Is My Dream

Is My Dream
Bagian 13



Ratu menggebrak salah satu meja mahasiswa yang sedang asik bercengkrama di kantin. Seisi kantin mendadak kaget dan terdiam. Mereka tidak paham apa maksud Ratu berbuat demikian.


"Heh, gue tau yah kalau salah satu dari kalian ada yang ngasih alamat gue ke Reva."


Ratu menunjuk satu persatu wajah teman Revan. Semuanya bingung karena memang mereka tidak tahu apa yang Ratu katakan. Sampai akhirnya Gabriel, teman dekat Revan datang dan menarik tangan Ratu agar menjauh dari meja teman-temannya.


"Kenapa? Gue yang ngasih, bukan mereka," Ungkap Gabriel dengan santainya.


Ratu hendak memeberikan tamparan tapi Gabriel jauh lebih gesit dan berhasil menghindar. Semuanya tertawa dan Ratu semakin marah dibuatnya.


"Maksud lo apa?"


"Lo nanya maksud gue? Yah gak ada, gue cuma niat ngasih aja karena memang tau. Gue malas buat bohong apalagi itu ke istri sahabat gue sendiri."


Ratu merasa sangat tersindir dengan kalimat terakhir Gabriel. Memang sejak dulu saat pertama kali menjalin hubungan dengan Revan, semua teman-teman Revan tidak ada yang setuju apalagi Gabriel. Mereka semua menentang dan bahkan pernah meminta Revan untuk putus dengan Ratu. Tapi entah apa yang membuat Revan sebodoh itu sampai masih mau mempertahankan perempuan yang jelas-jelas kurang baik menurut banyaknya mahasiswa dikampus.


Ratu sudah terkenal sering berganti-ganti pasangan. Kelakuannya juga kurang baik terhadap teman sejurusannya sendiri. Memang diakui Ratu itu cantik, tapi kelakuannya lah yang sangat jelek sampai menutupi kecantikan itu. Jadi semuanya hanya sia-sia saja.


"Gue kasih tau yah sama lo. Gak akan ada yang berubah. Gue akan selalu melindungi teman kolot gue itu dari cewek kayak lo," Ucap Gabriel dengan sinis kemudian pergi meninggalkan kantin. disusul dengan temannya yang lain.


Setelah emosinya meredup, Ratu melirik sekitarnya. Mendadak rasa malu muncul. Ia lalu pergi dengan rasa kesal luar biasa. Tidak lupa mengucapkan banyak umpatan pada orang-orang yang menurutnya tidak berguna.


...----------------...


Sudah sore. Reva terus berdiri di teras depan. Menunggu kepulangan suaminya yang katanya akan pulang lebih cepat hari ini. Tapi sudah begitu lama dan Revan belum juga menampakan diri. Reva sesekali memeriksa layar handphonenya berharap ada satu pesan atau satu panggilan dari pria itu.


Reva berniat menunggu karena rasa khawatirnya sejak kemarin terus mengganggu. Revan sakit namun masih memaksakan diri untuk keluar. Bukan ke kampus, tapi kerumah teman lamanya. Sungguh kebetulan sekali disaat Revan sakit teman lamanya yang kuliah diluar negeri mengabari kedatangannya di Indonesia. Membuat Revan buru-buru mengajak bertemu karena kesempatan mereka sangat amat jarang.


Arlojinya menunjukkan jam 2 siang. Artinya sudah 3 jam Revan keluar. Rasa khawatir semakin menggerogoti, Reva hanya bisa kesana kemari sambil mengigit kuku-kuku jarinya. kutek yang ia pakai juga terkupas sedikit demi sedikit.


Tin....


Suara klakson membuat Reva buru-buru mengangkat kepalanya dan benar saja Revan berada di depan pagar. Menurunkan kaca mobilnya lalu memberi gestur pada Reva agar segera melebarkan pagar. Reva menurut dan buru-buru berlari membuka pagar. Mempersilahkan mobil Revan untuk masuk.


"Kenapa lama banget? Ngapain aja? Kamu udah makan? Kepala kamu gak pusing kan?" Revan menghentikan langkah kakinya, membuat Reva yang sejak tadi mengekor dibelakang menabrak punggungnya. Reva ternganga namun beberapa detik kemudian tersenyum canggung. Sepertinya ia terlalu fokus mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi disimpannya.


"Tadinya rencana ketemu cuma berdua, ternyata gak sengaja teman aku yang lain muncul dan bahas pernikahan kita. Arya kan kaget dan langsung nuntut aku buat cerita," Jawab Revan sambil merebahkan tubuh lelahnya disofa ruang tamu. Reva ikut duduk, tidak lupa menuangkan segela jus jeruk dan memberikannya ke Revan.


"Masa ngobrolin nikahan aja sampai berjam-jam."


Reva membulatkan kedua matanya. Menggeser posisi, ia duduk hanya berjarak satu jengkal dari Revan. Membuat Revan reflek harus menggeser tubuhnya agar menjauh.


"Cowok kalau gosip gimana?"


Revan mengerjap.


How cute.


"Y-yah.... Biasa aja.... Ini ngapain sih dekat-dekat." Revan mendorong bahu kanan Reva agar mengambil jarak sedikit lebih jauh darinya. Namun Reva dengan polos justru semakin mendekat.


"Cowok kalau gosip terus ada yang lucu gitu langsung mukul gak?"


"Rev....."


"Kalau misalkan gibahin sesuatu mimik wajahnya suka digeli-geliin gitu gak?"


"Digeliin bagaimana Reva, astaga."


Reva menegakkan tubuhnya, membuat Revan keheranan. Setelah menegakkan tubuh, Reva membuat ekspresi kening berkerut, mata sinis, dan bibir dimiring-miringkan. Persis ibu-ibu bergosip ketika menceritakan keberukusan seseorang. Revan seketika tertawa keras, memegangi perutnya yang kesakitan. Ekspresi itu sudah sering ia lihat karena ibunya juga seperti itu ketika bergosip. Tapi jujur saja, dengan Reva justru berbeda. Terlihat lebih lucu dan polos.


Reva ikut tertawa karena melihat Revan tertawa. Mereka memparodikan semua hal-hal lucu dan ternyata Revan bisa secerewet dan seasik itu. Entah kenapa Reva mendadak diam, memperhatikan dengan lebih serius Revan tertawa. Sesuatu yang nyaman menggelitik hatinya. Bahkan untuk berkedip pun sulit, terlalu sulit untuk mengabaikan tiap detik senyuman Revan.


Seindah itu.


"Hahahaha.... Aduh, udah. Aku mau mandi dulu. Kamu makan duluan aja yah." Revan tersenyum sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Reva. Dengan senyum tipis, Reva memegangi dadanya sambil berjalan dengan pandangan kosong menuju dapur, nyaris menabrak meja.


Bahkan saat berada di meja makan pikirannya masih belum lepas dari Revan. Bayangan bagaimana pria itu tertawa dan terakhir tersenyum padanya terus berputar. Lagi-lagi Reva memegangi dadanya, memeriksa detak jantung yang tidak biasa. Ia suka perasaan ini, entah kenapa. Reva ingin merasakannya lagi.


Terakhir kali Reva merasakan sesuatu yang menggelitik seperti ini adalah saat SMP. Saat tanpa sengaja seseorang bertemu dengannya lalu membantunya menyelesaikan tugas rumah yang lupa ia selesaikan. Membantunya menjawab soal-soal dengan muda ditaman sekolah. Tugas yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah justru berakhir menjadi pekerjaan sekolah. Reva ingat ketika pria yang membantunya itu tersenyum, sesuatu hangat menggerogoti dadanya. Sama seperti yang terjadi saat dirinya bersama Revan.


Reva tersadar sesuatu, menepuk kedua pipinya agar sadar. Tidak mungkin, tidak mungkin ia menyukai Revan secepat itu. Tidak dan tidak boleh. Mengatur napas, Reva segera menghabiskan makanannya dan segera menuju kamar. Di dalam kamar sudah ada Revan yang berbaring di tempat tidur. Meluruskan kedua kakinya dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. Hanya melirik sekilas kearah Reva lalu kembali memejamkan mata.


Degdegan lagi. Reva menarik napas pelan-pelan kemudian menghembuskannya.


"Sadar Rev... Sadar." Reva mengurungkan niatnya untuk rebahan di kasur. Sekarang ia memilih untuk duduk di meja rias dan berhadapan dengan cermin. Melihat wajahnya yang memerah seperti tomat.