Is My Dream

Is My Dream
Bagian 23



Setelah mengobrol serius dengan ayahnya mengenai kelanjutan pendidikan Reva, hari ini Revan berniat mengajak Reva untuk berjalan-jalan menikmati angin malam, sekalian membicarakan apa yang sudah ia bicarakan bersama ayahnya beberapa hari lalu.


Awalnya Reva tidak menyangka jika Revan akan mengajaknya keluar. Biasanya mereka hanya akan keluar jika ada keperluan yang mengharuskan, seperti berbelanja bahan masakan. Ini adalah hal yang pertama kalinya untuk Reva setelah menikah selama 6 bulan lamanya. Jika dipikir-pikir lagi waktu berjalan dengan cepat tanpa disadari. Reva sendiri bahkan tidak menyadari pernikahannya sudah berjalan setengah tahun. Walau awalnya banyak kesulitan, tapi syukur tetap ada sedikit kemajuan.


Kebencian Revan dan sikap sinisnya sedikit berkurang. Walau hanya sedikit, terkadang ada waktu di mana Revan bersikap cuek.


"Selesai..." Reva menatap penampilannya dicermin. Sederhana saja karena mereka akan keluar untuk sekedar menikmati angin malam. Bukan ketempat romantis semacam restoran atau taman kencan.


Setelah selesai, Reva segera turun menemui Revan yang sudah siap di bawah. Mereka kemudian berjalan keluar bersama setelah memastikan keamanan rumah.


Suasana masih cukup canggung. Mereka melangkah dengan keheningan, Revan sebagai seorang pria bahkan tidak tahu harus memulai dari mana untuk memecah keheningan di antara mereka berdua. Sampai akhirnya Reva lah yang berbicara duluan.


"Dingin gak?" Tanya Reva sebagai pembuka obrolan, berkesan basa basi dan Revan menyadari hal itu. Bodohnya ia tidak bisa seberani dan seterbiasa Reva.


"Lumayan. Akhir-akhir ini angin lumayan kencang pas malam," Jawab Revan.


Mereka terus berjalan. Membicarakan hal-hal random karena Reva memiliki begitu banyak pertanyaan, tapi hanya seputar keluarga Revan dan Revan dengan senang hati menjawabnya.


"Bentar deh, kamu tumben ngajakin jalan-jalan? Lagi pengen bikin kesepakatan baru?"


Revan mengerutkan keningnya. "Seperti?"


"Kesepakatan aku gak boleh ngomong aneh-aneh ke papa dan mama soal kamu."


"Nggak. Kita duduk di situ dulu biar enak ngobrolnya."


Revan menunjuk kursi panjang yang terletak di pinggir jalan. Karena sudah malam begini, jalan biasanya lebih sepi dan kursi juga kosong. Mereka bisa memanfaatkan suasana itu untuk berbicara serius.


Mereka berdua akhirnya duduk di kursi dan Revan mulai berbicara serius.


"Aku dengar-dengar kamu mau kuliah yah?"


Sekarang giliran kening Reva yang mengerut. Heran karena Revan tiba-tiba membahas tentangnya. Biasanya menjadi yang lebih cuek.


Reva mengangguk. "Kenapa?" Kemudian mengatur posisi duduknya agar terlihat lebih serius menanggapi topik yang akan dibahas Revan.


"Aku kemarin ngobrol sama papa, tentang mau kamu ngelanjutin kuliah dan..."


"APA???" Reva menjerit, memotong ucapan Revan dan Revan hanya bisa meneguk ludahnya karena terkejut. Untung suasana sudah sepi dan tidak banyak orang yang lewat. Kalau tidak, mereka pasti sudah menjadi pusat perhatian.


"Jangan dipotong dulu," Tegur Revan dan Reva langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri. Revan hampir tertawa gemas andai saja dirinya tidak bisa menahan.


"Jadi, papa awalnya gak yakin karena takut gak ada yang ngurusin aku. Tapi aku udah jelasin kepapa kalau kamu udah cukup bagus ngurusin rumah dan aku. Akhirnya papa setuju asal bisa..." Ucapan Revan terpotong, tentu membuat Reva semakin penasaran.


Dengan malas dan terpaksa, Revan melanjutkan kalimat yang baginya tidak perlu dikatakan. "Aku harus jagain kamu di sana dan gak bikin kamu merasa kesulitan."


Kedua mata Reva berbinar. Reflek memeluk Revan dengan sangat erat. Karena perlakuan yang tiba-tiba itu, Revan mengangkat kedua tangannya diudara dan membiarkan Reva memeluk pinggangnya. Suasana menjadi canggung, lebih tepatnya Revan lah yang merasa canggung.


"Makasih, kak. Makasih banget. Aku beneran mau kuliah. Aku mau banget masuk jurusan yang aku pilih dari dulu. Karena papa dan mama nuntut aku buat nikah, aku pikir gak akan ada peluang lagi buat impian itu," Ucap Reva disertai isak tangis yang mulai terdengar. Pelukannya juga semakin erat, nyari membuat Revan kesulitan bernapas karena kekurangan pasokan udara.


Revan dengan pelan melonggarkan pelukan Reva hingga benar-benar terlepas kemudian mulai menarik napas. Dilihatnya gadis itu menunduk. Mungkin tidak ingin Revan melihatnya menangis.


"Jadi gimana?" Tanya Revan, memastikan apa keputusan Reva setelah mendengar penjelasannya.


Reva mengangkat wajahnya menatap Revan dan sekarang Revan bisa melihat jelas mata merah akibat air mata yang mengalir terus menerus.


"Aku mau," Jawab Reva dengan penuh harap.


"Yaudah. Aku bakalan ngurusin semuanya. Kamu harus siap-siap dan kamu tahu kan kalau kampus yang aku pilih itu kampus aku? Biar bisa ngawasin kamu karena itu juga syarat dari Papa."


Reva mengangguk, "Apapun, asal aku bisa kuliah."


"Nah. Sekarang kita pulang dan tolong jangan nangis. Takutnya dikira aku ngapa-ngapain kamu."


Reva segera menghapus jejak air mata dikedua pipinya dan kembali tersenyum. Senyum yang anehnya membuat Revan ikut tersenyum tipis, sangat tipis dan ia yakin Reva tidak menyadarinya.


Akhirnya setelah obrolan tadi, atau lebih tepatnya kejutan yang diberikan Revan malam ini, Reva merasa bahagia yang amat sangat bahagia. Ia tidak menyangka jika Revan akan mewujudkan mimpinya yang selama ini Reva pikir hanya akan ia kubur dalam-dalam.


Bahkan kedua orang tuanya sendiri tidak pernah membahas hal itu. Setiap kali Reva bersemangat menceritakan prestasinya, mereka hanya akan tersenyum menanggapi dan tidak memberi dukungan seperti yang Reva harapkan. Tapi Revan justru memberikan dukungan itu.


Menyentuh dadanya dengan kedua tangannya, Reva tersenyum lebar. Besar kemungkinan jika Revan terus seperti ini, Reva akan jatuh cinta.


Saat sibuk- sibuknya berkhayal, Revan tiba-tiba membuka pintu kamar Reva dan menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Membuat lamunan Reva butar seketika.


"Belum tidur?"


Reva menggeleng. Masih cukup kaget dengan kedatangan Revan yang tiba-tiba.


"Tidur! Besok kamu harus belajar," Tegas Revan. Membuat Reva mengangguk patuh dan buru-buru memakai selimutnya menutupi seluruh tubuhnya.


Revan lagi-lagi tersenyum dan segera menutup pintu kamar Reva lalu turun ke kamarnya.


Setelah kepergian Revan, Reva kembali membuka selimutnya dan melihat jam. Ternyata sudah hampir jam 11 malam. Rasanya Reva ingin waktu lebih cepat berlalu dan segera masuk ke bangku kuliah. Besok ia harus mengabari Putri agar Putri juga bisa membantunya.


Dan untuk kedua orang tuanya, Reva akan menyerahkan urusan itu ke Revan. Kalau Revan yang menjelaskan mungkin mereka tidak keberatan dan lebih bisa menerima. Karena alasan utama mereka tidak mendukung Reva kuliah adalah karena Reva akan menjadi seorang istri. Sekarang Revan, suaminya sendiri yang mendukung pendidikannya. Reva harap kedua orang tuanya juga bisa menerima keputusan Revan.