In Between

In Between
Bussy Working Days 2



Gue belum terlalu paham dengan dunia kerja yang gue geluti saat ini. Pengalaman kerja gue nol besar. Jadi posisi Galvin di sini sangat membantu gue. Apalagi dalam bisnis real estate, kita harus berhubungan dengan banyak orang serta membangun sosial networking yang luas. Bekerja sama dengan developer, mencari investor, menarik client, dan berurusan dengan pihak-pihak perizinan serta perbankan untuk melakukan transaksi. Benar-benar rumit. Apalagi gue yang masih belum menguasai product knowledge dan step-step untuk menuntun pembeli ke arah transaksi. Skill komunikasi dan negoisasi gue diuji secara praktek. Bagaimana menghadapi orang lain, menyikapi orang lain dengan baik dan benar, menangani keberatan, negoisasi dan lain sebagianya. Tidak mudah memang untuk menjual properti. Alurnya cukup runtut dan rumit. Apalagi properti rumah dan perumahan yang merupakan obyek tetap. Baru di awal-awal gue udah kewalahan sendiri. Jadi untuk beberapa minggu ini kebanyakan tugas gue dikerjain Galvin, sementara gue tinggal kasih komentar dan tanda tangan. Benar-benar memalukan.


Galvin itu baik dan bisa diandalkan. Dia nggak hanya menghandle pekerjaan, tapi juga memperhatikan kebutuhan gue. Misalnya aja ketika gue harus lembur dia juga ikutan lembur, bahkan bikinin gue kopi biar mata gue betah melek. Ketika jam makan siang dia ingetin gue buat makan, atau kalau gue lagi nggak bisa diganggu, dia beliin makan siang buat gue.


"Bu, ini sudah jam satu lho bu. Ibu belum makan siang kan"


"Bentar lagi Vin, ini client lagi ribut masalah KPR sama pihak bank. Kalau kita nggak segera melengkapi berkas-berkasnya untuk diserahkan ke bank, nanti dananya nggak cair, ini client bisa pergi."


"Iya bu, tapi ibu makan dulu. Nanti kalau ibu sakit terus nggak bisa kerja kan malah keteteran"


"Kamu ini diem aja deh. Ganggu konsentrasi saya aja. Udah sana keluar dari ruangan saya." bentak gue emosi. Tapi kayaknya bentakan gue nggak ngaruh. Lelaki satu ini emang bebal, meskipun gue sering maki-maki dia, marahin dia, tapi tetep aja dianya stay cool gitu. Dimana-mana bawahan itu takut sama atasan, lah ini udah kena omel gue berulang kali tapi nggak ada kapok-kapoknya.


Yang terjadi berikutnya adalah dia ambil laptop dari hadapan gue, narik tangan gue menuju sofa  dan mendudukan gue di sana. Dia bukain sebuah kotak makan berlogo hokben dan nyuruh gue makan. Tau darimana gue lagi pengen masakan jepang.


"Ibu makan aja, biar saya yang nyelesein pekerjaan ibu" lanjutnya.


"Tap-" baru aja mau gue bantah tapi dia segera menyela, "Udah ibu nggak usah protes. Lagian akan lebih cepet kalau saya yang mengerjakan. Tapi nanti bonus saya ditambahin ya bu.. he he." masih aja tuh anak bisa ngajak bercanda. Gue pun tersenyum ke arah dia.


 


 


Ternyata bekerja itu nggak semudah yang gue pikirkan. Dulu waktu masih sekolah, gue pengen cepet-cepet kerja. Karena di dunia kerja nggak akan ada ulangan matematika yang bikin begadang semalaman, nggak akan ada upacara bendera yang bikin kering dan keringetan. Tapi setelah gue ngerasain gimana beratnya bekerja, gue malah pengen balik ke masa-masa sekolah lagi. Manusia memang nggak pernah bersyukur ya?


Gue capek. Bener-bener capek. Capek dengan segala rutinitas pekerjaan gue dan capek dengan diri gue sendiri. Gue merasa gagal. Tiap pulang gue langsung tidur, kadang waktu weekend pun gue habisin buat bergulat sama pekerjaan gue. Gue pengen menunjukkan sama semua orang kalau gue ini  bisa. Tapi kenyataan nggak semudah itu. Meskipun gue udah berusaha semaksimal mungkin, sampai lembur berhari-hari, begadang tiap malam, tapi gue nggak menghasilkan apa-apa. Gue frustasi, pengen rasanya marah sama diri gue sendiri karena nggak becus. Gue merasa terbebani. Dulu gue sok-sok-an nolak proyek sekecil ini dan pengen ngerjain proyek yang lebih besar. Tapi setelah gue jalanin, pengen rasanya gue berhenti di tengah jalan. Nggak sanggup.


Sekarang gue udah ada di mobil Kai. Seperti biasanya, pulang dari kantornya dia jemput gue dulu. Gue masih ngelamun ketika gue menyadari jalan yang kita lalui untuk pulang bukan jalan yang biasanya.


"Loh Mas, kok lewat sini? Kita mau kemana?" tanya gue heran


"Udah nanti juga tahu" cengirnya.


Karena kepala gue masih penat dengan urusan kantor, gue memejamkan mata dan tidur.


"Dek, bangun kita udah sampai" gue denger samar-samar suara Kai di dekat telinga gue menyebabkan gue perlahan membuka mata.


Terlihat sebuat resort yang sangat elegan dan asri di depan mata gue. Benar-benar menyejukkan mata. "Ini dimana?" tanya gue heran. Kai hanya tersenyum sambil melepas seatbelt yang gue kenakan. Setelah itu dia mengajak gue keluar dari mobil. Ternyata dia bawa gue ke sebuah Resort and Spa di deket Bandung. Resort ini terkenal dengan pemandian air panas dan udara pegunungannya yang sejuk.


Setelah selesai massage, kita pesen satu private hot spring pool. Gue ga masalah sebenarnya nyempulng di pemandian air panas yang untuk umum, tapi Kai kekeh pengen yang private aja. Katanya biar lebih hiegienis, ngak campur-campur sama banyak orang. Gue lagi nggak mau berdebat sama kepala batunya, jadi gue iyain aja.


Gue nyemplung duluan. Gue bisa rasain buih air hangat itu menyapu kulit gue, bener-bener bikin gue rileks dan pikiran gue jadi lebih enteng. Apalagi bau belerangnya yang tambah bikin nyaman.


 


Nggak berapa lama Kai dateng dengan bath-robenya. Setibanya di pinggir kolan dia buka bath-robenya, menampakkan dada bidang dan pahatan kotak-kotak di perutnya. Gue curi-curi pandang, euhh bener-bener sexy suami gue.


Kemudian dia menenggelamkan diri di kolam yang hanya setinggi perutnya itu dan berendam di samping gue. "Kamu hebat." ucapnya. Gue menoleh. "Kamu udah behasil bikin kontrak sama client kan?" lanjut Kai.


Gue mendengus, "Itu belum apa-apa, Mas. Baru satu kontrak yang berhasil aku dapet. Masih harus cari lebih banyak client lagi."


"Tapi kan yang penting kamu udah berhasil dapet satu" celutuknya.


"Itu masih jauh di bawah target." Tiba-tiba kepala gue terasa berat keinget tuntutan pekerjaan yang nggak ada habis-habisnya.


"Dek, namanya bekerja itu dimulai dari nol. Naiknya pelan-pelan. Ya nggak bisa kalau sekali jalan udah langsung di atas. Semua ada prosesnya. Nikmati aja proses yang sekarang kamu jalani. Meskipun terasa berat sekarang, tapi nanti kalau sudah berulang kali akan terasa biasa aja" nasihat Kai.


Tanpa gue sadari, gue merebahkan kepala gue yang terasa berat ke pundak telanjang Kai. "Mas, aku capek" ucap gue sambil memejamkan mata. Air yang hangat, udara yang segar, dan badan yang lelah, benar-benar membuat rasa kantuk menyerang. Yang terakhir gue rasain adalah tangan Kai yang dengan lembut mengelus rambut gue sebelum akhirnya gue tertidur.


 


 


 


 


"Eunggh" gue mendesah, nyawa gue masih belum tekumpul sepenuhnya. Gue merasakan sentuhan aneh di badan gue. Perlahan gue buka mata dan menemukan diri gue berada di pelukan Kai.


Gue berontak. Tapi rengkuhan Kai di badan gue sangat kuat. Gue pukul-pukul dadanya, percuma, dia jauh lebih kuat daripada gue. Dan ditengah-tengah kepanikan gue, gue dengar dia berbisik, "Dek, Mas udah nggak kuat".