
Reva sangat ingin membanting semua barang yang ada dihadapannya. Sejak keluar dari taxi yang ditumpangi, Reva masuk ke dalam rumah dengan langkah kasar. Pintu ditutup dengan cara dibanting, terdengar akan copot karena saking kerasnya. Emosi yang tidak bisa ditahan berakhir dengan meneteskan air mata cukup keras. Reva tentu saja sakit hati mengetahui Revan memberikan uangnya pada Ratu. Bahkan sekalipun belum memiliki seorang istri, orang tua Revan juga pasti akan marah melihat kebodohan dari anak mereka sendiri.
Suasana rumah sudah cukup berantakan. Bantal sofa tidak lagi berada ditempatnya, melainkan terkapar di lantai. Revan yang baru pulang ke rumah kaget melihat ruang tamunya seperti kapal pecah. Dilihatnya Reva menunduk dengan kedua tangan terkepal kuat.
"Rev, aku minta maaf."
Tidak ada jawaban, Reva masih menunduk. Seperti seorang superhero yang sedang mengambil ancang-ancang untuk melawan musuh. Itu menakutkan dan Revan reflek mengambil beberapa langkah mundur.
"Rev..." Panggil Revan secara halus. Bagaimanapun caranya Revan harus menjelaskan semuanya pelan-pelan.
Kepala Reva terangkat, menampilkan wajah merah padam yang menyeramkan. "Ngapain kamu pulang ke sini?"
Revan mengerjap beberapa kali. Apakah ini Reva? Atau iblis yang merasuki? Suaranya berbeda, lebih berat dan sedikit serak. "Anu... Hm... Itu." Sialnya di situasi seperti ini dirinya justru tergagap-gagap.
Reva memejamkan kedua matanya, menarik napas lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Aku tau kamu bucin, Van. Yang bikin sakit itu pas aku pakai uang kamu, kamunya malah gak ikhlas. Tapi Ratu? Aku gak habis pikir deh." Reva sepertinya lelah sampai memilih untuk berbicara pelan. Melihat itu tentu saja Revan semakin merasa tidak enak. Rasanya seperti lebih menginginkan Reva meluapkan amarahnya.
"Aku beneran minta maaf. Ini udah jadi kebiasaan aku dari dulu. Selalu pengen manjain dia."
"Masalahnya kenapa sama aku kayak gak rela? Aku istrimu loh."
Revan mengangguk. "Makanya aku minta maaf. Mulai sekarang aku akan laporan sama kamu. Pemasukan aku sama pengeluaran, semuanya aku laporin dulu."
Reva memalingkan wajahnya. Percuma, ia sudah terlanjur sakit hati. Padahal jelas uang itu bukan sepenuhnya hasil keringat Revan, melainkan kedua orang tuanya. Ayah Revan juga sudah berpesan jika apa yang Revan miliki sekarang adalah milik Reva. Tapi yang sebenarnya adalah apa yang dimiliki Revan adalah milik Ratu.
Kesal, marah, dan kecewa semuanya bercampur menjadi satu. Reva tidak tahu harus melakukan apalagi demi bisa membuat Revan jera.
"Rev..."
"Sini ATM sama HP kamu!" Reva mengarahkan telapak tangannya kedepan Revan. Menunggu pria itu memberikan benda-benda pentingnya.
Meskipun berat hati, Revan akhirnya memberikan ATM dan juga ponselnya ketangan Reva.
"Van, sekarang aku gak akan takut buat ngadu ke Papa dan Mama soal ini."
Revan membulatkan kedua matanya. "Rev, janganlah. Aku sampai nikah sama kamu biar mereka tuh gak naik darah."
Reva mengedikkan bahu acuh kemudian pergi meninggalkan Revan. Masa bodoh, mertuanya sendiri yang bilang untuk mengadu saja jika anak mereka sampai melakukan hal-hal aneh. Jadi Reva akan memanfaatkannya mulai sekarang sebagai ancaman. Reva tahu betul jika Revan sangat menyayangi kedua orang tuanya. Bahkan rela melakukan apapun salah satunya adalah menikahi Reva. Jadi Revan juga pasti takut melihat kedua orang tuanya sampai marah dan naik darah.
Reva mengunci pintu kamarnya kemudian duduk bersila di atas tempat tidur. ATM dan ponsel Revan berada tepat di depannya, saat ini Reva hanya bingung mau melakukan apa pada dua benda itu. Tidak lama kemudian rasa penasaran mulai bermunculan, diraihnya ponsel Revan kemudian mulai membuka dan melihat isinya. Tapi sayang saat ingin membuka pesan whatsapp, aplikasi itu justru terkunci. Padahal Reva sangat penasaran apa saja yang biasanya mereka bicarakan. Apakah Ratu pernah menjelek-jelekkan Reva, atau apakah Revan pernah mengeluh tentang Reva pada Ratu.
Sial, seharusnya Reva meminta password pada Revan.
Ratu terus menyapa tapi heran karena tidak ada balasan untuknya. Mungkin Revan sedang sibuk? Tapi ada baiknya jika memang sibuk tidak perlu menyempatkan menjawab telepon. Ratu merasa terabaikan.
"Kalau memang sibuk aku matiin yah? Aku harap besok kamu ngampus."
Panggilan pun diputuskan sepihak oleh Ratu. Reva mencibir, semakin lama dirinya semakin membenci Ratu, entah untuk alasan apapun itu. Sifat polosnya yang dibuat-buat ketika bersama Revan selalu saja membuatnya muak. Apa ini berkesan jahat? Tapi Reva benar-benar ingin Ratu menjauh darinya. Tapi selama ia bersama Revan, gadis itu tentu saja akan terus ada.
Reva membanting ponsel Revan. Ia cemburu? Jelas! Reva semakin hari semakin menunjukkan sisi posesifnya.
"Rev, boleh minta HP gak?" Teriak Revan dari luar, terus mengetuk pintu kamar Revan pelan-pelan.
Setidaknya Reva masih memiliki sedikit rasa kasihan, ia pun turun dari ranjang dan berjalan untuk membuka pintu.
Revan tersenyum dan langsung masuk untuk mengambil ponselnya.
"Ada telepon dari mama gak?"
Sudut bibir atas Reva terangkat, tatapannya sinis. "Gak usah basa-basi. Pacar kamu tadi nelpon."
Revan menggaruk belakang lehernya salah tingkah. Padahal ia memang ingin bertanya tentang telepon dari ibunya apakah ada atau tidak, tapi Reva justru salah paham. Kenapa serba salah sekali menjadi seorang laki-laki?
Reva mendekat, menangkup kedua pipi Reva sampai membuat bibir istrinya itu mengerucut lucu.
Jangan tanyakan kabar Reva, jantungnya tentu saja mulai bereaksi. Yang perlu dilakukan hanya berdoa semoga Revan tidak menyadarinya.
"Aku lihat kamu semakin hari semakin sering sensi. Lagi dapat?"
Reva memukul lengan Revan agar berhenti menangkup kedua pipinya.
"Kepala kamu yang sensi," Jawab Reva masih dengan ekspresi sinis nya.
Memang benar, akhir-akhir ini Reva sering kali marah-marah tidak jelas. Apalagi jika itu menyangkut Revan, hal kecil pun terkadang dipermasalahkan. Sebenarnya menjadi Revan juga pasti sulit, pikir Reva. Secara tidak langsung harus bisa menghadapi dua gadis yang berstatus istri dan pacarnya. Tapi bukankah itu termasuk resiko? Revan sendiri yang membuat dirinya tersiksa. Sudah sadar punya istri, tapi masih mau bermain belakang dengan perempuan lain. Menghamburkan waktu juga uang padahal berjodoh saja belum tentu.
Reva mengambil kartu yang tergeletak di atas tempat tidur lalu melemparkannya ke arah Revan, untung saja Revan dengan sigap menangkapnya.
"Ambil balik barang kamu terus keluar dari kamar aku."
"Rev..." Revan berusaha memohon agar Reva tidak bertingkah seperti ini.
"Van, tolong? Aku lagi gak mood ada kamu."
Akhirnya Revan pasrah. Ia pun keluar tapi sebelum itu meminta pada Reva agar tidak berlama-lama badmood.