Is My Dream

Is My Dream
Bagian 6



Reva masih terus menatap dia pasangan yang sedang bermanja-manjaan dirumahnya. Orang itu adalah Revan dan Ratu. Dalam hati Reva terus menggerutu dan bertanya-tanya kapan Ratu akan segera pulang. Rumah yang sebelumnya sudah memiliki hawa panas sekarang menjadi lebih panas lagi.


Kenapa ada gadis tidak tahu malu seperti itu? Datang kerumah orang tanpa diundang dan siapa sangka niatnya hanya untuk bermesraan dengan pria yang sudah beristri?


"Kak Ratu, gimana kalau kakak pulang dulu? Udah sore soalnya," Usul Reva dengan sopan. Berusaha sebisa mungkin tidak menyinggung perasaan Ratu walau dihati kecilnya sudah sangat ingin adu tinju.


"Loh? Kenapa? Aku masih mau di sini bareng Revan," Ucap Ratu dengan polos yang dibuat-buat. Jika ini yang membuat Revan gemas, Reva justru merasa geli.


"Maaf kak. Tapi kakak harus tau tempat juga. Ini rumah aku dan Rev-"


"Terus?"


Mendengar ucapannya dipotong, Reva langsung memejamkan mata. Melihat hal itu Revan langsung teringat sesuatu dan segera membawa Ratu keluar. Ratu sempat memberontak karena merasa dirinya telah diusir dari rumah pacarnya sendiri. Dengan kasar pula, hal yang tidak biasanya dan ini semua karena Reva.


'Reva paling gak suka omongannya dipotong. Apalagi kalau sama orang yang gak dia suka, bisa mendadak jadi harimau. Kamu jaga-jaga aja yah, Van.'


Ratu yang mulai kesal langsung melepaskan cengkraman tangan Revan dari lengannya. Mereka sekarang sedang berdiri di pintu utama.


"Sayang, m-maaf," ucap Revan dengan suara pelan. Namun dibalas gelengan kepala oleh Ratu, seolah tidak percaya dengan perlakuan Revan padanya.


"Gila kamu."


"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa."


"GAK MAU AKU KENAPA-KENAPA ATAU DIA YANG KENAPA-KENAPA???" Bentak Ratu dengan suara yang sangat tinggi sambil tangannya menunjuk ke arah Reva yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Revan tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Situasi seperti ini tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya. Seharusnya sejak tadi ia meminta Ratu pulang sebelum Reva yang melakukannya.


"Aku mohon... Kamu ngerti kali ini aja." Revan menyatukan kedua telapak tangannya di depan Ratu. Berharap gadis itu bisa memahaminya.


"Terserah," Ucap Ratu dan langsung pergi meninggalkan Revan yang semakin merasa bersalah. Apakah akhir-akhir ini hidupnya hanya akan di penuhi rasa bersalah?


Setelah kepergian Ratu, Revan langsung kembali kedalam rumah dan menemukan Reva sudah duduk disofa sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Revan merotasikan bola matanya, Lagi-lagi merasa kesal dengan kelakuan Reva. Kenapa Reva selalu saja mencari masalah. Kenapa Reva terus saja membuat masalah. Tidak bisakah ia sehari saja membuat sesuatu yang lebih baik?


"Heran aku sama kamu," Ujar Revan yang seketika membuat Reva mengangkat wajahnya. Terlihat semburat merah dipipinya dan sudah pasti itu karena Reva menahan amarahnya sejak tadi.


"Heran apa? Karena aku nyuruh dia pulang?"


Revan hanya terdiam.


"Kamu seharusnya mikir, kamu udah gede kan? Kamu pikir sopan seorang gadis bermain kerumah pacarnya sampai sebegini lamanya? Apalagi pacarnya sudah memiliki seorang istri dan istri itu menjadi penonton kemesraan mereka? Lucu kamu."


Reva langsung pergi meninggalkan Revan dengan harapan Revan bisa mencerna ucapannya dengan baik. Namun sepertinya tidak karena sekarang Revan sedang menatap punggung Reva dengan tatapan penuh emosi.


...----------------...


Putri sedang bersantai dirumahnya tapi tidak tahu kenapa pikirannya berada jauh di sana. Putri terus saja memikirkan Reva, bertanya ada apa dengan sahabatnya itu dan apakah ia baik-baik saja sekarang?


Sudah banyak pesan yang dikirim Putri untuk Reva, namun tidak satupun yang mendapat balasan. Hal ini tentu membuat Putri semakin khawatir dan berniat untuk menemuinya.


"Aku susul aja kali yah?" Tanya Putri pada dirinya sendiri "Tapi kan takutnya Reva malah gak mau," sambungnya lagi.


Setelah bergelut dengan pikiran sendiri, Putri akhirnya memutuskan untuk menemui Reva. Dari pada mati penasaran sendiri lebih baik ia memastikannya.


Dalam perjalanan menuju rumah Reva, Putri tanpa sengaja bertemu dengan Ratu. Hanya saja Ratu tidak menyadari keberadaan Putri. Terlihat Ratu seperti sedang menangis dan sesekali mengusap jejak air matanya. Aneh, menangis sambil berjalan kaki seperti orang yang baru saja bertengkar dan merasa kecewa.


Tapi tunggu dulu.


Apa Ratu baru saja bertengkar dengan Revan? Dan ini adalah jalan menuju rumah Revan dan Reva. Itu artinya Ratu baru saja berkunjung kerumah Revan.


Setelah sadar dengan semuanya, Putri langsung menambah kecepatan mobilnya.


"Benar-benar yah si Revan," Gerutu Putri.


Setelah tiba di depan rumah Reva, Putri segera memencet bell dan yang membukakan pintu adalah Revan. Tanpa meminta persetujuan untuk masuk dari si pemilik rumah, Putri langsung masuk begitu saja dan naik ke atas kamar Reva. Masa bodoh dengan Revan yang sudah mengomel dibawah sana sambil mengucapkan kalimat tentang kesopanan. Kesopanan apanya? Dari pada Putri, sepertinya Ratu lebih butuh belajar tentang attitude.


Tok... Tok... Tok...


"Rev, cepat buka. Ini aku Putri," Teriak Putri dari luar.


Mendengar teriakan Putri dan ketukan pintu yang begitu keras, akhirnya Reva bangkit dan membukakan pintu.


"Ada apa sih." Reva dengan kesal langsung membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang. Sementara Putri hanya bisa menggeleng dengan tingkah sahabatnya itu. Lihatlah sekarang, lagi-lagi Reva bersikap seakan-akan ia baik-baik saja. Tapi Reva lupa jika Putri adalah sahabatnya sejak kecil, jadi membedakan antara bahagia atau sedih diwajah Reva sudah menjadi salah satu keahliannya.


"Coba cerita dari awal."


Reva memasang wajah herannya. Ayolah Reva, tidak perlu berpura-pura begitu di depan Putri.


"Cerita apaan sih, Put?"


"Gak usah bohong. Tadi Ratu habis dari rumah kamu kan? Terus dia pulang nangis-nangis sampai maskara nya luntur itu kenapa?"


Reva terdiam. Sekarang percuma juga menyembunyikan kejadian hari ini pada Putri. Setelah berpikir beberapa detik, Reva akhirnya mulai menceritakan semuanya dari A sampai Z.


Putri dengan seksama memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari mulut Reva. Sesekali meremas tangannya sendiri saking kesalnya dengan Ratu si hama dalam rumah tangga orang.


"Benar-benar yah itu orang. Gak tau malu banget. Umur doang gede, otak kecil," Ucap Putri dengan penuh emosi. Mendengar itu Reva hanya bisa tertawa kecil. Ini adalah masalahnya tapi yang lebih emosi justru Putri.


"Biarin ajalah. Nanti juga dia berhenti sendiri."


"Orang kayak gitu gak bakal berhenti sendiri, Rev. Harus dibuat sadar dulu."


Reva terdiam. Memang benar ucapan Putri, bisa saja Ratu tidak akan berubah dengan sendirinya. Mengingat bagaimana gadis itu sangat mencintai Revan.


Lalu dia harus melakukan apa?