Is My Dream

Is My Dream
Bagian 14



Sudah sekitar satu minggu lebih Reva tidak mendengar kabar dari Ratu. Revan juga tidak pernah membicarakan atau sekedar menyebut namanya. Sebenarnya itu hal yang bagus, tapi juga membuat penasaran. Ketika dua makhluk yang sedang dimabuk cinta seperti sedang memiliki masalah. Atau ini salah satu rencana dari mereka berdua? Bertemu diam-diam.


Reva memucingkan kedua matanya, mulai merasa curiga. Terlebih hari ini Revan izin untuk keluar dan pulang malam. Stylenya juga cukup bagus, dan wanginya tidak seperti biasa. Sudah berbulan-bulan lamanya mereka tinggal bersama, tapi aroma kali ini begitu asing. Apa Revan berencana untuk bertemu dengan orang penting?


Sial, Reva mengumpat dalam hati. Jika hanya menaruh curiga dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tentu saja tidak berguna. Akan lebih baik jika dirinya diam-diam mengikuti Revan dan melihat ada urusan apa pria itu di luar sana.


Tapi.


Untuk apa juga sampai melakukannya? Bukankah mereka sepakat untuk tidak terlalu ikut campur dengan urusan pribadi? Tapi entah kenapa Reva ingin melanggar kesepakatan itu sekarang. Rasa ingin mengetahui apa saja tentang Revan semakin besar. Bahkan Reva mulai takut untuk hal-hal yang tidak ia inginkan ada diantara mereka.


Jadi, Reva akan mengikuti Revan diam-diam.


"Rev, aku mau keluar. Aku udah bilang kan kalau pulangnya malam? Aku pamit yah." Revan membenarkan letak arlojinya. Saat hendak melangkah, tangan Reva menahan lengannya "Ada apa?" Tanya Revan tanpa berniat melepaskan genggaman Reva.


"Hmmmm.... Ada acara apa?"


Pertanyaan Reva sukses membuat sebelah alis Revan terangkat. Pasalnya akhir-akhir ini seringkali Reva bertanya tentang urusan pribadinya. Revan harap anak ini tidak melewati batasan yang sudah mereka buat bersama dari awal. Revan segera melepaskan genggaman Reva dan kembali bersiap untuk pergi. Selangkah lagi melewati pintu, Revan memutar badannya.


"Jangan nungguin, aku bisa aja nginap," Ucapnya kemudian lenyap di pandangan mata.


Pulang sampai malam saja Reva sudah ingin protes, sekarang justru akan menginap?


"Ngeselin banget. Padahal tinggal bilang mau pacaran sama Ratu."


Dengan perasaan kesal Reva menendang meja ruang tamu tanpa meringis sedikitpun. Padahal jelas sekali tendangannya itu cukup kuat. Sebenarnya bukan tidak sakit, tapi emosi lebih menguasai saat ini.


07.32


Reva terus melirik jam dinding. Sesekali melihat kearah pintu, berharap Revan segera muncul dari sana. Entah kenapa rasanya tidak nyaman berada sendirian di rumah. Keberadaan Revan sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan, sekalipun Reva harus sering melihat perubahan suasana hatinya, kadang penuh senyuman dan kadang penuh kekesalan.


Sepertinya malam ini Revan tidak akan pulang. Reva menghembuskan napasnya kasar dan bersiap menuju kamar. Namun saat hendak menaiki tangga suara bell terdengar di depan sana, disusul dengan teriakan Revan agar segera dibukakan pintu.


Dengan penuh semangat, Reva segera berlari menuju pintu dan membukanya. Revan masuk sambil memijat keningnya, terlihat jelas kerutan didahi pertanda lelah.


"Kamu gakpapa?" Reva berjalan tepat disamping Revan, memperhatikan pria itu dengan serius, takut jika Revan terjatuh karena sekarang pria itu berjalan sempoyongan.


Revan menggeleng disertai senyum tipis, tapi bohong. Reva jelas melihatnya sedang tidak baik-baik saja.


Revan menatap punggung Reva yang begitu sibuk di dapur. Hatinya sedikit menghangat namun perasaan itu segera ditepis. kehangatan adalah hal yang paling Revan inginkan, ia takut jika Reva bisa memberikan itu. Hatinya hanya harus fokus pada satu orang, dan itu adalah Ratu kekasihnya.


Begitu selesai Reva langsung mengantarkan makan malam untuk Revan. Untung saja meski Revan mungkin tidak pulang malam ini, Reva tetap menyiapkan makan malam. Juga dua roti selai dan segelas teh hangat kesukaannya. Mereka makan malam bersama diruang tamu, ditemani siaran kartun di televisi. Wajah lelah Revan perlahan menghilang seiring dengan tawanya ketika kartun mulai menampilkan komedi-komedi ringan.


Sebenarnya Revan sangat mudah tertawa, bahkan untuk hal kecil. Juga mudah sekali merasa kesal, namun jarang marah. Selama hidup bersama, Revan pandai mengatur emosinya. Terkadang ketika amarahnya meluap, Reva sadar jika itu memang bagian dari kesalahannya. Revan juga tidak segan meminta maaf bahkan disaat dirinya tidak sepenuhnya bersalah. Sosok dewasa yang tentu saja perlahan membuat Reva merasa nyaman. Memiliki sikap yang berbanding terbalik, membuat Reva mendapatkan suatu keseimbangan.


"Rev...."


Reva mengerjap, sedikit gelagapan saat menyadari dirinya terus menatap Revan. Pasti Revan menyadari hal itu.


"Kamu melamun lihatin aku. Kenapa?" Revan menyentuh kening Reva untuk memeriksa suhu tubuhnya. Mungkin saja Reva sedang tidak enak badan.


"Hmm.. Ng-nggak.. Aku cuma ngerasa kamu capek banget yah?"


Bohong, tapi lebih baik seperti itu. Revan tidak boleh menyadari keanehannya yang satu ini.


"Iya capek banget. Aku ngerjain beberapa urusan kantor."


"Loh? Jadi tadi dikantor?"


"Haha.. Iya, bantuin Papa dan itu lumayan banyak. Kamu kira aku ngapain? Hangout?"


Reva menggaruk tengkuknya, salah tingkah. Prasangkanya terlalu jauh ternyata.


"Nggak kok. Cuma yah aneh aja tadi kamu pakai kemeja santai gitu." Reva menunjuk penampilan Revan dengan dagunya.


Revan kembali memperhatikan penampilannya dan memang benar, ini tidak seperti seseorang yang ingin mengerjakan urusan kantor. Tapi Revan juga tidak diharuskan memakai pakaian formal karena tugasnya hanya membantu sedikit dan itu dirumah orang tuanya.


Sudah jam 10 malam, Reva sendiri tidak sadar jika sudah sekitar 2 jam lamanya mereka menonton bersama. Begitu Revan pamit untuk tidur, Reva segera membereskan bekas makan mereka dan ikut menyusul untuk tidur. Tiba-tiba matanya mengantuk, padahal jelas sekali merasa segar saat bersama Revan.


Sungguh, Reva merasa dirinya sudah melewati batas. Ia menyukai saat-saat bersama Revan. Saat di mana bisa melihatnya tertawa, juga seandainya bisa, saat di mana Revan sedih dan menangis. Keinginannya untuk lebih dekat semakin kuat. Meski takut, Reva ingin Revan membagi banyak hal dengannya.


"Ratu pasti beruntung banget milikin kamu." Reva menatap punggung Revan yang tertidur dengan nyaman di kamar tamu. Sebelum naik ke kamarnya, Reva ingin melihat Revan sebentar saja. Alarm pertanda bahaya mulai berbunyi, hal yang seharusnya tidak terlampaui pada akhirnya terlampaui. Jika Revan tahu tentang perasaan nyamannya, mungkin hal buruk akan terjadi. Reva tidak ingin hal itu terjadi, jadi ia akan berusaha bagaimana cara agar bisa menutupi itu. Entah akan bertahan berapa lama, Reva juga sadar jika perasaan itu semakin lama pasti akan semakin bertambah.


"Aku takut," Gumamnya kemudian menutup pintu kamar Revan dan pergi ke kamarnya.