
Sudah satu bulan berlalu pasca kejadian yang menimpa Ratu waktu itu keadaan mulai menjadi lebih baik. Tidak ada lagi terror selanjutnya. Meskipun Ratu masih selalu emosi setiap kali melihat Reva, setidaknya emosi itu tidak sebesar sebelumnya di mana Ratu selalu menyalahkan Reva untuk hal kecil sekalipun.
Hari ini Ratu berada di rumah Revan atas permintaan Revan sendiri. Sebelumnya sudah ada izin dari Reva dan Reva walau berat hati tetap mengizinkan. Bagaimanapun Reva sudah berjanji untuk tidak ikut campur dihubungan Revan.
"Ratu udah dijalan. Aku boleh minta tolong siapin dia cemilan gak?" Pinta Revan, wajahnya sedikit memelas.
"Kok aku?" Reva merasa keberatan. Yang punya tamu kan Revan kenapa harus dirinya yang repot. Lagipula tamu itu kekasih Revan.
Revan menyatukan kedua telapak tangannya. "Please, aku mau ke kamar mandi. Udah kebelet banget dan Ratu udah di depan..."
Tin....
Suara bell terdengar. Keduanya melihat kearah pintu utama. Revan yakin kalau itu pasti Ratu. Wajahnya kembali memelas, memohon dengan sangat agar Reva mau membantunya walau berkesan kurang ajar meminta istri melayani pacar dari suaminya.
Memutar kedua bola mata dengan malas, Reva berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Mengeluarkan beberapa botol minuman dan menyiapkan snack yang sudah ia stok dari minggu lalu. Tentu saja dengan uangnya sendiri, bukan Revan. Tapi malah pacar Revan yang harus menikmati.
Ya Tuhan, Reva nyaris menjerit kalau saja dirumah ini hanya ada ia dan Revan.
Reva menyimpan nampannya diatas meja ruang tamu lalu berjalan ke pintu dan membukanya. Nampak Ratu yang berdiri membelakangi.
"Masuk. Revan lagi di kamar mandi," Ucap Reva.
Ratu berbalik, menatap Revan dengan tatapan merendahkan lalu masuk tanpa permisi. Reva sadar Ratu sangat tidak menyukainya, tapi setidaknya tunjukan sedikit saja sikap sopan ketika memasuki rumah orang lain. Kalau tidak mau permisi, tidak usah menatap sinis.
Reva menyusul dibelakang Ratu dan ternyata sudah ada Revan di ruang tamu. Duduk menyambut Ratu dengan merentangkan kedua tangannya. Mereka kemudian saling berpelukan, membuat Reva memalingkan wajah enggan menatap pemandangan tersebut.
Hatinya sakit, sesak.
"Aku gak mau dia ada di sini." Ratu menunjuk kearah Reva.
Dengan perasaan yang sangat tidak enak, Revan menatap Reva dan memberi kode agar ia naik saja ke kamar.
Ini lebih menyesakkan. Revan bahkan tidak berusaha membelanya di depan Ratu. Setidaknya tegur Ratu untuk tidak berkata seperti itu, jika Ratu masih tetap melakukannya juga tidak apa, yang penting Revan sudah menegur.
Tapi tidak.
Revan selalu memprioritaskan perasaan Ratu. Lagipula siapa Reva? Siapa dirinya untuk Revan jika dibandingkan dengan Ratu?
Kenapa sesakit ini?
Reva tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Rasa sesak ketika kecewa membuat Reva sulit mengambil napas dengan tenang. Revan sudah mengambil peran dihidupnya dan jujur saja Reva membenci perasaan ini. Reva benci ketika dirinya harus jatuh terlalu jauh dikehidupan Revan dan merasa nyaman dengan hal itu.
Reva menangis. Ya, Reva menangis tanpa bersuara. Rasanya lebih sakit. Meremas seprai kuat-kuat, mencoba melampiaskan perasaannya yang tidak berguna. Sangat tidak berguna mengeluarkan air mata hanya untuk pria brengsek seperti Revan.
Revan tidak pernah melirik orang selain Ratu. Revan baik, tapi kebaikannya hanya sebatas itu dan tidak lebih. Ketika seseorang mulai jatuh cinta padanya, ia harus merelakan hatinya hancur. Dan Reva adalah korban.
"Sakit banget, Van." Reva membekap mulutnya sendiri. Bahkan setan pun tidak ia biarkan mendengarnya.
...****************...
Saat ini Revan mungkin bersama Ratu, tapi pikirannya mengikuti Reva. Rasa tidak enak terus menggerogoti hatinya, menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengikuti keinginan Ratu. Reva pasti kecewa, Revan yakin itu. Tapi disisi lain dirinya tidak bisa membiarkan Ratu marah.
Dilema, tentu. Kaki Revan sejak tadi bergerak antara pergi atau tidak untuk menemui Reva. Sejak tadi Ratu berceloteh, menceritakan banyak hal yang tidak penting. Ini mungkin salah, tapi jika dibandingkan dengan Reva, Revan merasa topik bersama Reva jauh lebih baik. Tidak ada yang membosankan, walau Revan harus mendengarkan cerita yang sama dari Reva berkali-kali, atau sudah mendengarkan cerita itu dari orang lain. Rasanya beda, ketika Reva bercerita suasana menjadi lebih ramai. Suaranya tertawa tidak seperti Ratu yang berkesan dibuat-buat. Reva juga memiliki mata bulan yang ketika tertawa sangat menggemaskan.
Baiklah, Revan salah. Sangat salah membandingkan keduanya. Tapi bukan berarti Revan ingin menjelekkan Ratu.
"Hah?"
"Tidur sama Reva?"
Revan menggeleng. "Jangan memancing huru hara. Aku tidur di ruang tamu."
"Gak mancing. Tapi awas aja kalau tidur bareng dia."
"Mau mukul aku?"
"Nggak.Tapi Reva," Jawaban Ratu yang disertai senyum penuh arti membuat Revan bungkam. Semoga Ratu tidak serius dengan ucapannya barusan.
Mereka berdua akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan bercerita lalu menonton. Sesekali memakan cemilan yang sudah Reva siapkan. Melihat cemilan itu lagi-lagi Revan merasa bodoh karena membiarkan Reva yang menyiapkan semuanya. Mungkin Reva tidak cemburu, tapi cukup membuat ia merasa tidak dihargai sebagai seorang istri.
Sudah berapa kali Revan berbuat semaunya? Padahal Reva tidak pernah melakukan itu.
"Sayang, udah mau malam. Aku mau pulang dulu."
Ratu meraih tasnya dan menggenggam tangan Revan agar menemaninya berjalan sampai ke depan pintu setelah itu pamit dengan mengecup kedua pipi Revan. "Aku pulang," Pamit Reva.
Revan tersenyum. Mengacak-acak puncak kepala Ratu penuh kasih sayang. "Hati-hati. Kabari aku kalau udan sampai, ingat?"
"Pasti." Ratu tersenyum lalu pergi.
Sekarang tinggal Revan, dan tentunya Reva yang ada di atas sana.
"Apa aku lihat aja yah?" Revan bergelut dengan pikirannya antara ke atas atau tidak. Tapi Revan juga penasaran apa yang Reva lakukan sejak tadi. Apa mungkin tidur? Bisa jadi.
Revan langsung bergegas menuju kamar Reva untuk memeriksanya. Dan begitu tiba di depan pintu tangannya mulai bergerak memutar knob, nampak lah Reva yang sedang duduk bersandar pada headboard sambil bermain hp. Terlihat lebih santai. Syukurlah, batin Revan.
"Rev," Panggil Revan.
Reva mengangkat kepalanya, menatap Revan lalu kembali fokus pada ponselnya. Tidak menyahut sama sekali.
"Hmmm. Udah makan belum?" Revan mencoba sekali lagi.
"Udah." Dan berhasil, Reva menjawab pertanyaannya.
"Makan apa?"
"Makan hati. Udah deh. Ngapain sih di sini, kan punya kamar sendiri."
Reva berdiri, berjalan kearah Revan dan mendorongnya agar keluar dari kamarnya. Revan jelas memberontak tapi entah kenapa kekuatan Reva justru mengalahkannya. Mungkin karena pengaruh emosi?
"Rev, maaf. Gak bermasud."
"Riv, miif. Gik birmiksid. Nyinyinyi."
Akhirnya Revan berhasil terdorong keluar bersamaan dengan Reva yang langsung menutup pintu kemudian menguncinya. Mengabaikan teriakan Revan yang terus memintanya membuka pintu.
"Rasain," Batin Reva.