Is My Dream

Is My Dream
Bagian 15



Reva terbangun dan merasakan tubuhnya sedikit sakit. Seperti orang yang sudah berolahraga seharian dan setelah bangun tubuhnya seperti akan patah. Dengan hati-hati Reva duduk dan mulai meregangkan otot-ototnya. Bahkan untuk bangun pun rasanya sulit, punggungnya sakit.


Sejenak Reva memikirkan apa yang membuatnya jadi demikian. Lalu setelah menemukan jawabannya, Reva segera bangkit melepaskan selimut, mengikat rambutnya dengan asal, lalu memakai sandal dan keluar kamar. Melupakan rasa sakitnya dengan berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga menuju kamar Revan.


Setibanya dikamar Revan, Reva langsung mendekat dan menyentuh keningnya. Demamnya sudah menurun, kondisinya sudah lebih baik dari semalam. Ya, sepanjang malam Reva terjaga untuk merawat Revan. Tubuhnya begitu panas dan beberapa kali bermimpi buruk. Reva tidak tega jadi memutuskan untuk menjaga Revan dengan duduk dipinggir ranjang tanpa beralaskan apapun. Dinginnya lantai mungkin membuat Reva ikut terkena demam sekarang. Badannya jadi sakit semua.


"Kompresannya bekerja, syukurlah."


Reva keluar kembali untuk menyiapkan bubur serta obat. Setelah bangun, Revan harus meminum obatnya.


"Aku bangunin aja mungkin yah?" Reva menatap jam dinding dan sudah menunjukkan jam 9 pagi. Revan terlalu lama tertidur, mungkin karena efek mimpi buruk yang mengganggu tidurnya. Dibangunnya tidak tega, tidak dibangunkan juga kasihan. Revan harus minum obat agar demannya tidak naik lagi "Yaudah bangunin aja," Ucapnya kemudian membawa nampan menuju kamar Revan.


Didalam sana ternyata Revan sudah bangun dan duduk bersandar pada headboard. Perasaan gugup dan canggung membuat Reva tidak bisa berkata-kata. Hanya meletakkan nampannya di atas nakas.


"Ini apa?" Tanya Revan yang heran karena Reva tiba-tiba datang membawa bubur dan obat namun tidak mengatakan apa-apa.


"Emmmm, itu obat. Obat kamu."


"Aku sakit?"


Reva mengangguk "Kamu makan gih. Biar demanya gak naik lagi."


Revan terdiam cukup lama. Berusaha mengingat apa yang terjadi dan dalam beberapa detik akhirnya sadar Reva sudah merawatnya sepanjang malam. Revan melihat itu semua tapi sulit untuk sekedar berbicara. Jadi ia membiarkan Reva melakukan apa yang bisa dilakukan, yaitu merawatnya.


Mengambil makanannya, Revan mulai memasukkan bubur itu ke mulutnya sedikit demi sedikit "Makasih buat yang semalam," Ucapnya disertai senyum tipis. Membuat Reva ikut tersenyum sambil mengangguk.


"Udah seharusnya. Cuma ada kamu dan aku di sini."


"Oh iya, Ratu gak ada telepon dari semalam?"


Oh Tuhan, bisa-bisanya setelah memberikan senyum, Revan membuat senyum itu kembali memudar. Reva langsung memasang wajah datarnya dan menggeleng.


"Bagus deh."


"Penting banget yah?" Pertanyaan Reva membuat Revan menghentikan kunyahan nya.


"Yaiya...."


"Kamu pikirin dulu kesehatan kamu baru mikirin orang lain."


"Loh? Kan pacar...."


"Baru pacar kan? Kayak abg baru jatuh cinta aja." Reva mengibaskan rambutnya lalu berjalan keluar meninggalkan Revan. Cukup untuk membuat Revan ternganga, nyaris menjatuhkan bubur di mulutnya.


Selesai memakan bubur, Revan langsung meminun obat yang Reva berikan. Perasaannya juga sudah lebih baik dari pada semalam. Senyum tipis tercetak dibibirnya, mengingat bagaima Reva begitu sabar merawat dirinya.


Apakah Revan harus menjadi lebih baik sekarang? Tapi rasanya ia sudah lebih baik, meski sesekali masih memasang wajah kurang suka. Lagi pula pernikahan mereka baru seumur jagung, masih wajar jika Revan masih menyimpan rasa kesalnya.


"AKU MAU KELUAR." Sibuk-sibuknya Revan berdialog dalam hati, kepala Reva tiba-tiba muncul dibalik pintu. Menampilkan cengiran khasnya saat berpamitan untuk keluar. Pekerjaan rumahnya sudah selesai, kondisi Revan juga sudah lebih baik. Reva berencana keluar bersama temannya tapi tidak akan lama. Izinnya hanya akan dua jam diluar.


"Yaudah sana. Hati-hati."


"Siap, hehe...." Reva langsung bergegas naik ke kamar dan bersiap-siap. Melihat tingkahnya yang selucu itu Revan berusaha menahan senyum, sesekali menggeleng. Benar-benar seperti anak kecil, katanya.


Reva menatap penampilannya dari pantulan cermin. Memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri sampai menemukan titik kepuasan yang ia cari, yaitu kecantikan. Hari ini Reva dan Putri berencana untuk bertemu dan berjalan mengelilingi taman. Sudah cukup lama mereka tidak menikmati waktu bersama, berbagi cerita dan tentunya pasti ada banyak cerita yang sudah Putri simpan sejauh ini. Gosip-gosip yang kadang tidak berguna tapi kasih seru untuk dibicarakan.


Begitu selesai dengan urusan, Reva langsung mengambil tasnya dan segera turun. Ternyata dibawah sana sudah ada Revan yang duduk diruang tamu sambil memutar siaran televisi kesukaannya. Mulutnya sibuk mengunyah snack tortilla dan begitu melirik kearah Reva, snack yang ada di mulutnya nyaris terjatuh. Ternganga melihat penampilan Reva hari ini.


Dress dibawah lutut dengan motif bunga. Warnanya yang segar menyatu dengan kulit putihnya. Rambut dibiarkan jatuh tergerai, akan beterbangan saat diterpa angin. Mata Revan juga langsung terfokus pada kalung yang Reva pakai, itu adalah hadiah pertama yang ia berikan saat pernikahan.


"Itu ngapain bajunya begitu? Bahu kelihatan sana-sini."


"Yah gakpapa, orang cantik juga."


Revan segera bangkit dari duduknya, berlari ke atas kamar meninggalkan Reva yang terheran-heran. Tidak lama kemudian turun membawa blazer lalu menutupi bagian atas Reva. Hal itu tentu membuat perasaan aneh lagi-lagi muncul.


"Jangan aneh-aneh, kamu masih kecil."


Sebelum kembali ke kamarnya, Revan terlebih dulu melemparkan tatapan tajam. Seolah mengancam akan menghabisi Reva jika Reva berani berbuat macam-macam diluar sana.


"Idih, kamu aja biasanya macam-macam sama Ratu. Kok ngatur aku," Ucap Reva, sedikit berteriak sengaja memperdengarkan Revan.


"Aku udah gede, kamu masih kecil."


Balasan Revan membuat Reva merasa geli. Persetan dengan muda atau tua, tetap saja itu adalah hal yang salah. Revan dengan pintarnya melarang tapi lupa jika dirinya lah yang justru melakukan itu.


Reva juga masih ingat betul hari saat di mana ia membawa Revan pulang dari rumah Ratu. Bayangan apa saja yang bisa terjadi saat itu kembali berputar dikepala. Lagi-lagi Revan bergidik ngeri. Orang-orang terkadang pandai memberi peringatan tetapi lupa untuk memperingatkan dirinya sendiri.


"Taudeh, aku mau keluar. Kamu telepon aku kalau kurang sehat."


Sudah tidak ada jawaban, Reva langsung keluar membawa kunci cadangan. Karena rencana awal Putri akan membawa mobil, Reva hanya perlu menunggu dijemput. Rasanya tidak sabar untuk bergosip dengan Putri.


Sekitar 15 menit menunggu, suara klakson mobil mengagetkan Reva yang sibuk bermain ponsel sambil duduk di teras rumah. Akhirnya Putri sudah datang, mereka akhirnya langsung meluncur pergi meninggalkan Revan yang mengintip kepergian mereka dari jendela.