Is My Dream

Is My Dream
Bagian 21



Revan saat ini berada di halaman belakang kampus. Berdiri sendirian dan sesekali memeriksa ponselnya. Berharap Ratu segera menghubunginya lagi setelah mengajaknya bertemu tadi pagi. Namun ini bahkan sudah satu jam lamanya dan Ratu belum juga muncul. Merasa dipermainkan, Revan membenarkan letak tas di pundaknya dan bersiap untuk pergi.


"Sayang," Panggil Ratu saat Revan sudah mulai menjauh.


Mendengar namanya dipanggil, Revan segera kembali dengan suasana hati yang memburuk. Sebenarnya ia juga merindukan kekasihnya itu, hanya saja belum siap untuk berdebat lagi dan membuat masalah justru semakin membesar. Revan tahu betul karakter Ratu.


Hening.


Mereka berdua terdiam cukup lama. Revan tidak berniat membuka suara dan hanya berdiri berhadapan dengan Ratu, menunggu agar Ratu lebih dulu membuka percakapan karena pertemuan ini juga atas keinginannya.


Dan akhirnya Ratu yang tadinya menunduk mulai mengangkat wajahnya menatap Revan.


"Maaf," Ucapnya. Namun Revan masih menunggu kelanjutan dari permintaan maaf itu.


"Tapi ini juga salah kamu. Seharusnya gak usah bawa bekal itu demi menghargai aku."


Tidak semua, tapi beberapa gadis memang seperti ini ketika meminta maaf. Akan ada kata 'tapi' dan tetap pria yang ikut salah.


Menarik napas dalam-dalam, Revan memejamkan kedua matanya dan menyentuh kedua pundak Ratu, membawa gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat. Ratu membalas pelukan Revan dengan senyum yang begitu lebar. Ia merindukan Revannya padahal baru kemarin mereka tidak saling mengabari.


"Udah belum sih?"


"Ck, sabar... Nah udah." Aren mematikan rekamannya dan memasukkan ponselnya kesaku.


"Heran. Malas gak sih disuruh begini sama Ratu?"


Aren mengangguk polos "Heran, aku juga heran. Tapi katanya video ini nanti dikirim ke Reva kan? Kamu ada kontaknya gak?"


Devi yang tadinya fokus menyaksikan adegan berpelukan antara Revan dan Ratu langsung menatap Aren. Kecurigaannya ternyata benar, Ratu sengaja meminta mereka diam-diam merekam agar rekaman itu bisa dikirim ke Reva. Rencana yang begitu kuno dan terlalu mudah ditebak.


Lagipula untuk apa mengirim video itu ke Reva sementara Reva sendiri tidak akan peduli. Pernikahannya hanya didasarkan perjodohan dan bahkan sudah tahu Revan memiliki kekasih.


Ratu memang berlebihan, hanya karena Reva memberi kotak bekal pada Revan ia langsung membuat heboh seisi kantin bahkan sampai melibatkan Vano. Sekalipun mereka bertiga adalah teman dekat, Devi terkadang tetap tidak setuju dengan beberapa kelakuan Ratu. Mungkin karena dirinya masih bisa berpikir dengan baik dibandingkan Aren yang memang polos dan sedikit bodoh.


"Ayo balik. Bentar lagi kelas mulai." Devi menarik tangan Aren agar segera pergi.


Tinggallah Revan dan Ratu yang masih berpelukan tanpa berniat melepaskan satu sama lain. Tapi karena kelas akan segera dimulai, mereka akhirnya saling melepaskan pelukan. Ratu tertawa dan Revan tersenyum, mereka akhirnya bergandengan menuju kelas.


Saat berjalan melewati koridor, beberapa mahasiswa terlihat berbisik dan mulai membicarakan mereka. Revan menyadari itu, bahkan mendengar bisikan yang mengatakan jika dirinya sangat bodoh. Bodoh karena masih mau bertahan pada orang seperti Ratu. Satu tangannya terkepal kuat dan rahangnya mengeras. Namun saat merasakan ibu jari Ratu mengusap lembut punggung tangannya, emosi Revan seketika redup.


"Biarin. Kita ke kelas aja," Ucap Ratu dengan lembut disertai senyum yang membuat Revan ikut tersenyum.


Mengabaikan segala macam bisikan itu, Revan dan Ratu mempercepat langkah mereka, walau sebenarnya Ratu sangat ingin mengumpat. Rasanya ingin merobek mulut para manusia tidak berguna itu. Andai saja dirinya sedang tidak menjaga image di depan Revan, sudah pasti Ratu akan berteriak keras meminta mereka membungkam mulut. Benalu sialan, umpat Ratu dalam hati.


Kelas berakhir dan Revan langsung berjalan ke parkiran bersama Vano.


Vano sendiri sudah tahu kalau Revan dan Ratu sudah berbaikan. Berita tentang mereka begitu cepat tersebar. Bukan karena mereka bintang kampus atau seorang idola, tapi karena mereka adalah sumber gosip-gosip buruk yang mengundang banyak rasa penasaran dan menjadi keseruan untuk dibahas, bahan 'julid' maksudnya.


Setibanya di parkiran, Vano langsung masuk ke mobilnya dan pamit lebih dulu. Tinggallah Revan yang menunggu Ratu untuk pulang bersama seperti biasa.


Mereka berdua akhirnya pulang bersama dengan Revan yang mengantarkan Ratu pulang lebih dulu ke rumahnya. Selesai mengantarkan Ratu pulang, Revan langsung pamit.


Kepergian Revan membuat senyum Ratu perlahan memudar. Mengetahui Revan pulang ke rumah yang mana di sana ada Reva saja sudah cukup membuat hatinya memanas. Entah kenapa dengan Reva, Ratu merasa amat sangat kesal dan cemburu. Seperti merasakan jika Reva adalah saingannya yang sesungguhnya dari sekian banyak gadis yang mengincar Revan.


Ratu meraih ponselnya dan mulai mengirim pesan pada Aren. Setelah mendapat balasan ia kembali tersenyum.


Walaupun rencananya membuat Reva memanas dengan video tadi tidak berhasil, setidaknya ia sudah mencoba. Mungkin saja kecurigaannya benar kalau Reva mulai tertarik pada Revan. Siapa yang tidak akan tertarik pada pesona Revan yang selain tampan, juga perhatian.


"Aku gak akan tinggal diam kalau kamu beneran melewati batas, Reva," Gumam Ratu dengan tatapan tajamnya.


Revan memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah dengan suasana hati yang baik. Senyumnya terus terpancar, sampai tidak menyadari keberadaan Reva di teras.


"cieee yang baikan," Sindir Reva mengikuti Revan masuk kedalam rumah.


Revan menghentikan langkahnya dan berbalik. Menatap Reva penuh curiga. Dari mana anak itu tahu dirinya sudah berbaikan dengan Ratu?


"Tau dari mana?" Tanya Revan penasaran.


"Gak tau. Ada mata-mata yang gak digaji. Baik banget ngasih info gak penting ini ke aku." Reva menunjukkan ponselnya dan Revan langsung melihat sebuah pesan yang mengirimkan video dirinya dan Ratu sedang berpelukan di halaman belakang kampus.


Revan merampas hp Reva dan memutar videonya terus-terusan. Melihat hal itu Reva jadi geli sendiri.


"Ini dari siapa?"


"Mana aku tau. Mata-mata kamu kali." Reva mengambil kembali hpnya "Nih yah bilangin, gak usah ngirim video kayak gitu lagi. Gak penting, penuhin penyimpanan orang aja."


Reva melirik Revan dengan sinis, mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah Revan.


"Dasar bucin," Ejek Reva.


Merasa tidak terima, Revan memutar pandangannya keseluruh ruangan mencoba mencari benda yang cocok melayang kearah Reva.


"Bucin... Bucin... Bucin..." Reva semakin semangat mengejek Revan. Walau sebenarnya ia sendiri merasa sesak dan menutupi perasaan itu dengan senyumnya.


"REVA!!!"


"Revan bucin."


"Gak bucin."


"Memang bucin. Kemarin aja galau-galauan, hari ini udah pelukan brutal."


Reva memeletkan lidahnya dan segera berlari ke kamar, meninggalkan Revan yang berusaha menahan emosi.


"Mama gak seharusnya ngurung aku di sini sama anak tk."