Is My Dream

Is My Dream
Bagian 20



Bayangan tentang kejadian tadi siang terus berputar di kepala Reva. Saat dimana Ratu datang ke rumah dan melabraknya karena masalah kotak bekal yang ia berikan kepada Revan.


Ini memang salahnya. Di awal sudah jelas Reva bersepakat tidak akan melangkah terlalu jauh, tapi pada akhirnya Reva melampaui batasannya. Ia tertarik pada Revan, sosok yang sudah memiliki kekasih sejak dulu. Perhatian kecil yang akhir-akhir ini ditunjukkan juga tumbuh karena ketertarikan itu.


Menarik napas dalam-dalam, Reva memejamkan kedua matanya.


"Ini sebabnya orang bilang jangan terlalu membenci. Segala hal memiliki timbal balik, termasuk benci lalu tanpa sadar mencintai."


Seolah-olah angin mendengar ucapannya, Reva tertawa miris. Menertawai nasibnya yang sejak tadi bermonolog di balkon kamar memikirkan masalah yang datang terus menerus.


"REV..."


Reva berbalik begitu mendengar suara Revan berteriak memanggil namanya. Dengan cepat ia segera berlari keluar menuruni tangga dan menghampiri Revan yang berada di ruang keluarga.


"Ada apa, Van?"


"Ratu datang ke rumah?"


Reva terdiam beberapa saat, mengigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan.


"Kamu diapain?"


"Cuma mau ditampar, tapi aku tahan."


"Bagus."


Revan kemudian berlalu meninggalkan Reva yang kebingungan. Apa katanya? Bagus? Sangat di luar dugaan seorang Revan mengatakan itu. Padahal seharusnya ia membela kekasih hati yang selalu dipuja-pujanya. Ternyata lucu juga melihat Revan kesal begini.


Karena rasa penasaran mulai menyelimuti pikirannya, Reva langsung menyusul Revan yang ternyata sudah berada di ruang tamu memutar acara TV kesukaannya.


"Van? Lagi berantem sama Ratu yah?" Tanya Reva kemudian duduk di samping Revan.


Revan hanya mengangguk sebagai jawaban. Tentu hal itu tidak membuat rasa penasaran Reva langsung terbayarkan. Justru semakin bertambah.


"Karena kotak bekal yang aku kasih?"


Revan memperkecil volume tvnya dan mulai menatap Reva.


"Bahas yang lain. Aku malas bahas ini," Ujarnya kemudian kembali menambah volume TV. Reva melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah merengut lucu. Padahal ia sangat penasaran, tapi Revan justru tidak ingin membahasnya.


"Bisa-bisanya kamu dapat cewek kayak gitu." Reva meraih snack di meja, membuka, dan mulai menyantapnya.


Mendengar ucapan Reva barusan, jujur saja Revan sedikit tidak suka.


"Maksudnya?" Tanya Revan, lagi-lagi dengan mengecilkan volumen tv.


Masih dengan menguyah snacknya Reva menjawab, "Ratu emosian dan gampang luapin emosinya. Yang bikin heran kok kamu bisa betah sama dia yang begitu. Aku aja kalau ketemu cowok yang sedikit-sedikit marah, gak deh. Skip."


"Kalau cewek masih wajar, cowok beda lagi. Memang sudah seharusnya kamu jauhin kalau ada cowok yang emosian. Cowok kalau ceweknya gampang emosi cuma harus banyakin sabar. Kamu dijelasin juga susah, orang gak pernah pacaran. Mana tau cinta itu gimana."


Reva menganga, ucapan Revan barusan jelas menyakiti hati kecilnya. Tidak tahu cinta katanya? Bahkan Reva hampir merasakan itu pada pria bodoh yang ada di sampingnya saat ini.


"Itu mulut ditutup." Revan melemparkan bantal sofa ke depan wajah Reva yang diam dengan mulut terbuka.


"Dih, kasar." Reva yang tidak terima melemparkan kembali bantal itu ke depan Revan, namun Revan dengan gesit nya langsung menghindar.


Jelas itu tidak adil!


"Cowok kayak kamu gini nih yang kasar."


"Makanya jangan jatuh cinta sama cowok kayak aku."


"....."


Revan meraih remot kemudian mematikan tv, dan bergegas masuk ke kamar. Meninggalkan Reva yang terdiam memikirkan salah satu kalimat yang Revan ucapkan tadi. Entah kenapa rasa sesak lagi-lagi bertamu di dadanya.


Memang seharusnya begitu, memang seharusnya Reva tidak jatuh cinta pada Revan. Tapi apa bisa begitu? Rasa nyamannya bahkan semakin jelas terasa.


"Ada gak sih nyaman aja tapi gak jatuh cintai?" Tanya Reva pada bantal sofa yang ada di kedua tangannya.


Bodoh!


Reva langsung berdiri dan naik ke kamarnya. Saat ini yang ia butuhkan adalah istirahat. Istirahat dari pikiran-pikiran buruk yang tidak begitu penting. Semoga saja hari esok bisa lebih baik dari hari ini. Sungguh, Reva hanya gadis kecil yang ingin merasakan kedamaian.


Tapi sulit. Sejak menikah dengan Revan, kedamaian itu sangat jauh dan sulit untuk digenggam. Sumber dari masalah ini memang karena pernikahannya dengan Revan. Andai saja mereka berdua tidak saling terikat, Reva akan berkuliah dan Revan akan bisa menikmati masa pacarannya dengan Ratu tanpa harus diam-diam.


Dan yang paling penting Reva tidak harus khawatir akan jatuh hati pada sosok Revan.


...****************...


Sementara itu, di tempat lain seorang gadis berambut panjang tengah sibuk bercengkrama bersama teman-temannya. Sesekali menghisap sebatang rokok yang diapit indah dengan dua jarinya. Gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ratu, kekasih dari Revan.


Penampilannya malam ini terlihat kacau. Tidak seperti seorang pelajar tapi perempuan malam. Bagaimana tidak, tubuhnya hanya berbalut pakaian mini dan sangat ketat. Rambut dibiarkan tergerai dan asap rokok mengepul di atas kepalanya.


Memang sudah menjadi kebiasaan Ratu ketika dalam suasana hati yang buruk akan melakukan hal buruk.


"Rat, pulang yuk. Udah jam 12 nih," Ajak salah satu di antara mereka.


Ratu membuang rokok yang ada ditangannya lalu menginjaknya.


"Gak!"


"Gila. Gue gak mau yah sampai diamukin Revan besok."


"Gak usah sebut namanya bisa gak sih?" Bentak Ratu. Membuat kedua temannya kaget dan tidak berniat untuk berkata-kata lagi. Akhirnya dengan terpaksa mereka tetap tinggal menemani Ratu.


Tapi lebih baik begini. Setidaknya Ratu tidak memilih diskotik atau semacamnya untuk menenangkan diri. Melainkan rumah neneknya yang sudah lama terbengkalai namun tetap terjaga kebersihannya.


Ya, mereka berada di rumah nenek Ratu sekarang.


"Gue harus gimana?" Tanya Ratu setelah beberapa waktu diselimuti keheningan karena kedua temannya sudah takut untuk bersuara.


"Apanya?"


"Reva. Gue beneran benci banget sama anak sok polos itu."


Kedua temannya saling berpandangan.


"Reva istrinya Revan itu yah?"


"Iya. Dev, Ren, menurut lo gue harus gimana?"


Lagi-lagi Devi dan Aren, kedua teman Ratu itu saling berpandangan. Benar-benar tidak tahu maksud dari ucapan Ratu. Tapi terdengar sedikit menakutkan. Seolah-olah akan melakukan hal buruk.


"Yah gak ngapa-ngapain. Memangnya mau lo apain?"


"Mau gue bikin kapok."


Devi dan Aren menganggukkan kepalanya. Tidak terkejut lagi dengan ucapan Ratu barusan. Lagipula ini bukan pertama kalinya Ratu akan membuat perhitungan pada seseorang yang berani mendekati Revan. Aneh juga kenapa Revan masih bertahan padahal lebih tahu Ratu itu sosok yang seperti apa. Justru terlihat semakin jatuh cinta.


"Tapi gue saranin jangan deh, Rat. Nanti malah Revan yang maju."


"Menurut lo dia bakalan maju buat lawan gue atau justru belain gue?" Pertanyaan Ratu sukses membungkam mulut kedua temannya.