
Di sinilah Revan, berjongkok di lantai dapur dengan selembar kain lap. Reva berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang, memantau setiap pergerakan Revan yang sedang mengepel lantai bekas terigu tadi.
Ini hukuman karena Revan sudah membuat dapur menjadi kotor. Tanpa alat pel ia harus membersihkan lantai hingga mengkilap kembali hanya dengan mengandalkan kain lap.
"Udah nih." Revan membanting kain lap ditangannya kemudian berdiri.
Reva melihat sekelilingnya dan benar-benar sudah bersih. Tidak seperti sebelumnya.
"Yaudah kamu cuci makan habis itu kita makan." Reva memberikan senyum terbaiknya kemudian duduk di meja makan.
Revan memutar kedua matanya, dengan malas mencuci tangan lalu duduk bersama Reva. Ini karena mereka baru saja berbaikan atau Revan pastikan gadis yang ada didepannya akan ia jahili habis-habisan.
"Aku mau itu," Tunjuk Revan pada ayam goreng crispy di depan Reva.
"Kamu tuh ada tangan. Yaudah sih ambil sendiri aja." Walaupun awalnya mengomel, Reva tetap mengambilkan sepotong ayam itu untuk ia letakkan di piring Revan. Tentu saja itu membuat Revan senang dan langsung menyantap makanannya.
"Rev?"
"Hm."
"Kamu tuh dari awal sampai sekarang ngeselin yah. Tapi emosiku sama kamu yang dulu dan sekarang beda."
Reva menghentikan kunyahan nya untuk fokus mendengarkan Revan berbicara dan kemana arah pembicaraan itu akan berjalan.
"Aku gak bisa bayangin gimana bencinya aku dulu sama kamu." Revan menganduk makanan di piringnya lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Dulu rasanya sakiiittt banget. Sampai aku selalu mikir gimana cara buat keluar dari rasa sakit itu. Apa dengan pergi? Atau dengan membuat kamu pergi? Lucunya sekarang, karena semua perhatian yang kamu kasih aku jadi gak nyesal kamu di sini. Kamu seperti adik buat aku." Reva tersenyum. Tangan kirinya terangkat untuk mengacak-acak rambut Reva dengan gemas.
Untuk sepersekian detik Reva tidak bisa mengatur napasnya. Degdegan yang luar biasa dari jantungnya seolah memberi tahu Reva bahwa itu adalah detakan terakhir karena sungguh keadaan ini tidak aman untuk jantung.
Revan kembali memakan makanannya, merutuki diri sendiri yang entah dorongan dari mana mengucapkan kata-kata tadi. Malu, Reva pasti menertawai dirinya di sana.
"Sama kok kayak aku. Aku juga heran kenapa aku bisa baik sama kamu padahal ingat banget gimana bencinya dulu. Cuma yah, mau sampai kapan kan begitu terus? Kita serumah, masih muda, dan ada bayangan kalau masa depan kita itu masih panjang. Jadi aku bilang sama diri sendiri buat jalanin aja." Bohong Reva. Jelas-jelas karena ia sudah mulai menyukai Revan. Hanya saja tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.
Revan mengangguk. "Benar juga."
Mereka berdua melanjutkan makan bersama. Setelah selesai Reva langsung membersihkan dapur dan peralatan memasak sementara Revan membuat jus lalu membawanya ke depan tv. Reva menggeleng, bukannya membantu pria itu justru langsung bersantai. Mau bagaimana lagi, ditegur juga tidak tega. Reva sudah cukup merasa bersalah karena membiarkan Revan harus makan makanan diluar dan baru memasak tadi.
"REV, NANTI KE SINI BAWAIN BISKUIT YAH. CEMILAN KU UDAH HABIS," Teriak Revan.
Habis? Bagaimana bisa cemilan yang ia gendong sebanyak itu habis dan waktu singkat? Reva mengambil lap untuk mengeringkan kedua tangannya lalu menghampiri Revan. Sungguh, pemandangan didepannya sangat menyiksa batin. Bungkus snack berserakan di mana-mana, juga bungkusan wafer.
"Kamu kesurupan?" Reva berkacak pinggang. Menatap Revan dengan kedua mata yang membulat lebar.
"Kok kesurupan?" Bukannya menjawab Revan justru balik bertanya.
"Yah kamu lihat aja sampah di mana-mana. Aku belum selesai bersihin dapur loh. Kamu buatin masalah baru lagi di sini."
"Apa hubungannya sama kesurupan."
"KALAU SETAN MAKANNYA TUH KAYAK GINI, VAN!"
Tawa Revan seketika meledak, membuat Reva memejamkan kedua matanya menahan emosi. Diberitahu bukannya mengangguk paham justru tertawa keras. Mau diapakan lagi manusia semacam Revan ini.
Untung suaminya.
...****************...
"Rev, bangun. Mau berangkat pagi gak?"
Revan melirik arlojinya, sudah jam 8 pagi tapi Reva belum juga memberikan respon untuknya dari dalam sana, padahal sudah berkali-kali Revan mengetuk pintu kamarnya. Ada apa?
"Rev?" Panggil Revan sekali lagi.
Karena waktu semakin sempit disertai pikirannya yang juga sedikit khawatir, Revan pun mengambil kunci cadangan dan membuka kamar Reva. Di sana, di atas ranjang Reva masih tertidur dengan selimut yang menutupi leher hingga ujung kakinya. Revan berjalan ke arah meja, mengambil remot lalu mematikan AC.
"Rev?" Revan mengguncang tubuh Reva dengan pelan dan lagi-lagi tidak ada respon apapun. Merasa aneh, Revan mencoba memeriksa keningnya.
"Astaga, panas banget."
Betapa kagetnya ia saat tahu Reva saat ini sedang demam.
Reva perlahan membuka kedua matanya hanya untuk berguling kesamping dan tidur membelakangi Revan. Pasti karena demam tidurnya menjadi lebih gelisah begini.
Revan melepaskan tasnya, hari ini ia akan izin untuk tidak masuk dulu. Mana mungkin membiarkan Reva sendirian di rumah dengan keadaan seperti ini. Yang ada dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya, atau Reva bisa saja marah lalu tidak memasak untuk beberapa hari ke depan. Membayangkan opsi kedua saja sudah se mengerikan itu bagi Revan yang apa-apa selalu bergantung pada pembantu.
Reva menyeramkan saat merajuk.
Revan keluar sebentar dan kembali dengan membawa sebaskom air hangat juga handuk. Dicelupkan nya handuk itu ke dalam air hangat lalu menempelkannya ke kening Reva. Hal yang biasa ia dapatkan ketika sedang sakit, dikompres.
"Kamu gak kuliah?" Tanya Reva dengan suara serak dan lemahnya.
Revan menggeleng walau tahu Reva tidak akan melihatnya karena sedang berbaring dengan mata terpejam.
"Kamu berangkat gih, udah jam segini. Kan ada kelas." Ujar Reva sekali lagi yang membuat Revan mendesah kesal.
"Kamu tuh sakit. Yakali aku berangkat kuliah biarin kamu sendirian lemas begini. Kalau mati gimana?"
Tak.
"Awsssss... Ck."
Tangan Reva terangkat, berhasil memukul kepala Revan walau badannya terasa sakit saat bergerak. Ucapannya yang terakhir sangat mengundang emosi. Sudah tahu orang sakit, bukannya memberi semangat justru menakut-nakuti. Padahal Reva berniat perhatian.
"Gila. Sakit tapi masih kuat juga yah?" Revan terkekeh lalu berdiri untuk mengganti air kompresan yang sudah mulai dingin.
Melihat bagaimana Revan se perhatian itu padanya, ada sesuatu yang hangat menjalar disekitar perut Reva. Benar-benar tidak menyangka mereka akan menjadi lebih akur begini. Reva jadi ingin berharap banyak untuk hubungannya.
Tin...
Dering notifikasi berbunyi dari samping bantal yang Reva gunakan. Itu bukan dering ponselnya, tapi Revan. Diraihnya ponsel itu untuk melihat pesan siapa yang masuk. Dan ternyata dari Ratu.
'Sayang, aku suka kalung yang kamu kirim pagi ini ih. Cantik banget.'
Seketika saat itu juga harapan Reva tentang hubungannya terkikis.