
Revan dan Ratu menikmati makan siangnya di kantin, dengan Revan yang terus melirik tasnya. Rasa tidak enak semakin menghantui, tapi bagaimana cara memakan bekal yang Reva kasih jika Ratu terus berada di dekatnya.
Melihat kegelisahan sang kekasih, Ratu langsung mengikuti arah mata kosongnya memandang. Tas, Ratu langsung merampas tas Revan yang berada di atas meja dan langsung membukanya. Revan berusaha menahan tangan Ratu tapi percuma, Ratu bisa lebih lebih cepat menghindar dan tas itu berhasil terbuka.
"Ini apa?" Ratu mengambil kotak bekal yang Reva buatkan untuk Revan. Mengangkatnya ke depan wajah Revan dan berharap pria itu segera menjawab pertanyaannya dengan jujur.
Beberapa detik Revan terdiam, namun dengan satu tarikan napas ia akhirnya menjawab, "Bekal."
Ratu memejamkan kedua matanya, berusaha menahan diri agar tidak meledak. Sebenarnya Ratu sudah menebak dari siapa bekal yang ada ditangannya. Tapi ia ingin mendengar pernyataan Revan sendiri.
"Dari siapa?"
"Reva."
Brak!!!
Seisi kantin menoleh ke asal suara dan mendapati Ratu menggebrak meja. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi tidak heran melihat kelakuan kasarnya. Beberapa siswi berkumpul dan mulai berbisik, di antara mereka juga ada yang mencibir.
"Kayak kantin punya dia aja," Bisik salah satu gadis yang tidak jauh dari meja Ratu.
"Cewek kok gitu yah. Dikit-dikit emosian," Tambah yang satunya.
Teman Revan, Vano yang mendengar kabar kehebohan kantin langsung datang menghampiri mereka. Menarik napas berat, Vano langsung menarik tangan Revan agar keluar bersama. Disusul Ratu dari belakang.
"Lo berdua apa-apaan sih. Gak malu jadi pusat perhatian terus?" Vano melipat kedua tangannya di depan dada lalu kembali berujar, "Lo berdua adalah pasangan yang paling heboh di sini, dan lo..," Tunjuknya pada Ratu "Lo gak malu jadi cewek emosian mulu? Gak sama pacar lo, teman lo, dan siapapun bawaannya marah terus. Gue sampai sekarang heran kok Revan bisa bertahan sama lo yang begini."
"Yang begini gimana maksud lo?" Mendengar ucapan Vano membuat Ratu semakin memanas.
"Lo sadar bentukan lo gak sih? Lo cantik tapi pernah gak ngerasa diri lo itu primadona kampus yang jadi incaran cowok-cowok? Nggak kan? Mereka juga milih-milih. Bahkan si Rita anak culun itu lebih banyak yang ngincar dari lo." Vano melirik Revan yang hanya bisa diam tanpa membela Ratu. Untuk beberapa orang Revan mungkin masih bisa melawan tapi tidak dengan Vano. Vano adalah sosok yang tegas dan berjiwa pemimpin. Segala hal didominasi olehnya "Dan lo, Van. Kalau udah tau pacar lo karakternya begini yah lo jagain lah. Bertingkah mulu heran."
Plak!!!
Satu tamparan mendarst mulus dipipi Vano. Tamparan yang asalnya dari tangan Ratu.
"Gue yang punya masalah kok lo yang sibuk?"
Vano memegangi pipinya yang ia yakini pasti sudah memerah. Perihnya cukup terasa. Dengan senyum sinis ia kembali menatap Ratu.
"Lo nanya kenapa gua sibuk? Gini nih kalau otak bongkar pasang dan lo lupa bawa dari rumah. Gue anggota BEM di sini dan kelakuan lo ini bikin gua dikit-dikit dipanggil buat ngurusin. Lo kalau gak mau orang ikut campur sana ribut dihutan berdua. Gila kali lo," Ucap Vano kemudian pergi meninggalkan Ratu yang terdiam.
Sekarang tersisa Revan dan Ratu di secret room. Vano sengaja membawa mereka ke sini agar lebih leluasa bertengkar tanpa diketahui orang luar. Mengingat ruangan ini berada dibagian belakang dan kedap suara. Hanya ada CCTV sebagai pengawas, berjaga-jaga jika ruangannga disalah gunakan.
Mengacak rambutnya frustasi, Revan duduk disofa panjang. Benar apa yang dikatakan Vano mengenai Ratu. Ratu adalah sosok yang terlalu mudah emosi dan kekanak-kanakan. Terkadang Revan sendiri bingung bagaimana menghadapinya.
"Kamu bisa gak dewasa sedikit?" Tanya Revan memecah keheningan.
Ratu mengangkat kepalanya menatap Revan "Aku? Kamu mikir lah ngapain terima bekal dari Reva? Aku tuh pacar kamu dan jelas aku cemburu."
"Aku terima bekal Reva bukan cintanya! Kamu apa-apaan sih. Aku sama Reva itu udah nikah, hal begini wajar. Yang penting aku gak macam-macam. Jangan apa-apa kamu permasalahin di tempat umum. Pikir juga gimana malunya aku."
"Kan... Susah ngomong sama kamu. Disalah artikan mulu. Aku mau pulang, capek."
Revan langsung keluar begitu saja mengabaikan teriakan Ratu yang memintanya berhenti. Setelah berada diparkiran Revan langsung menelpon dan meminta bantuan Vano untuk mengambil tasnya dan membawanya ke rumah. Sebenarnya akan ada kelas hari ini, tapi Revan lebih memilih bolos karena mendadak malas melihat wajah Ratu.
Mendapat balasan dari Vano, Revan bergegas pulang kerumah. Pikirannya kacau namun begitu melihat kotak bekal yang sempat ia rampas dari tangan Ratu, Revan segera menepikan mobilnya dan berhenti. Untuk beberapa waktu Revan terdiam lalu membuka kotak bekal itu dan mulai makan. Setidaknya makanan ini bisa membuat Revan sedikit lebih baik.
Setelah makanan di kotak bekalnya habis, Revan kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di rumah. Begitu turun dari mobil ia langsung mendapati Reva sedang sibuk menyiram bunga dan merapikan halaman rumah, Revan yang tidak ingin mengganggu langsung membuka pagar sendirian dan hal itu membuat Reva tersadar lalu menghentikan aktifitasnya.
"Kok udah pulang aja?" Tanya Reva, ikut membantu Revan mendorong pagar.
"Lagi gak mood. Pengen bolos." Revan kembali masuk ke dalam mobil dan membawanya ke garasi, diikuti Reva dari belakang.
"Ada masalah yah?"
"Masalah? Gak ada."
"Bohong, Vano datang bawain tas kamu dan cerita."
"Itu anak emang ember banget yah. Yaudah, bukan urusan kamu juga."
Revan meletakkan kotak bekalnya di meja lalu segera masuk. Ia ingin merebahkan tubuhnya untuk menghilangkan pusing karena kejadian tadi.
"Habis?" Reva heran melihat makanan yang ia buatkan untuk Revan ternyata sudah habis. Padahal Reva pikir makanannya akan pulang tanpa disentuh.
Saat Reva hendak melangkah masuk ke rumah, seseorang dari belakang datang dan menarik lengannya. Membuat Reva terpaksa menoleh dengan kaget.
Ratu?
Semakin terkejut melihat keberadaan Ratu di rumahnya, Reva langsung mundur beberapa langkah.
"Gak tau diri banget lo. Udah mulai pintar cari perhatian yah sekarang," Ucap Ratu, membuat Reva semakin kebingungan.
"Ini apaan sih. Datang-datang bikin keributan begini."
"Lo yang mancing keributan. Maksudnya apa nih sediain bekal buat Revan. Ingat yah, dari awal keberadaan lo di sini itu cuma benalu. Revan cintanya cuma sama gue, dan karena lo dan kedua orang tua lo itu gue harus jaga jarak sama Revan."
Mendengar kedua orang tuanya diikutsertakan, dengan emosi yang tertahan Reva maju beberapa langkah. Mengikis jarak yang sempat ia buat bersama Ratu.
"Jangan bawa-bawa orang tuaku. Dari awal perjodohan ini udah ada bahkan jauh sebelum kamu kenal Revan. Kamu bisa lihat dari dua nama kita yang saling terhubung kan? Kamu pikir itu sesuatu yang gak disengaja? Atau cuma kebetulan? Salahin diri kamu yang cuma mau dipacarin tapi gak bisa dinikahin. Dari awal bukannya mama Revan udah bilang Revan itu mau dijodohin? Aaaahhh... Aku ingat." Reva menatap langit, mengetuk dagunya seolah-olah sedang berpikir kemudian kembali berujar, "Bahkan di saat kalian baru 2 hari pacaran dan Revan kenalin kamu ke orang tuanya mama udah bilang kan kalau Revan itu dijodohin dari kecil? Ini bukan salah siapa-siapa, tapi kamu yang terlalu berani. Yah gimana, udah resiko."
"KAMU!!" Ratu mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Reva. Namun walau jauh lebih muda dari Ratu, Reva bisa menahan pergerlangan Ratu dengan tangannya.
"Aku udah belajar cara hadapin orang kasar kayak kamu," Desis Reva, menghempaskan tangan Ratu dengan kasar dan masuk ke dalam rumah.
Ratu memejamkan kedua matanya. Demi apapun, ia akan membalas Reva sampai gadis itu memohon padanya untuk berhenti.