Is My Dream

Is My Dream
Bagian 28



Reva menyusun beberapa buku kedalam tasnya dengan kecepatan kilat, karena di luar sana Revan tidak berhenti berteriak memintanya agar cepat-cepat dan mereka harus segera berangkat. Sambil menyusun buku, Reva juga sekalian mengomel karena tumben sekali Revan sangat terburu-buru seperti ini. Biasanya selalu kesiangan bahkan ketika Reva menyuruhnya berangkat lebih cepat.


Sebenarnya yang membuat Revan menunggu terlalu lama adalah karena Reva terlalu lama memilih outfit yang bagus untuk kekampus, katanya yang sedang tren. Orang-orang pasti tahu bagaimana rempongnya perempuan saat memilih pakaian dan berdandan, walaupun make-up Reva terlihat naturan tapi jangan salah, itu tetap akan memakan waktu yang lama.


Revan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia bersandar dipintu mobil sambil menunggu Reva yang entah sedang apalagi di dalam. Revan sudah memberinya kesempatan 30 menit tapi ini apa? Ini sudah hampir satu jam.


Merasa mulai kesal, Revan pun kembali masuk ke dalam dan mendapati Reva tengah berdiri disamping colokan.


"Loh? Ini ngapain?" Revan menghampiri Reva dan menyentuh kabel casnya.


Reva cengengesan, menggaruk lehernya dengan jari telunjuk. "Aku lupa ngecas semalam, bisa kasih waktu 20 menit lagi gak?"


Tak!


Revan menghadiahkan satu sentilan kedahi Reva. Membuat Reva meringis mengusap dahinya sambil melempar tatapan tajam.


"Sakit!" Keluh Reva, bersiap menerkam Revan.


"Kamu hidup di era apa? Kan bisa ngecas dimobil atau tuh ambil powerbank di kamar."


Revan menarik kabel cas Reva dan berjalan keluar, diikuti Reva yang tersenyum tidak enak karena lupa kalau jaman sekarang orang-orang sudah bisa menggunakan charger dimobil.


Reva benar-benar seperti anak kelahiran 90an saja.


Mereka akhirnya berangkat setelah Revan harus menguras waktunya menahan emosi. Di liriknya Reva yang terus menatap keluar jendela, pasti untuk mengalihkan rasa malunya atas kejadian tadi. Revan menghela napas, ini karena dosen yang memintanya bertemu. Kalau bukan, Revan tidak akan merasa terdesak seperti ini.


Tahun ini akan menjadi tahun terakhirnya sebagai seorang mahasiswa dan tentu membutuhkan banyak kesibukan. Untung saja ada Vano, si otak emas yang selalu membantunya mengurus apapun terutama untuk urusan nilai.


Bukan. Bukannya Revan tidak pintar. Hanya saja terlalu malas. Kalau kata Vano, efek bucin. Sebab setelah mengenal Ratu, prestasinya jadi menurun. Tentu saja itu tidak baik untuk hasil akhirnya nanti. Bisa-bisa ayah Revan tidak akan mempercayakan anaknya bisa memegang kendali perusahaan.


Setelah menempuh perjalanan yang untungnya tidak begitu panjang, mereka berdua akhirnya sampai walau tidak tepat waktu. Setibanya diparkiran Revan meminta Reva untuk masuk lebih dulu karena ia akan memarkirkan mobil. Reva dengan patuh keluar dari mobil dan tidak menyangka bertemu Vano yang juga saat itu sedang berada diparkiran dengan motor kesayangannya.


Vano melambaikan tangannya kearah Reva sambil tersenyum, ia kemudian menghampiri Reva dan mengajaknya masuk bersama.


"Harusnya kalau kamu belum mau berangkat bisa nyuruh Revan duluan aja. Kan yang punya urusan dia. Nanti bisa minta tolong aku buat Jem... Auhhh, aduh duh... Sakit woi." Ucapan Vano terpotong. Tidak tahu dari arah mana Revan tiba-tiba muncul lalu mencengkram belakang leher Vano. Membuat Vano merintih sambil berjalan menuju kelas bersama Revan.


Reva dibuat tertawa dengan tingkah persahabatan antara Revan dan Vano. Tapi tawa itu tidak berlangsung lama karena di depan sana sudah ada Ratu yang berdiri sambil bersedekap. Tidak lupa tatapan tajamnya yang seperti ingin menusuk kedua mata Reva.


Revan dan Vano berhenti tepat di depan Ratu, Vano mengangkat wajahnya kemudian meregangkan otot lehernya yang terasa kaku akibat cengraman yang tidak berperikemanusiaan dari Revan.


"Kok cepat banget datangnya? Kan aku bilang gak usah," Ujar Revan sambil menyelipkan rambut Ratu kebelakang telinganya.


Ratu tersenyum tipis. "Gakpapa, aku aku kangen."


Mendengar ucapan Ratu barusan, Vano mendadak ingin memuntahkan seluruh sarapan paginya. Menggelikan sekali. Diraihnya lengan Reva lalu mengajaknya pergi bersama dari pada melihat pemandangan yang sama sekali tidak menguntungkan mereka. Juga, Vano tahu betul meskipun tidak ada cinta di antara Revan dan Reva, Reva tetaplah seorang istri yang bisa kesal melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain. Revan saja yang sangat bodoh karena tidak sadar diri. Atau hanya pura-pura tidak sadar.


Melihat Vano menggenggam lengan Reva dan membawanya pergi, Revan hendak menyusul tapi Ratu menahannya dan akhirnya mereka pergi berlawanan arah.


Sekarang Reva sedang berada di taman bersama Vano sambil memakan eskrim yang mereka beli dikantin. Semilir angin menerbangkan rambut tipis Reva dan Vano terkekeh saat rambut itu tanpa sengaja terkena eskrim dan kotor. Reva tentu saja merengek, ingin membersihkan tapi tangan satunya memegang eskrim sementara yang satunya lagi juga kotor karena eskrim. Beruntung Vano peka dan berbaik mengambil tissue ditasnya dan membersihkan rambut Reva.


"Tunggu bentar yah, aku ke depan dulu," Pamit Vano kemudian berlari menghampiri seorang gadis yang sedang duduk di rerumputan sambil membaca buku.


"Dek, ada karet ikat rambut gak?" Gadis itu menatap Vano lalu mengangguk dan mengambil karet di dalam tasnya.


Vano kaget. Apa semua gadis memang menyiapkan hal-hal seperti ini? Mulai dari beberapa makeup, parfum, sampai ikat rambut juga tersedia. Tas mereka benar-benar multifungsi.


Setelah berhasil mendapatkan ikat rambut, Vano kembali menghampiri Reva dan membantunya mengikatkan rambutnya. Tentu saja perlakuan Vano membuat Reva gugup, jatungnya berdetak tidak karuan. Ia takut jika maba lain sampai melihat dan menganggapnya dispesialkan oleh senior. Bisa-bisa tidak hanya dirinya tapi juga Vano yang terkena masalah.


Buru-buru Reva menjauhkan kepalanya dari Vano lalu berterima kasih karena sekarang rambutnya sudah terikat sempurna. Sepertinya Vano sangat mahir untuk hal ini.


"Kakak bisa ngikat rambut?" Reva mencoba mencari topik untuk mengalihkan rasa gugupnya.


"Bisa. Kan punya adik yang udah SMA. Manja banget dan yah gitu, suka minta diikatin rambutnya," Jawab Vano yang tahu jika perlakuannya barusan pasti masih sedikit canggung untuk Reva. Salahnya juga selalu melakukan hal yang tiba-tiba dan tidak terduga.


Reva melihat jam di ponselnya, sudah hampir satu jam mereka duduk di taman kampus tapi Revan belum juga mengabari apakah urusannya di sana sudah selesai atau belum.


"Paling udah. Cuma lagi berduaan sama Ratu. Kalau udah berdua suka lupa waktu," Ujar Vano yang tahu kemana arah pikiran Reva.


Reva mengangguk lalu tersenyum "Yaudah deh, aku juga mau sekalian ke kelas, udah siang. Makasih eskrimnya kak." Reva langsung berlari menuju kelasnya.


Tinggal Vano sendirian, memikirkan betapa manisnya tingkah Reva setiap kali mereka bersama. Menyadari pikirannya barusan, Vano dengan cepat menggeleng. Tidak, ia tidak boleh memikirkan orang lain seperti itu. Reva adalah istri sahabatnya.


"Sadar Van," Gumam Vano.