Is My Dream

Is My Dream
Bagian 12



Sudah hampir jam 12 malam tapi Revan belum pulang juga. Reva khawatir dan juga marah, ia takut jika Revan sampai kenapa-kenapa di luar sana. Bahkan ada sekitar 20 lebih panggilannya yang tidak dijawab padahal ponselnya berdering.


Tin....


Satu notifikasi masuk kedalam ponsel Reva. Dengan cepat ia membukanya karena berpikir itu pasti Revan dan betapa senangnya ia saat melihat nama yang tertera di sana memang Revan.


'Gak usah nunggu, malam ini Revan nginap bareng aku'


Seketika Reva jatuh terduduk di sofa. Sudah jelas pesan itu dikirim oleh Ratu dari hp Revan. Jadi sia-sia saja ia menunggu sampai selarut ini?


Lagi-lagi Reva merasakan sesak didadanya, ia merasa sangat tidak dihargai bahkan oleh suaminya sendiri. Tidak ada pria yang lebih jahat dari ini. Ketika sudah memiliki istri namun masih bermain diluaran sana.


Reva tidak akan tinggal diam, meskipun usianya kecil namun ia memiliki tekad yang besar. Tanpa berpikir panjang, Reva langsung mencari kunci mobil yang jarang terpakai di garasi lalu bergegas mencari alamat rumah Ratu dari teman-teman Revan yang sempat bertukar nomor dengannya saat acara resepsi pernikahan.


Setelah mendapat balasan dari salah satu teman Revan, Reva tersenyum tipis. Ia akhirnya berhasil mendapatkan alamat Ratu dan ternyata tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di sana. Reva bisa melihat sebuah bangunan minimalis di depannya. Rumah yang saat ini hanya diisi oleh Revan dan Ratu.


Reva menggulung lengan bajunya hingga memperlihatkan lengannya yang sama sekali tidak berotot. Ini saatnya ia beraksi, terserah hasil akhirnya akan seperti apa yang penting Reva bisa meluapkan kekesalannya.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan Reva sama sekali tidak memancing si pemilik rumah untuk keluar. Rupanya mereka tidak ingin diganggu oleh siapapun. Baiklah, karena yang di dalam adalah suami Reva itu artinya ia bisa masuk tanpa harus menunggu dibukakan pintu.


Reva melepaskan jepitan miliknya, Jepitan yang sudah ia persiapkan sejak tadi. Jaga-jaga jika hal seperti ini sampai terjadi.


Cukup lama untuk bisa membuka pintu rumah Ratu hanya dengan bermodalkan jepit rambut. Tapi setelah pintu itu berhasil terbuka, senyum kemenangan langsung terpancar di wajah Reva. Padahal perang yang sebenarnya baru saja akan dimulai.


Reva mulai melangkahkan kakinya dengan pelan. Saat ini ia sudah berada di ruang tamu yang ternyata ada Revan juga di sana. Pria itu tertidur pulas dengan hanya beralaskan bantal sofa di sofa ruang tamu Ratu. Saat Reva hendak berjalan semakin dekat, ternyata Ratu juga sudah kembali dari dapur sambil membawa nampan berisi bubur. Mereka berdua sama-sama kaget, terlebih lagi Ratu yang tidak menyangka jika Reva mengetahui rumahnya dan masuk tanpa permisi.


"Loh? Kok bisa masuk? Kamu?!!!!!!" Ratu langsung meletakkan nampan buburnya dan menatap Reva dengan geram. Tapi yang ditatap justru bersikap acuh tak acuh.


"Kenapa? Mau bilang aku lancang? Udah ketuk pintu kok dari tadi. Kamunya aja gak dengar." Mendengar ucapan Reva yang terlihat santai begitu, Ratu semakin emosi namun berusaha menahan diri agar tidak meledak di depan Revan.


"Aku di dapur buatin Revan bubur. Tapi bukan berarti kamu harus lancang masuk ke rumah orang."


"Aku yang lancang atau kamu yang dengan beraninya bawa suami orang kayak gini?"


Baru pertama kalinya Reva seperti ini, emosinya tidak bisa lagi ia tahan. Bayangkan jika suamimu berada di rumah wanita lain dan mereka hanya ada berdua di dalam? Apalagi yang akan mereka lakukan? Akan sejauh apa mereka melangkah?


Ratu terdiam dan tidak lama kemudian Revan menggeliat saat mendengar suara keributan disekitarnya. Tidak mau tinggal berlama-lama di tempat yang menurutnya sangat kotor ini, Reva langsung menyuruh Revan untuk bangun dan ikut pulang bersamanya.


"Bangun!!!!!" Perintah Reva dengan nada yang sangat tegas.


Revan menatapnya keheranan, tapi tidak sempat bertanya karena Reva langsung menarik tangannya dengan kasar. Ratu sempat mencegah tapi begitu melihat Revan mengulurkan telapak tangannya agar tetap diam saja, Ratu akhirnya menurut.


"Enak yah?" Sindir Reva. Tangannya menggenggam setir mobil dengan kuat untuk sekedar menyalurkan rasa emosi dihatinya.


Yang ada dipikiran Reva hanyalah 'Apa yang akan mereka lakukan jika sampai terlambat dicegah?'


Reva tidak menginginkan hal aneh sampai terjadi ditengah-tengah rumah tangganya. Sekalipun tidak ada cinta diantara mereka, sebisa mungkin Reva berusaha menjaga pernikahannya dari rasa malu. Karena bagi Reva, martabat keluarganya adalah yang nomor satu. Tapi apa yang dilakukan Revan? Kenapa ia justru melakukan hal yang sebaliknya? Disaat seorang suami yang harus menjaga istrinya, justru diantara mereka istri lah yang menjaga suaminya.


Sakit, sakit sekali yang Reva rasakan.


"Aku minta maaf."


Reva langsung me-rem mendadak mobilnya hingga membuat Revan sedikit terhuyung ke depan.


"Maaf? Apa-apa selalu maaf? Bisa gak sih kamu itu sedikit dewasa? Gak seharusnya kamu kayak tadi. Aku tau kamu cinta banget sama Ratu, aku paham. Tapi gak sampai sebodoh ini juga. Kamu mikir gak apa yang bakal terjadi kalau laki-laki dan perempuan ada di satu tempat yang sama? Hanya mereka berdua? Kamu paham gak?" Reva langsung menyerang Revan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Tetapi Revan hanya diam mendengarkan.


Reva menarik napasnya pelan lalu mengehembuskannya dengan kasar.


"Aku gak tau berhak apa gak bilang ini, tapi aku gak suka lihat kamu bareng Ratu. Itu buat aku emosi, buat aku gak suka sampai rasanya lebih baik kalau ngikat kamu di rumah."


Revan menatap Reva dengan heran. Ia sedikit tidak paham dengan perkataan Reva barusan. Ingin bertanya tapi masih merasa bersalah untuk sekedar mengeluarkan sepatah kata saja. Mungkin memang lebih baik diam dulu sampai semuanya baik-baik saja.


Reva kembali menjalankan mobilnya. Sebelum menuju rumah, tujuannya saat ini adalah apotek, Reva tahu jika sekarang Revan sedang sakit. Terlihat jelas dari bibirnya yang pucat dan tubuhnya yang sedikit hangat. Apalagi saat Ratu membawakan bubur.


"Kita mampir ke apotek dulu," Ucap Reva.


"Buat?" Tanya Revan.


Reva dengan malas menjawab, "Beli obat, kamu deman."


Reva kemudian meninggalkan Revan dan masuk kedalam apotek untuk membeli obat penurun panas. Untung saja ia masih sempat membawa uang tunai dibalik silikon hpnya.


"Mbak, obat penurun panas ada?" Tanya Reva pada pemilik apotek.


"Ada dek, yang dewasa atau anak-anak?"


"Dewasa."


Setelah berhasil mendapatkan obatnya, Reva langsung menuju ke mobil yang ternyata Revan sudah tidur kembali di dalam. Antara kasihan dan marah, jujur saja rasa kasihan Reva jauh lebih besar sekarang. Apalagi saat melihat kondisi Revan yang lemas begini, Reva rasanya jadi tidak tega untuk marah-marah lagi.


"Yaudah, nanti aja marah-marah nya lagi."


Reva menjalankan mobilnya tanpa membangunkan Revan. Lebih baik membangunkannya saat sudah tiba di rumah, sekalian memberikannya obat yang sudah dibeli tadi.