" Merajuk sedemikian rupa, Reva nyaris menjatuhkan air matanya. Perasaan yang pertama kali ini membuat Reva merasa dirinya sedikit berlebihan, kalau bahasa gaulnya lebay. Ini baru perasaan nyaman, bagaimana jika sampai pada tahap jatuh cinta? Apa akan membuat Reva sulit bernapas disaat merasa cemburu?
Sementara di tempat lain, Revan memandangi viewers snapnya dengan mata terbelalak? Sejak kapan dirinya mengupload foto dan video ini? Ditambah dengan Reva yang ternyata sudah melihatnya.
Pasti Ratu. Ratu memang meminjam ponselnya untuk foto bersama.
Dengan perasaan tidak enak, Revan memandangi tasnya. Di dalam sana ada bekal yang Reva buatkan. Reva pasti berpikir Revan tidak akan memakan bekalnya dan lebih memilih makan bersama Ratu. Padahal tadinya Revan ingin, hanya saja Ratu datang tiba-tiba lalu menariknya menuju kantin.
Bagaimana ini.