Is My Dream

Is My Dream
Bagian 25



Baik Vano maupun Ratu, keduanya sama-sama melemparkan tatapan tajam. Ratu terpaksa memilih duduk berhadapan dengan pria yang sangat dibencinya itu karena tidak ingin melihat Reva duduk di depannya.


Akhirnya mereka berempat makan dengan suasana yang sedikit mencekam. Tapi tidak berlangsung lama karena Revan dan Ratu sesekali saling menyuapi dan tertawa ringan. Melihat hal itu tentu membuat perasaan Reva tidak enak, tapi tidak ada satupun yang menyadarinya.


"Gak suka makanannya yah?" Tanya Vano saat melihat Reva seperti tidak menikmati makanannya. Nasi goreng yang dipesan hanya diaduk-aduk dan baru sedikit yang masuk ke perut.


Reva menggeleng kemudian menjawab, "Nggak kok."


"Sebentar yah," Ucap Vano kemudian pergi menuju ibu kantin dan kembali dengan membawa sepotong sayap ayam bakar. Kedua mata Reva langsung berbinar dibuatnya. Berbeda dengan Revan yang justru heran.


"K-kok..."


"Tau. Kamu nulis di biodata kamu waktu itu. Makanan favorit, ayam bakar," Potong Vano sambil tersenyum dan menyodorkan piring berisi ayam bakar kesukaan Reva.


Akhirnya Reva menikmati ayam itu dengan semangat. Senyumnya juga terus mengembang dan membuat Vano tidak bisa menahan gemas hingga reflek mengacak puncak kepala Reva.


Melihat hal itu Revan menjadi sedikit aneh, seperti keberatan dengan perlakuan Vano yang berlebihan padahal mereka baru bertemu hari ini. Tapi perlakuannya sudah sedekat itu pada Reva.


Menyadari tatapan Revan pada Vano dan Reva, Ratu pun mencari cara untuk menarik perhatian Revan kembali.


"Sayang... Lihat deh." Ratu menunjukkan layar ponselnya dan memperlihatkan lockscreen dari foto mereka berdua. Revan yang melihatnya langsung tersenyum sambil mengusap rambut Ratu. Kekasihnya selucu itu memasang foto mereka berdua saat berlibur bersama.


Sekarang giliran Reva yang memanas. Mereka berdua, Revan dan Reva seperti sedang adu mekanik.


"Kak, aku udah kenyang." Reva menepuk-nepuk pelan perutnya. Menunjukkan pada Vano bahwa perutnya sudah benar-benar penuh. Melihat itu, Vano terkekeh kemudian mengajak Reva berdiri menuju ibu kantin untuk membayar makanan mereka.


"Van, punya lo udah sekalian gue bayar. Nantian aja gantinya, gua buru-buru."


"Mau kemana?" Revan ikut berdiri sambil menenteng tasnya.


"Ada urusan sama anak-anak yang lain." Vano menatap Reva yang terus berdiri di sampingnya. "Dan Reva juga ikut gue. Tenang aja, nanti gua yang ngantar dia pulang," Lanjutnya kemudian pergi.


"NANTI KETEMU DI SECRET ROOM YAH," Teriak Revan dan mendapat anggukan dari jauh oleh Vano.


"Mau ngapain ketemu dia?" Ratu melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak suka jika Revan masih terus bergaul dengan Vano, padahal pertemanan mereka sudah sangat lama bahkan sebelum Revan mengenal Ratu. Jadi tidak mungkin karena Ratu, Revan harus melepaskan Vano sahabatnya sendiri.


Tanpa menjawab pertanyaan Ratu, Revan langsung pergi lebih dulu.


...****************...


Begitu selesai dengan urusannya, Vano dan Reva segera menuju secret room seperti yang diminta oleh Revan. Sesampainya di sana kedua mata Reva langsung memutar untuk mengamati ruangan yang menjadi tempat favorit dari suaminya. Tidak begitu besar dan terlihat sedikit kumuh, ada banyak barang tidak terpakai di sana dan yang paling dibenci Reva adalah banyaknya debu di mana-mana.


"Ini kok banyak debu yah?" Tanya Reva sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.


"Memang udah jarang dirawat sama Revan. Gak tau deh kenapa, mungkin karena stress?"


"Stress?"


Vano mengangguk. "Sejak nikah sama lo kan?"


Reva akhirnya terdiam. Memang benar, pasti semenjak pernikahan mereka suasana hati Revan jadi tidak sebaik sebelumnya. Sampai untuk melakukan beberapa hal akan terasa membosankan.


"Tapi gakpapa. Gue sama yang lain ada inisiatif lagi buat ngeberesin ini setelah ospek selesai." Vano tersenyum menepuk bahu Reva.


"Kok dilempar?" Reva tentu saja tidak suka dengan kelakuan Revan barusan.


"Kenapa?"


"Kenapa? Gak sopan!"


"Salah sendiri asik ngobrol sampai gak nyadar ada orang lain yang datang."


Revan mengambil kembali tasnya dan meletakkannya di atas meja.


"Tapi gak harus sampai kayak gitu juga."


"UDAH!" Vano merentangkan kedua tangannya memberi batasan untuk Revan dan Reva agar tidak melanjutkan perdebatan.


Jika bukan karena Vano selaku senior yang membimbingnya selama ospek berlangsung, Reva pasti masa bodoh dan terus melawan Revan. Hatinya sudah terlanjur panas saat berada di kantin dan sekarang masih terbawa setiap kali melihat Revan hatinya seperti ingin terus marah.


"Van, kita ketemu di sini buat bahas soal lo sama Reva. Jadi baiknya gimana?" Vano mulai membuka obrolan yang seharusnya mereka bahas sejak tadi.


Revan terdiam sesaat untuk memikirkan lagi jawaban yang baik dan pas.


"Gimana kalau pakai alasan gue dekat sama Reva karena Reva itu anak dari sahabat bokap gue," Usul Revan.


Sekarang giliran Vano yang nampak berpikir kemudian mengangguk setuju. "Dan bokapnya Reva minta lo buat ngawasin anaknya karena kalian satu kampus," Sambung Vano.


"Benar! Udah, segitu aja cukup."


Obrolan mereka akhirnya ditutup dengan Reva yang hanya diam menganga layaknya orang bodoh. Dirinya seperti tidak dianggap, lalu untuk apa ia di sini? Revan dan Vano bahkan tidak meminta usulan darinya.


"Gitu aja?" Tanya Reva.


"Iya, kenapa? Gak setuju? Mau orang tau kamu itu istri aku?" Revan bertanya dengan nada yang cukup sewot.


"Gitu amat nanyanya?"


"Gak tau hari ini kok aku kesal yah lihat kamu."


Mendengar ucapan Revan membuat tangan Reva terkepal dan hendak melayangkan tinju ke wajah Revan andai saja Vano tidak menahan lengannya.


"Udah, ini kalian kenapa jadi berantem terus sih?" Tanya Vano yang mulai kebingungan mengatasi pasutri yang ada di depannya.


"Gak tau. Tiba-tiba aku malas banget di sini. Hawanya jadi panas gitu, " Gerutu Reva kemudian melangkah keluar begitu saja mengabaikan Vano yang terus berteriak memanggilnya agar kembali.


Reva pergi dengan perasaan yang amat sangat kesal. Mulutnya terus mengomel tidak jelas dan untung saja tidak ada satupun mahasiswa yang melihatnya karena secret room memang jauh dari keramaian.


Mungkin?


Tapi dari jauh tanpa siapapun sadari, ada Ratu yang tengah tersenyum melihatnya. Ratu berpikir pasti Revan dan Reva baru saja bertengkar di dalam sana. Walau tidak bisa mendengarkan apa yang mereka katakan, tapi dengan melihat ekspresi wajah Reva barusan saat keluar dari ruangan itu, Ratu sudah bisa menebak apa yang terjadi.


"Ketebak sih. Kayaknya anak itu beneran udah mulai suka sama Revan. Awas aja, dia gak tau lagi berhadapan sama siapa," Gumam Ratu disertai senyum liciknya.