
Revan kembali dengan membawa ember yang airnya sudah diganti dengan air hangat. Ia kembali duduk di tepi ranjang dan mengompres kening Reva yang saat itu sedang terpejam. Saat fokus merawat Reva, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Segera Revan mengangkat panggilan itu dan berbicara berbisik, enggan mengganggu Reva yang sedang beristirahat.
Obrolan mereka cukup panjang sampai Revan lupa untuk mengganti kain yang ada dikening Reva. Sebenarnya Reva tidak tertidur, ia hanya sekedar memejamkan mata dan tentu saja setiap kalimat yang keluar dari mulut Revan masih terekam jelas dikedua telinganya. Ia tahu Revan sedang berbicara dengan Ratu.
"Yaudah sayang, maaf yah aku gak bisa masuk dulu. Aku lagi gak enak badan. Dah... Sayang."
Panggilan ditutup.
"Eh, astaga. Jadi lupa ganti kompreaannya. Aduh, mana udah dingin lagi."
Revan buru-buru keluar untuk mengganti airnya yang sudah dingin padahal baru satu kali mengompres Reva. Menyaksikan hal itu, Reva memutar bola matanya. Terlalu asik berpacaran sampai lupa sekitar. Kalau Reva pendarahan, mungkin sudah mati sejak tadi.
Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, Revan kembali untuk kesekian kalinya dengan ember andalan berisi air hangat. Reva membantin, semoga kali ini tidak ada lagi pengganggu yang akan membuat air hangat Revan kembali dingin.
"Cepat sembuh. Lihat bibir kamu jadi pucat begini, kan jelek. Kalau sakit juga gak ada yang masak. Gak ada yang berisik." Revan terkekeh, mengusap sudut bibir Reva, membuat degupan jantungnya lagi-lagi berirama dengan tempo yang sangat cepat. Andai Revan sadar perlakuannya barusan tidak aman untuk jantung. Memberikan sensasi yang cukup membahayakan.
Untuk sekarang Reva masih enggan membuka matanya. Melihat itu, Revan pikir Reva sudah tertidur dan butuh istirahat yang cukup tanpa gangguan. Akhirnya ia keluar dan menutup pintu pelan-pelan. Setelah Revan berhasil keluar, Reva langsung mengubah posisinya dengan duduk bersandar pada headboard. Kedua tangannya memegang dadanya, memeriksa apakah jantung itu benar-benar masih berdetak.
"Gak... Gak... Gak... Bisa mati aku kalau begini terus." Reva memegangi kepalanya. Mengasihani dirinya yang sekarang terlalu cepat terbawa perasaan saat bersama Revan, terlebih jika mendapatkan perlakuan-perlakuan manis. Apa yang harus Reva lakukan sekarang. Ia jadi sangat menginginkan Revan, benar-benar menginginkannya.
Revan menuruni anak tangga satu persatu. Setelah meninggalkan kamar Reva, ia berniat kedapur untuk mencari apa yang bisa Reva makan. Dikulkas hanya ada bahan masakan seperti daging, ayam, ikan, dan sayuran. Sementara Revan sama sekali tidak bisa memasak selain makanan instan seperti mie, telur, dan sebungkus bubur. Akhirnya ia menelpon pembantu yang dulu bekerja dirumahnya, meminta tolong untuk membuatkan semangkuk bubur dan mengantarkannya dalam keadaan yang masih hangat. Untung saja permintaannya langsung disetujui dan Revan hanya tinggal menunggu.
Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya bubur itu datang bersama seorang bapak tua berhelm grab. Setelah menerima buburnya, Revan langsung kedapur untuk memindahkannya ke mangkuk. Tidak lupa sebelum memberikan bubur itu pada Reva, Revan mencicipinya lebih dulu. Enak, ia pun tersenyum dan berjalan naik ke kamar Reva sambil tersenyum. Bibinya memang tidak pernah gagal setiap kali membuatkan masakan.
Bukankah Revan benar-benar aneh sekarang?
"Rev... Ayo makan dulu." Revan membuka pintu dan masuk. Ia kaget mendapati Reva sudah duduk sambil melamun.
"Heh, ngelamun aja." Revan meletakkan buburnya di atas meja lalu menurunkan selimut yang menutupi kedua kaki Reva. "Ayo makan."
Reva melirik meja di samping tempat tidurnya. "Kamu yang buat?" Tanyanya saat melihat satu mangkuk bubur di sana.
Revan meraih mangkuk itu dan mulai menyuapi Reva. Oke baiklah, sepertinya Revan benar-benar ingin membuat Reva mati karena serangan jantung sekarang.
"Makan dulu yah. Nanti minum obat." Reva menggerakkan sendoknya, memberi isyarat halus agar Reva menerima suapan itu.
Walau dengan jantung yang sudah berdetak tidak karuan, Reva akhirnya menerima suapan itu. Membuat Revan tersenyum dan menunggu bubur di mulut Reva habis lalu kembali menyuapinya. Terus seperti itu hingga akhirnya tanpa sadar bubur Reva sudah habis. Benar-benar kering di mangkuk. Entah karena enak, atau karena Reva terlalu menikmati momen manisnya.
"Nih." Revan menyodorkan obat penurun panas juga segelas air.
"Pahit gak?"
Reva memutar kedua bola matanya dan Revan hanya terkekeh.
"Nih cepat minum habis itu istirahat."
Reva akhirnya menelan pil pahit itu dengan mata terpejam. Reva sangat tidak suka obat tapi karena tidak ingin terlihat manja di depan Revan, ia pun dengan terpaksa tetap menerima obatnya. Revan puas, ia kemudian menarik kembali selimut untuk menutupi tubuh Reva, memintanya kembali berbaring dan beristirahat.
"Kamu mau kemana?" Tanya Reva.
"Nggak ke mana-mana, di sini aja temanin kamu."
"Kamu bakalan bosan!" Reva mengerucutkan bibirnya, hal yang mampu membuat kedua tangan Revan terkepal menahan gemas agar tidak reflek mencubit kedua pipinya. Ketahuilah, Revan ini tipe pria yang mudah gemas dengan hal-hal manis dan lucu.
"Gak akan bosan. Aku bisa nonton atau gak main hp." Reva mengangkat ponselnya sambil mengedip genit.
"Halah, sambil ngebucinin Ratu yang ada."
"Kok tau?"
"Hih!" Reva jadi kesal sekarang. Ia menarik selimut dan tidur memebelakangi Revan.
Melihat hal itu, senyum yang tadinya terlukis diwajah Revan menghilang. Entah kenapa setiap kali melihat respon Reva yang seolah-olah sangat tidak menyukai tentangnya dengan Ratu, membuat Revan menjadi takut. Ia selalu berpikir jika Reva cemburu.
Tapi tidak. Itu tidak mungkin. Mereka berdua sudah sepakat tidak akan sampai ke tahap yang terlalu jauh. Seperti jatuh cinta, apalagi cemburu. Revan yakin Reva tidak akan melakukannya.
...****************...
Revan terbangun dan mendapatkan dirinya sedang tertidur dikasur, padahal seingatnya terakhir kali ia sedang berbaring di atas sofa. Saat melirik kesamping, betapa kagetnya Revan melihat Reva sedang tertidur nyanyak menghadap kearahnya. Tunggu, ini membuat tubuh Revan tidak bisa bergerak, rasanya sangat kaku. Bagaimana bisa? Apa yang sebelumnya terjadi. Oh Tuhan, Revan benar-benar seperti orang bodoh yang kebingungan.
"Rev?" Revan mengguncangkan tubuh Reva pelan-pelan, tapi tidak ada respon dari gadis itu. Sepertinya sudah sangat nyaman dengan mimpinya. Lalu apa yang harus Revan lakukan? Di luar sudah malam, demam Reva juga tidak kunjung turun.
"Rev, ayo bangun. Kamu belum makan. Makan roti tawar aja dulu yah? Yang penting perutnya gak kosong." Revan menepuk-nepuk kedua pipi Reva, membuatnya membuka mata perlahan-lahan.
"Ughhhh." Reva bangkit untuk duduk dengan dibantu Revan.
"Tunggu sebentar yah? Aku kedapur buat bikin roti selai. Mau rasa apa?"
"Nanas aja," Jawab Reva.
Revan kemudian berlari dengan kecepatan kilat untuk mengambil roti dan selai. Hal itu membuat Reva tersenyum, ia terharu sekaligus merasa beruntung saat ini karena melihat sisi paling baik dalam diri Revan.