
"Argghhhh."
Reva membenci dirinya, sangat sangat membenci dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia mengakui perasaannya secara sederhana seperti itu. Bagaimana tanggapan Revan? Pasti pria itu akan membencinya sekarang.
Jika bisa memutar waktu kembali, Reva akan menarik ucapannya dan ia tidak harus merasa canggung seperti ini. Ya Tuhan, Reva sangat ingin memutar waktu sekarang.
Baiklah, sepertinya Reva hanya harus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Berpura-pura seolah dirinya tidak pernah mengatakan hal bodoh seperti tadi. Tapi mana mungkin, semuanya jelas-jelas terekam dalam memori Revan yang sangat terakui seberapa besar kapasitasnya dalam mengingat sesuatu. Apalagi ucapan Reva sangatlah menganggu, ini tentang ungkapan perasaan. Meremas rambutnya penuh frustasi, Reva berusaha menahan mulutnya agar tidak berteriak dan mengumpat.
Reva berdiri, hendak memutar gagang pintu tapi kembali ragu karena di luar pasti ada Revan. Rasanya sulit untuk menemuinya karena Reva masih merasa cukup malu. Lalu apa yang harus dilakukan? Tidak mungkin hanya diam di kamar tanpa makan dan minum. Stok cemilan juga sudah habis. Reva bisa mati kurus kalau begini.
Keputusan terakhir adalah, Reva akhirnya membuka pintu dan turun ke bawah. Suasana cukup gelap karena sudah memasuki waktu malam. Reva mengendap-endap menuju dapur lalu membuka kulkas. Aroma makanan yang ada di dalam membuat perut Reva semakin berisik. Ingin cepat-cepat diisi. Namun saat tangannya mulai meraih makanan satu-persatu, lampu tiba-tiba menyala. Reva memejamkan matanya sambil mengigit bibir bawahnya, sudah pasti itu Revan.
"K-kamu ngapain?" Revan mengerjap, menunjuk Reva yang sedang memeluk beberapa bungkus makanan.
Bukannya menjawab, Reva justru berbalik sambil menunjukkan senyum terpaksanya. Tidak lama kemudian berlari hingga tanpa sengaja menyenggol bahu Revan dan terjatuh. Reva hanya sempat mengucapkan kata maaf namun kembali berlari naik ke kamar tanpa membantu Revan berdiri. Melihat kelakukan Reva seperti itu, Revan hanya bisa menggeleng.
Di dalam kamar Reva langsung melompat keranjang. Membenamkan wajahnya pada bantal. Kenapa harus ada Revan di sana. Kenapa tidak tidur saja atau menelpon kekasihnya lalu membahas hal-hal yang tidak menarik sama sekali. Tentu hal ini membuat Reva malu berkali-kali lipat. Ya Tuhan apalagi ini, jerit Reva.
"Isssss.... Aku harus gimana? Maluuuu." Reva terus meninju ranjang malang yang tidak bersalah itu.
Besok pagi, suasana harus lebih baik. Reva harus membuat semuanya kembali seperti biasa.
Reva menguap, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ternyata sudah pagi, Reva menyibak selimutnya lalu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Setelah merasa lebih segar, ia pun segera turun ke bawah yang ternyata sudah ada Revan diruang tamu dengan banyak sekali makanan di atas meja.
Revan melambaikan tangan saat menyadari keberadaan Reva. Memanggilnya agar duduk bersama dan sarapan. Karena belum pandai memasak, Revan akhirnya hanya bisa memesan makanan jadi. Ada sekotak pizza juga, karena Reva sangat menyukai pizza.
Mereka makan bersama. Suasana terasa dingin, padahal AC sedang tidak menyala. Setiap gigitan pada pizza tidak ada rasanya bagi Reva. Begitupun Revan, sungguh suasana ini cukup menyiksa.
"Gimana perasaan kamu?"
Ah sial, Reva memejamkan kedua matanya. Kenapa harus bertanya tentang perasaan sekarang? Tidak bisa kah membiarkan Reva menikmati makanannya walau memang dari awal tidak menikmati sama sekali.
"Hah?"
"M-maksud aku perasaan kamu udah lebih enakan? Aku minta maaf soal Ratu."
Syukurlah. Berarti Revan tidak mengungkit ungkapannya kemarin. "Aku baik-baik aja. Gakpapa, asal kamu kasih tau ke dia buat gak begitu lagi. Atau aku gak akan segan-segang patahin kakinya."
Revan bergidik ngeri. Walau itu hanya sebatas ucapan, tapi cukup mengerikan. Akhirnya ia hanya mengangguk dan melanjutkan memakan makanannya. Mulai sekarang Ratu harus bisa mengontrol perilaku. Reva sudah mulai agresif sekarang.