Is My Dream

Is My Dream
Bagian 8



PLAKK!!!!!!


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Revan, tamparan yang berasal dari tangan Ratu sendiri. Revan tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya diam menerima perlakuan Ratu kepadanya.


Ratu lagi-lagi memperlihatkan rekaman di mana Revan sedang berdebat dengan Alvin hanya karena Reva. Ratu benar-benar tidak suka hal itu.


"Lihat? Kamu bahkan ngebelain dia? Kenapa? Udah mulai suka?"


Revan menggeleng kuat. Ia sudah menjelaskan kepada Ratu berkali-kali jika ia melakukannya hanya karena menghargai Reva sebagai seorang perempuan. Bagaimana bisa Revan hanya diam saja melihat Alvin menatap Reva dengan tatapan liar.


"Terus? Video ini maksudnya apa?"


Sudah cukup. Dijelaskan sebanyak apapun sepertinya Ratu memang hanya ingin menutup matanya.


"Udah, aku capek. Bisa dihitung udah seratus kali aku jelasin ke kamu tapi kamu yang gak mau paham."


"Yah karena kamu."


"Kalau suatu saat kamu yang diposisi Reva, apa aku bisa marah kalau ada cowok yang belain kamu?"


"Lihat? Kamu belain dia lagi."


"Terserah," Revan kemudian pergi meninggalkan Ratu dan pulang ke rumah. Diperjalanan Revan masih memikirkan siapa yang sudah merekam video itu dan mengirimkannya dengan sengaja ke Ratu. Sudah pasti salah satu diantara mereka semalam.


Apa mungkin Reva? Tapi bagaimana bisa Reva menyempatkan hal itu sementara mereka berdua selalu berjalan beriringan dan melihat waktunya, video itu sepertinya dikirim saat Revan dan Alvin masih tengah berdebat.


Sesampainya dirumah, Revan langsung merebahkan tubuhnya kesofa. Bahkan tidak melepaskan tasnya lebih dulu. Reva yang melihat itu hanya mengedikkan bahu lalu naik keatas kamar. Mungkin Revan sedang ada masalah, pikirnya.


"Tapi siapa?" Gumam Revan.


"Siapa apanya?"


"AAAAAA.... Astaga kaget," Teriak Revan, mengangkat kedua tangannya ke atas.


Melihat ekspresi kaget Revan yang lucu, Reva langsung tertawa terbahak-bahak.


"Bukannya tadi kamu naik ke kamar yah?" Tanya Revan.


"Balik lagi. Soalnya ngelihat kamu kayak lagi ada masalah gitu."


Sebelah alis Revan terangkat. Sejak kapan Reva terlihat peduli seperti ini?


"Gak usah sok peduli."


"Heran, apa-apa dibilang sok. Kamu tuh yang sok kegantengan."


"Emang ganteng."


Reva memasang wajah gelinya lalu kembali bertanya, "Terus kenapa? Ada masalah apa?"


Revan terdiam beberapa saat. Masih memikirkan tentang masalahnya dengan Ratu. Bisa-bisanya ada orang yang dengan sengaja membuatnya bertengkar seperti tadi. Kalau saja Revan tahu siapa orang itu, sudah habis dia ditangan Revan.


"Ada yang ngerekam aku semalam pas ribut sama Alvin. Gak tau juga siapa. Mana dia langsung ngirim videonya ke Ratu," Jawab Revan.


Reva menepuk dahinya, bagaimana bisa Revan tidak peka dengan hal seperti ini.


"Kamu gak tau siapa? Udah jelas itu pasti Alvin, Van."


"Kenapa Alvin?"


"Bukannya kata teman kamu dia suka sama Ratu?"


Revan lagi-lagi terdiam. Ada benarnya juga perkataan Reva, bisa jadi Alvin sengaja membuatnya bertengkar dengan Ratu agar bisa lebih leluasa mendekati Ratu. Kenapa hal seperti ini tidak terlintas dipikirannya.


"Kenapa aku gak kepikiran yah."


"Yah karena pikiran kamu cuma Ratu," Sindir Reva kemudian pergi meninggalkan Revan sendirian. Biar saja pria itu bergelut dengan pikirannya sendiri.


Di dalam kamar, Reva juga tiba-tiba memikirkan tentang Alvin. Sejak kejadian semalam, Reva jadi sangat tidak menyukainya. Caranya menatap, seperti orang yang sangat kelaparan. Reva jadi takut jika suatu saat Alvin juga menyusun rencana untuknya agar bisa lebih dibenci oleh Revan. Jangan sampai hal itu terjadi. Reva memang tidak menyukai Revan tapi bukan berarti mereka harus saling membenci.


Apakah seharusnya Reva menceritakan hal ini kepada Putri? Tapi bagaimana jika Putri tahu dan marah? Reva tidak ingin membawa Putri masuk kedalam masalah ini. Hanya saja tempat untuk mencari solusi dari masalah itu biasanya Putri.


"Cerita aja kali yah? Tapi takutnya dia malah ngamuk ke Alvin. Kan bahaya."


Reva sudah menggenggam hpnya, hendak menghubungi Putri namun tidak jadi. Hp itu kembali ia letakkan dimeja.


"Aku coba buat ngomong aja sama Revan," Gumam Reva dan kembali berlari menuruni tangga untuk menemui Revan yang pasti masih ada di bawah. Dan benar saja, Revan masih asik berbaring disofa dengan tas di pundaknya. Apa tidak pegal tidur dengan posisi seperti itu?


"Revan?"


Reva langsung mengambil posisi duduk disofa dekat Revan berbaring dan mulai menceritakan kecemasannya.


"Aku mendadak takut sama Alvin, gimana kalau dia juga aneh-aneh ke aku. Emang dia sejahat itu yah?" tanya Reva.


"Gak tau. Orang cuma bilang dia playboy."


"Takut." Reva dengan wajah ngeri mengusap lengannya berkali-kali.


"Ngapain takut? Emang kamu cantik?" Ejek Revan. Membuat Reva yang mendengarnya sangat tidak terima.


"Emang gak dengar Alvin bilang apa semalam? Aku itu cantik."


"Itu mata dia yang siwer."


Kurang ajar!!! Reva langsung pergi meninggalkan Revan dengan perasaan kesalnya. Tanpa ia sadari Revan tertawa kecil karena itu. Lucu sekali kata Revan.


Tin....


Dengan mata setengah terpejam, Revan meraih ponselnya begitu mendengar satu notifikasi masuk. Ternyata pesan dari Ratu. Sudah ia duga, Ratu pasti akan mengiriminya pesan setelah bertengkar. Hal seperti ini sudah sering terjadi, bahkan Revan sudah sangat terbiasa karenanya.


'Aku minta maaf'


...'Gakpapa'...


'Masih marah?'


...'Cuma agak kesal aja'...


'Iya maaf, aku cuma terlalu emosi karena kamu ngebelain dia. Aku cuma takut kamu berpaling'


...'Gak akan'...


'Benar??'


...'Iya'...


'Yaudah gih kamu istirahat. Besok ketemu dikampus yah?'


...'Iya'...


Revan langsung mematikan Daya ponselnya. Moodnya sedikit berantakan karena kejadian tadi. Bahkan rasa perih dipipinya akibat tamparan Ratu masih berbekas. Aneh sekali, kenapa Revan masih bertahan mencintai Ratu yang selalu seenaknya seperti itu. Cemburu berlebihan, marah untuk hal kecil, dan terkadang susah mengalah sekalipun dia sendiri yang salah. Apa semua perempuan seperti itu?


Revan menghela napasnya dengan berat. Apa sebaiknya ia keluar saja berjalan-jalan? Sekedar menghilangkan penat dan rasa bosan. Dari pada berada dirumah, tidak ada kesibukan selain tidur dan makan. Tapi malas juga, lebih enak rebahan sebenarnya.


Dasar kaum rebahan!!!!!


"REVVVVV!!!!!!" Panggil Revan dengan suara super kerasnya. Reva yang tadinya hendak tidur jadi terganggu. Tapi sekalipun terganggu ia masih enggan untuk bangun.


"WOIIIII, REV!!!!"


Astaga!!!


Reva berusaha untuk bangun sekalipun matanya sudah mulai mengantuk. Padahal niatnya hanya ingin berbaring tapi kenapa bisa sampai mengantuk seperti ini. Dan apa-apaan Revan itu? Kenapa tiba-tiba memanggilnya setelah mengejeknya.


Kurang kerjaan sekali, tutuk Reva dalam hati.


"Apa?" Jawab Reva dari atas kamar.


"Turun dulu."


"Mau ngapain?"


"Mau keluar, ikut gak?"


Mendengar ajakan keluar, mata Reva yang tadinya mengantuk langsung menjadi segar. Ia segera turun untuk menemui Revan dan memastikan jika pria itu tidak mempermainkan nya kali ini.


"Serius?" Tanya Reva dengan nada antusias.


"Iya," Jawab Revan.


"Oke. Mau kemana?"


"Taman aja deh."


"Oke!!!!!" Reva langsung berlari menuju kamar mandi dan mulai bersiap-siap.