Is My Dream

Is My Dream
Bagian 7



Perkataan Putri masih terngiang jelas dipikiran Reva. Tentang Ratu yang mungkin akan terus menjadi benalu jika tidak segera dicegah. Tapi Reva tidak tahu harus melakukan apa.


"Aku kok segininya yah sama Revan? Lagian yaudah mau dia gimana juga terserah. Kenapa aku harus sibuk mikirin kebaikan hubungan ini?"


Reva heran dengan dirinya sendiri. Dia tidak menyukai Revan sejak awal mereka bertemu, tapi kenapa dirinya bertindak seolah ingin mempertahankan pernikahannya. Reva seharusnya sadar jika Revan telah merenggut mimpinya. Reva juga harus sadar, dibalik pikirannya ingin membuat Ratu menjauh, ada Revan yang justru ingin Ratu terus berada disisinya.


Dan Reva lah yang harus pergi sejak awal.


Reva tersenyum miris memikirkan dirinya sendiri. Ia ingin membuat Ratu menjauh bukan karena ia cemburu, melainkan karena merasa tidak dihargai sebagai seorang istri dan sesama wanita. Diluaran sana pasti ada beberapa orang yang sekalipun tidak mencintai suaminya, ia tetap bisa merasa kesal pada setiap orang yang berani mendekati suaminya. Kurang lebih itulah yang Reva rasakan.


"Aku mau keluar..."


Reva menatap Revan yang saat ini berdiri sambil merapikan kemejanya . Reva tidak tahu pria itu akan kemana, tapi sekilas terlintas rasa curiga dihatinya jika Revan akan pergi menemui Ratu.


"Kerumah Ratu?"


"Bukan..."


"Terus?"


"Teman." Revan memberikan tatapan sinis nya pada Reva kemudian meraih kunci mobil diatas meja ruang tamu.


Namun Reva tidak akan percaya begitu saja. Reva langsung bergegas mengejar Revan yang mulai berjalan keluar dan dengan cepat menahan pergelangan tangannya. Suasana rumah kembali memanas, itu karena Revan mulai emosi melihat tingkah Reva yang kekanak-kanakan lagi. Apalagi saat Reva mengatakan bahwa dirinya ingin ikut, tidak bisa dibayangkan bagaimana Revan sangat ingin mengikat Reva jika saja dia bukan seorang perempuan.


Revan sudah menolak berkali-kali, tapi Reva tetap kukuh ingin ikut. Tidak peduli sudah sebanyak apa Revan membentak dan melarangnya, Reva akan tetap berusaha.


Benar kata Putri, Reva tidak boleh kalah oleh Ratu. Jika Ratu ingin bermain, maka Reva juga harus mengikuti permainannya. Lupakan tentang siapa yang lebih dulu mengenal Revan, di sini Reva yang resmi memiliki Revan di mata hukum.


Persetan dengan cinta.


"Yaudah, iya ikut aja," Ucap Revan pada akhirnya. Lebih baik ia mengalah sekarang dari pada harus datang terlambat.


Begitu mendapatkan izin untuk ikut dari Revan, Reva langsung melompat kesenangan. Dalam beberapa detik Revan terpaku melihat senyum Reva yang begitu menggemaskan, namun buru-buru ditepisnya.


"Berangkat sekarang?" Tanya Reva.


"Gak ganti baju?"


"Udah tadi, aku mau pakai yang ini aja."


Revan terdiam menatap Reva dari atas sampai bawah. Hanya baju kaos berwarna putih polos dan celana kulot berwarna coklat. Tidak terlalu buruk menurutnya apalagi untuk malam hari seperti ini. Lagi pula mereka tidak akan datang di acara formal.


"Yaudah kita berangkat."


"Let's Go!!!!" Reva mengangkat tangannya sambil tersenyum lebar. Melihat hal itu Revan hanya bisa menggeleng dan mengelus dadanya dengan sabar. Benar-benar terlihat seperti anak gadis 16 tahun, batinnya.


'Reva paling suka diajak jalan sama papanya. Setiap papanya mau keluar, Reva selalu nunggu didepan mobil biar bisa ikut.'


Diperjalan menuju lokasi, Reva hanya sibuk bermain handphone. Tentu saja hanya bermain hp, apa lagi yang bisa Reva lakukan di dalam mobil bersama pria batu disampingnya? Mengobrol singkat pun sepertinya tidak mungkin, Revan terlalu fokus menyetir.


"Putar musik aja kalau mau," Ucap Revan dengan mata yang masih fokus menatap kearah jalanan.


"Masih jauh gak?"


"Sekitar 5 menit lagi."


Setelah menempuh perjalanan yang sedikit panjang dan Reva yang kini sudah mengantuk, akhirnya mereka berdua tiba di sebuah bangunan besar yang mungkin itulah rumah teman Revan.


Reva berdecak kagum menatap rumah di depannya.


"Ini rumah teman kamu? Kayaknya circle kamu tuh orang berada semua yah?"


Revan mengedikkan bahunya lalu memencet bell rumah dan dari luar Reva sudah bisa mendengar dengan jelas suara beberapa orang yang sedang mengobrol di dalam. Mendadak Reva menyesali keputusannya untuk ikut.


Saat pintu terbuka, nampak lah seorang pria tinggi mengulurkan tangannya pada Revan. Mereka bersalaman ala pria macho dan kemudian mempersilahkan Revan untuk masuk. Reva agak ragu sebenarnya, tapi Revan sudah masuk lebih dulu, jadi ia terpaksa mengekor dari belakang.


Suasana lebih ramai dari yang Reva bayangkan, di mana isi rumah teman Revan ini ada banyak laki-laki dan hanya dirinya yang perempuan. Bahkan satu pembantu pun tidak ada.


"Ini siapa, Van?"


Revan menatap Reva sekilas lalu menjawab, "Istri gue..."


"Oh, jadi ini? Tapi cakep serius. Lebih cakep dari Ratu malah," Cetus salah satu teman Revan yang berhasil membuat pipi Reva bersemu merah.


Revan tidak menanggapi ucapan temannya itu, ia justru lebih asik menikmati minumannya dan berniat pulang cepat. Salahnya juga kenapa mengizinkan Reva untuk ikut disaat dirinya sendiri tahu jika akan ada banyak laki-laki.


Saat semua sibuk mengobrol dan bercanda, tanpa sengaja salah satu di antara mereka berhasil menarik atensi Revan. Revan bisa melihat bagaimana pria itu terus saja menatap Reva dan bahkan Revan bisa merasakan kegelisahan Reva karenanya.


Sepertinya Reva sadar dan risih hanya saja tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Rev, ayo pulang. Udah larut," Ajak Revan. Reva dengan perasaan lega langsung mengiyakan ajakan itu.


"Cepat banget, tinggal dulu lah sejam," Ucap pria yang sejak tadi menatap Reva. Namanya Alvin, salah satu anak dari jurusan yang berbeda dengan Revan. Revan memang tidak begitu akrab dengannya karena banyaknya desas-desus yang mengatakan jika Alvin juga menyukai Ratu.


Entah secara kebetulan atau disengaja, Alvin juga seperti mengincar Reva.


"Gakpapa, kak. Aku memang harus pulang sekarang."


Alvin hendak mendekat dan menyentuh pundak Reva namun dengan cepat Revan menarik Reva agar berdiri tepat disampingnya. Semua orang menyaksikan itu dan paham betul bagaimana Alvin, jadi tidak heran lagi jika hal seperti ini terjadi.


"Gue lagi gak pengen ribut jadi tolong jangan bersikap berlebihan sama istri gue."


Reva menatap Revan dengan tatapan tidak percaya. Baru saja Revan melindunginya dan lagi-lagi menyebutnya sebagai istri di depan orang lain, sederhana namun cukup membuat Reva merasa sedikit senang.


"Bersikap berlebihan gimana maksud lo?" Tanpa berniat sadar diri, Alvin justru memberikan tatapan menantangnya pada Revan.


"Dari tadi lo ngelihatin dia terus buat apa?"


"Yah karena dia cantik, menarik juga."


Revan tersenyum miring. Jadi hanya karena cantik? Ternyata benar gosip yang beredar itu, Alvin adalah tipe buaya yang mengincar banyak perempuan hanya untuk dipermainkan. Lucunya lagi Alvin memasukkan Ratu ke dalam salah satu daftarnya.


Hanya karena cantik. Catat itu, cantik.


"Terserah," Ucap Revan kemudian menarik tangan Reva dan segera keluar.


Di saat perdebatan Revan dan Alvin berlangsung, semua orang tidak menyadari jika dibelakang sana ada kamera aktif yang diam-diam merekam.


Tidak ada yang sadar, kecuali Alvin yang saat ini tengah tersenyum licik.