
"Gak ada makanan?"
"Gak ada."
"Aku makan apa?"
"Kamu cari kerikil diluar, terus kamu masak."
"Rev!"
"Iyaaa... Revan, kenapa?"
Revan mengacak-acak rambutnya frustasi. Sudah seharian Reva seperti ini padanya, memperlakukannya seperti orang asing dengan acuh tak acuh. Revan stress, bahkan nyaris depresi. Oke, ini mungkin terlalu berlebihan, tapi sungguh jika kita sedang bersama seseorang dalam satu ruangan dan memiliki masalah yang membuat keduanya menjadi canggung, percayalah itu sangat tidak nyaman.
Perutnya sejak tadi berbunyi, Revan sudah menjelaskan pada Reva dosa bagi seorang perempuan jika tidak memperlakukan suaminya dengan baik, tapi yang Revan dapatkan justru balasan dari Reva tentang dosa jika seorang suami tidak menghargai istrinya.
Revan kalah telak, karena dirinyalah yang lebih banyak bersalah terhadap Reva. Lalu ia harus bagaimana? Pada akhirnya pasrah dengan menahan lapar dan memesan makanan jadi? Tapi masakan Reva jauh lebih enak. Sudahlah, mungkin memang nasib baik tidak berpihak padanya.
Reva berdiri, bersiap untuk pergi namun Revan menahan pergelangan tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Revan.
Reva memandangi lengannya. Mereka sepertinya sudah sedekat itu, Revan bahkan tidak ragu melakukan kontak fisik semacam ini.
"Ke kamar," Jawab Reva singkap kemudian berlalu. Dapat ia dengar helaan napas dari Revan tapi berusaha untuk tetap tidak peduli. Rasa sakitnya karena Ratu jelas terasa.
"Reva, buka. Oke, aku minta maaf soal yang tadi. Tapi itu udah jadi bagian dari kesepakatan kita." Revan saat ini berada tepat di depan pintu kamar Reva. Menggedornya berharap seseorang yang ada didalam sana lulu dan akhirnya membuka pintu. Tapi tidak, Reva justru menutupi kedua telinganya.
Ini memang bagian dari kesepakatan, tapi siapa sangka jika Reva pada akhirnya melanggar itu? Ia tidak bisa melihat Revan bersama orang lain.
"Aku mohon sama kamu, Rev. Jangan melangkah terlalu jauh. Kita udah sepakat sebelumnya akan jadi teman kan? Aku harap kamu ingat itu. Ratu cinta pertama aku sampai sekarang. Dia orang yang selalu ada di dekat aku dari dulu. Dan kehilangan orang yang kita cintai? Itu sakit, Rev. Kamu akan merasakan suatu saat nanti kalau udah jatuh cinta." Revan menjeda kalimatnya, mengambil napas, kemudian melanjutkan ucapannya. "Jangan bersikap kayak begini, ayo coba buat acuh tentang aku dan Ratu? Aku gak mau Ratu jadi salah paham atau curiga. Aku mohon."
Tidak ada jawaban, Revan pasrah. "Aku mohon," Lirihnya kemudian pergi.
Dari dalam sana, Reva membenamkan wajahnya di sebuah bantal. Hanya itu yang mampu menahan suara isakannya, yang bisa ia gigit untuk menyalurkan rasa sakit. Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini? Reva bahkan tidak mengerti kenapa rasanya sesakit ini. Kalimat Revan barusan membuat bagian terdalam dari hatinya seperti teriris pelan-pelan namun menyakitkan. Reva tidak bisa menahan air matanya hingga mengalir cukup deras.
Sekali lagi ini salah Reva. Tapi siapa yang bisa mengatur perasaan kapan dan kepada siapa ia akan jatuh? Hingga akhirnya hati Reva jatuh pada sosok Revan. Pria pertama yang sering bersamanya selain ayahnya.
"Tuhan gak adil, hiks... Sakit banget, sakit. Kenapa harus Revan, sih?"
Reva memukul bantal di depannya, menendang guling hingga terjatuh ke lantai, sampai membuat seprai tidak lagi berbentuk. Seperti layaknya kebanyakan orang yang sedang patah hati karena cinta.
...****************...
Reva terbangun saat mendengar suara-suara berisik dari dapur. Siapa yang beraktivitas sepagi ini? Revan tidak mungkin, ia justru lebih suka tertidur sampai siang hari.
Dengan malas Reva menyibak selimutnya dan segera keluar untuk memeriksa dapur, semoga bukan tikus. Sangat lucu jika rumah sebesar dan se aesthetic ini mempunyai seekor tikus.
Saat tiba di dapur Reva langsung membekap mulutnya rapat-rapat. Itu Revan, sedang berkutat di dapur bersama alat-alat memasak. Juga menggunakan celemek milik Reva yang bergambar Mickey Mouse. Ini pemandangan yang lucu dan patut diabadikan lalu di panjang dengan sangat besar. Reva akan tertawa sepanjang hidupnya.
"Aish." Revan meringis, mengibaskan tangannya ke udara saat tanpa sengaja menyentuh panci yang masih panas. Melihat hal itu membuat kaki Reva reflek maju selangkah tapi seketika berhenti.
Revan memutar kran air diwestafel dan menyiram tangannya agar tidak terlalu panas. perlahan-lahan bekas yang terkena panci itu berwarna abu-abu.
"Ceroboh banget sih, Van," Gumam Revan pada dirinya sendiri.
"Sini."
"Eh?"
Revan kaget saat Reva tiba-tiba datang dari arah belakang dan menarik lengannya. Ditangannya terdapat sesuatu, seperti pasta gigi tapi berukuran mini.
"Itu apa?" Revan bertanya penasaran.
"Salep luka bakar."
Reva fokus mengoleskan salep dengan rata kebagian yang terkena panas. Terlalu serius sampai tidak menyadari tatapan Revan padanya.
"Fuuuuhhh..." Reva meniup luka bakar itu, membuat Revan terkekeh sekaligus gemas bukan main.
Melihat Revan tertawa, Reva segera menghempaskan tangannya. "Ngapain ketawa?"
"Lucu. Gimana? Udah gak marah?"
"Aku cuma niat bantuin. Lagian ngapain sih di dapur jak segini? Ini itu masih jam 4 pagi."
Revan mengedikkan kedua bahunya. "Entahlah, lapar."
Ah iya, Reva tidak memasak sama sekali sejak kepulangan Ratu dari rumah tempo hari. Jangankan memasak, keluar kamar untuk mengambil air minum saja tidak. Reva seperti enggan melihat Revan untuk sementara waktu. Tapi sekarang, hanya dengan melihat Revan terluka rasanya Reva panik yang benar-benar membuat kedua kakinya sampai lemas.
Saat mencari salep pun harus mengorbankan barang-barang di kamarnya yang berhamburan kesana kemari.
"Biar aku yang masak."
Reva berdiri, bersiap untuk memasak sementara Revan hanya memperhatikan bagaimana Reva kesana kemari antara lemari piring dan kulkas. Pergerakannya benar-benar seperti seorang ahli.
"Ambilin bawang merah sama putih coba di kulkas." Reva menunjuk kulkas dan Revan langsung mengangguk. Dengan patuh dan secepat kilat mencari bawang untuk diberikan kepada Reva.
Seperti seorang koki dan asisten, mereka berdua memasak bersama hingga hampir jam 6 pagi. Tanpa sadar, Reva melupakan masalahnya dan tertawa saat melihat Revan ceroboh menumpakan bahan masakan.
"Ih jorok. Dasar tua!" Ejek Reva, berlari saat Revan mengejarnya.
"Yang bikin aku jorok begini kamu yah." Revan menggeleng. Reva kecil-kecil cabe rawit, dikejar tapi sulit didapatkan, kakinya terlalu ringan berlari sana sini.
Reva menjulurkan lidahnya. "Biarin, wle." Lalu melempar sayur sawi ke arah Revan hingga mengenai kepalanya.
Revan geram, sungguh. Di raihnya tepung terigu yang masih utuh kemudian melemparkannya kearah Reva namun sayang, Reva yang kecil sangat pandai menghindar. Alhasil terigu itu terjatuh ke lantai seperti bom dan berserakan ke mana-mana.
"REVAN!!!!!"