
"Jadi gimana? Berhasil?" Tanya seorang gadis yang sibuk berkutat di dapur. Membuat mie pedas kesukannya lalu duduk menunggu jawaban keluar dari seseorang yang saat ini berdiri dengan kepala menunduk.
Orang itu mengangguk, namun masih enggan mengangkat kepalanya.
"Angkat kepalamu!"
"Iya, Nona Lily. Nona juga pasti tau karena melihatnya."
Gadis yang disebut dengan nama Lily itu tersenyum miring. Sudah ia duga, bawahannya selalu becus dalam menjalankan tugas. Meskipun Lily melihat kejadian tadi, akan sangat memuaskan jika bawahannya sendiri yang memberi laporan.
"Ada bonus di meja. Untuk satu bulan ini pergi aja yang jauh. Saya akan manggil kamu kalau butuh." Lily menyeruput mienya. "Dengar, Erin. Hati-hati setiap kamu ngejalanin perintah dari saya, ngerti?"
Erina, sang bawahan hanya mengangguk pelan kemudian berjalan keluar. Tidak lupa menyambar amplop yang ada di atas meja. Cukup besar ternyata, dan tentu saja berisi.
Kepergian Erina menciptakan keheningan disekitar Lily, selalu seperti itu karena yang dimilikinya memang hanya Erina, sejak dulu hingga saat ini. Dan bodohnya Lily meminta Erina untuk pergi dan tidak muncul sama sekali dalam satu bulan. Mau bagaimana lagi, bawahannya itu tentu saja membutuhkan waktu berlibur setelah berpikir banyak harus merencanakan apa untuk membuat Revan dan Reva dalam masalah.
Tak terasa mie di mangkuknya sudah habis. Lily berdiri dan tanpa sengaja lututnya menabrak meja yang ada di depannya, membuat bingkai foto yang ada di sana terjatuh. Lily segera mengambil foto itu dan tersenyum memandanginya, cantik sekali.
Sosok gadis cantik yang sudah lima tahun tidak pernah ia temui, Lily merindukannya. Sangat ingin bertemu, tapi jarak mereka sangat jauh, sulit untuk ditembus. Karena kini gadis itu sudah terkubur jauh di dalam tanah. Lily meremas bingkai itu, sekelebat bayangan kepedihan kembali muncul, hatinya lagi-lagi pilu.
"Tenang, aku udah balik ke sini dan tentu buat kamu dan kedua orang tua kita. Orang tua Reva juga harus merasakan yang orang tua kita rasakan," Ucap Lily penuh percaya diri. Diletakkannya kembali bingkai itu lalu bersiap untuk mandi. Ketika hatinya memanas, cara mendinginkannya kembali adalah dengan mandi.
Atau menyakiti Reva, mungkin?
"Allisa, lihat mama sayang. Kamu yang kuat, kamu gak akan kenapa-kenapa." Seorang wanita paru baya berjalan dengan cepat mengikuti bangsal rumah sakit yang membawa anak perempuannya yang sedang berbaring dengan darah merembes dari mulut, hidung, serta kedua telinganya. Gadis itu memandangi sang ibu dengan senyum tipis, ia menggeleng sebagai kode bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kak Allisa gak akan kenapa-kenapa kan?" Anak perempuan berseragam SMP juga turut menyaksikan kakaknya dibawah masuk ke UGD oleh dokter dan beberapa perawat. Kedua orang tuanya tidak menjawab, mereka hanya terus menangis dan berdoa.
"Lily, kamu berdo'a yah sayang?"
"Siapa yang ngelakuin ini, Ma?" Pria, atau lebih tepatnya ayah dari Allisa dan Lily mulai bertanya setelah sekian lama hanya terus menangis.
"Keluarga Andra, aku tau itu dia. Aku lihat jelas mobilnya."
"Bajingan!"
Lily membuka matanya kembali. Napasnya naik turun dengan cepat, bayangan masa lalu kembali berputar, memori penderitaan keluarganya. Dengan marah, Lily memukul air tempatnya berendam. Kenapa setiap kali ia kembali ke Negara ini, sesuatu yang sudah bisa dilupakan kembali teringat. Seolah mengusirnya agar terus pergi saja dan tidak perlu kembali lagi.
Tapi ini Lily, ia akan kembali untuk membalas semua hal buruk yang terjadi padanya. Walau ia juga harus menerima konsekuensi dari pembalasan itu, tidak masalah.
...****************...
Revan menghampiri Reva, memberikan secangkir teh untuknya lalu duduk bersama. Reva hanya menunduk, masih takut memandangi Revan karena tuduhan tak berdasar yang diterimanya tadi.
"Aku percaya itu bukan kamu," Ujar Revan, mengusap dengan lembut punggung Reva.
"Tapi buktinya ada didalam tas aku."
"Gakpapa. Aku cukup senang karena kamu gak kemakan tuduhan itu." Reva menyeruput tehnya lalu tersenyum menatap Revan.
Beberapa menit kemudian mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, membuat suasana menjadi lebih hening.
Reva masih bingung dengan kejadian di kampus tadi. Kenapa ada yang berani melakukan terror pada Ratu di saat mungkin ada banyak mahasiswa yang sedang berlalu lalang di sekitar loker. Tapi tidak, justru sekitar loker lah yang sering sepi jadi cukup mudah mengambil kesempatan dengan melakukan kejahatan seperti itu. Sebenci itu kah ia pada Ratu? Tapi kenapa sampai melibatkan Reva? Seolah ingin mengadu domba. Tapi untuk apa? Apa ia tahu jika Reva dan Ratu tidak berhubungan baik karena Reva adalah istri dari kekasih Ratu?
Rumit sekali.
Orang itu juga pasti ingin menjatuhkan Reva. Jika memang yang menjadi targetnya hanya Ratu, lalu untuk apa ia mengikuti sertakan Reva dalam masalahnya. Ada banyak orang yang bisa dijadikan kambing hitam.
Mencurigakan, Reva memicingkan kedua matanya. Padahal ia tidak pernah membuat masalah dengan siapapun.
Tidak hanya Reva, sebenarnya Revan pun berpikir demikian. Meski banyak yang membenci Ratu, tapi belum ada yang berani sampai ke tahap ini. Apa mungkin kebenciannya sudah menumpuk dan baru meledak sekarang? Ini juga masuk akal. Hanya saja tetap ada yang lebih membingungkan, yaitu menyangkut pautkan Reva.
Orang itu pasti tahu jika Ratu dan Reva tidak dalam hubungan yang baik. Oleh karena itu ingin membuat keduanya semakin bermasalah dan tentu saja akan membuat Revan pusing. Jadi, siapa sebenarnya yang menjadi targetnya kebenciannya? Ratu atau Reva?
Terror seperti tadi sungguh menyeramkan. Membuat Revan tidak henti-hentinya merasa khawatir.
"Rev?" Reva melambaikan tangannya ke depan wajah Revan. Membuat Revan seketika tersadar dan mengerjap beberapa kali.
Terlihat lucu dimata Reva.
"Y-ya? Kenapa?"
Reva terkekeh. "Kamu ngelamun yah?"
"Sedikit. Kamu tidur deh, besok masuk pagi kan?"
"Iya." Reva berdiri, bersiap naik ke atas kamar namun Revan menahannya.
"Besok aku mau masuk pagi juga."
"Tumben? Biasanya siang?"
Revan terdiam. Entahlah, ia hanya khawatir juga pada Reva. Bagaimana jika orang itu berulah lagi dan kali ini pada Reva? Reva masih terlalu kecil untuk hal-hal seperti itu.
Revan menggeleng, kembali melepaskan genggaman tangannya pada lengan Reva. Melihat hal itu Reva tersenyum lembut.
"Kamu gak usah khawatir. Aku gak akan kenapa-kenapa. Kita cukup yakin aja dan anggap kalau kejadian itu cuma kesalahan. Mungkin orangnya cuma iseng?" Reva tertawa kecil. Membuat hati Revan sedikit lebih tenang.
"Papa nyuruh aku jagain kamu. Kamu kuliah karena permintaan aku dan udah jadi tugas aku buat patuh sama perintah papa."
"Halah. Biasanya juga ngebantah Papa."
"Rev, please. Udah serius padahal."