
Harusnya malam ini gue yang ngasih kejutan ke Kai, bukan malah Kai yang bikin gue terkejut.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.35 malam. Kai belum juga pulang. Tadi sore waktu gue telepon Kai bilang bakalan pulang kayak biasanya, yang berarti nggak terlalu malem. Tapi sekitar jam tujuh tadi gue dapet chat dari suami gue kalau dia ada urusan sebentar sama Sigra. Sebentar tapi ternyata sangat lama.
Gue sampai ngantuk nungguin di sofa. Berulang kali gue hubungi nggak diangkat. Ponselnya Sigra juga sama aja, nggak bisa dihubungi. Ini dua lelaki kemana sih, awas aja kalau Sigra ngajarin aneh-aneh sama suami gue.
Tuut..tuuut...tuut...
Gue dengar seseorang memasukkan password dan membuka pintu apartemen gue. Yup, pasti itu suami gue. Buru-buru gue matikan lampu utama di ruang tamu, dan menyalakan lampu yang agak remang-remang. Gue rapiin sekali lagi surprise gue dan langsung melaju ke depan pintu menyambut suami tercinta.
Loh.. ini mah bukan suami gue.
"Princesssss..." teriak lelaki yang penampilannya amburadul dan bau alkohol itu sebelum menubrukkan tubuhnya dan memeluk gue.
"Apaan sih lo, Gra. Lepasin nggak! Bau alkohol tau nggak sih lo!" teriak gue sambil mencoba melepaskan pelukan sepupu gue yang lagi mabok itu.
"My honey bunny sweety...lo kok tega sih sama gue. Kurang apa coba gue" masih aja ini orang ngerancau nggak jelas. Gue dorong aja dia kesamping.
Gue mengernyit bingung ke arah suami gue yang berjalan di belakang Sigra, meminta penjelasan.
"Sigra abis ditolak cewek" ujar suami gue.
Hellow... seorang Sigra ditolak cewek? Pffff...
Krek!
Eh suara apaan tuh. Kayak suara sesuatu yang pecah. Oh no... Dasar kadal buntung. Itu testpack gue kenapa diinjek sih. Haduh, mana seperangkat balon dan aksesorisnya dirusakin Sigra. Hancur sudah rencana gue.
"Chels.. bilang sama gue. Apa sih kurangnya gue... Gue bisa kasih lo segalanya, tapi kenapa lo nggak mau terima gue.." Dasar sinting, balon aja diajak ngomong, mana pake acara dipeluk-peluk gitu.
"Mas nggak tau password apartemen dia. Jadi Mas bawa ke sini aja. Kamu siapin selimut sama bantal ya buat Sigra, Mas bawa dulu dia ke kamar tamu" perintah suami gue sebelum menyeret lelaki mabok itu ke salah satu kamar kosong di apartemen kita.
Hufh.. gagal deh surprise gue hari ini.
Segera gue amankan sisa-sisa testpack yang sudah hancur dan gue buang ke kotak sampah. Awas aja lo Gra, begitu bangun gue umpanin lo ke mimi peri.
"Chels... jangan tinggalin gue.." rintih Sigra sambil meluk-meluk perut gue.
"Gue bukan Chelsea. Lepasin!" gue lepas paksa tangan Sigra di perut gue. "Sukurin. Makanya tobat, jangan main cewek mulu. Kena karma kan lo. Dulu bilangnya nggak bakal ngebucin cewek, lah sekarang malah udah kayak orang gila gini." komentar gue panjang lebar.
"Klee?" setelah dapat semprot dari gue, Sigra memincingkan matanya ke wajah gue. Ya siapa lagi yang bakalan ngomelin dia kayak gini kalau bukan gue.
"Iya, ini gue. Dah buruan tidur sana"
"Hiks..hiks.. Klee..." Eh kok malah ngerengek sih, "Klee, apasih kurangnya gue? Kok Chelsea nggak mau sama gue?"
"Lo itu kurang... em.. kurang ajar"
"Huaa..huaa..." Eeee malah semakin menjadi-jadi nih lutung. "Bilangin sama Chelsea dong gue bakal berubah jadi apa yang dia mau. Tapi jangan nolak gue.. Gue nggak mau yang lain, Klee.. Gue maunya Chelsea."
Haduh. Siapapun tolong gue. Gimana cara ngediemin orang yang lagi patah hati?
"Gue nggak bakal main cewek lagi. Beneran deh. Tapi Chelsea juga jangan main sama cowok lain lagi selain gue. Gue nggak mau... gue nggak peduli gimana masa lalunya, gue bakal terima dia apa adanya. Lo juga bisa nerima Kai walaupun dia udah nabrak orang tua lo, gue juga bisa nerima Chelsea apapun yang terjadi.."
Satu detik di hidup gue berhenti. Otak gue membeku. Akal gue menanyakan kebenaran informasi yang disampaikan lewat indera pendengaran gue.
"Na..na..nabrak? Mak..sud lo?" tanya gue terbata-bata.
"Lo aja bisa terima Kai yang udah nabrak orang tua lo sampai meninggal. Gue juga bisa nerima apapun masa lalunya Chelsea.."
Deg.
Jantung gue rasanya berhenti berdetak. Memori kelam yang gue simpan rapat-rapat kini kembali terkuak, membanjiri ingatan gue. Ingatan akan kejadian tujuh tahun silam. Suara decit aspal dan benturan benda keras memekakkan telinga. Kepulan asap dan hawa panas nyala api menusuk kulit. Darah dimana-mana. Dan masih terlukis jelas di ingatan gue akan sorot mata Mama yang mendekap gue erat ke dalam pelukannya, sementara Papa sudah tergeletak tidak berdaya di tengah jalan. Sorot mata itu memandang lembut ke arah gue, seakan-akan mengucapkan 'selamat jalan sayang', sebelum akhirnya berubah menjadi tatapan kosong.
"Dek" suara Kai membuat gue menoleh ke arahnya. Dia terdiam, bibirnya ingin mengucapkan sesuatu tapi tak ada kata-kata yang keluar. Matanya memelas penuh sesal. Melihatnya membuat tubuh gue bergetar, telapak tangan gue terasa dingin. Mulut gue terkunci. Nafas gue tersengal-sengal. Kilasan memori itu semakin jelas. Berputar-putar di kepala gue. Membawa gue kembali masa-masa kelam tujuh tahun lalu. Pandangan gue kabur oleh air mata yang keluar tak terkendali. Dan akhirnya, semua berubah menjadi....
gelap.