
Resleting celana gue ditarik turun. Jari-jarinya mulai merayap ke daerah sensitif gue. Di saat-saat paling putus asa dalam hidup gue,tiba-tiba terdengar derit pintu terbuka dan muncullah sesosok lelaki penyelamat hidup gue. Teriakan lelaki itu menghentikan aktivitas si bangsat yang sedang menikmati tubuh gue. Dengan satu pukulan keras, dia menonjok tepat di hidung pak Nakamura dan meggulingkannya ke tanah. Lelaki itu bukanlah Kai, suami gue. Bukan juga Galvin, asisten gue. Atau Sigra, sepupu gue. Lelaki itu adalah Om Yudha. Iya, Om Yudha yang selama ini gue benci setengah mati, pada detik ini dia sedang menyelamatkan hidup gue.
"Klee, kamu nggak pa pa?" tanya dia sambil membuka ikatan di tangan dan kaki gue seraya menutup badan gue dengan jasnya. Ada nada khawatir terselip di sana.
"Awas Om...!!!" teriak gue begitu menyadari pak Nakamura sudah berdiri di belakang Om Yudha dengan sebuah vas di tangannya. Namun terlambat, sebelum bisa berbuat apa-apa vas bunga itu pecah menghantam kepala Om Yudha. Darah segar mengalir dari belakang kepalanya.
Disulut amarah, Om Yudha berbalik menyerang pak Nakamura. Baku hantam kembali terjadi. Pak Nakamura semakin tersudut dengan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Om gue. Jangan salah, Om gue ini pemegang sabuk hitam Taekwondo. Melihat tak ada serangan yang mampu dihalau pak Nakamura, dapat gue simpulkan kalau laki-laki berdarah Jepang ini banci. Bisanya cuma lawan cewek. Begitu berhadapan sama cowok lansung letoy. Cuih. Malu dong punya batang. Setelah lawannya terkapar tak berdaya, Om Yudha menghancurkan kamera mahal beserta memory card di dalamnya hingga berkeping-keping sebelum menarik gue pergi meninggalkan tempat laknat itu.
Hampir tiga jam gue duduk di ruang tunggu rumah sakit. Karena luka yang cukup dalam, kepala Om Yudha harus dijahit dan diperban. Sekarang dia sedang menjalani CT scan, mengantisipasi jika ada luka dalam yang tak kasat mata.
Gue tetap bergeming dengan pandangan kosong, masih shock dengan kejadian yang baru saja terjadi. Galvin pun hanya duduk terdiam di samping gue. Kepalanya menunduk nggak berani natep gue. Mungkin dia juga merasa bersalah dan khawatir namun tak mampu mengungkapkan.
"Dek"
Suara itu? Jantung gue deg-degan. Apa saking shocknya gue sampai-sampai gue mendengar suara yang sangat gue rindukan?
"Dek" kali ini suaranya terdengar lebih keras. Gue mengangkat kepala gue, mendapati lelaki yang jadi tambatan hidup gue berdiri tepat di depan gue. Bagai menemukan oase di padang pasir, gue langsung menghambur ke arahnya dan memelukknya erat.
"Dek, coba lihat Mas sini"
"Nggak mau" gue memalingkan muka. Mana sanggup gue natap Kai setelah apa yang terjadi. Tubuh gue udah disentuh pria lain, gue merasa nggak layak berhadapan sama dia.
"Dek..." pinta Kai sekali lagi dengan penuh kelembutan.
"Nggak. Mas pergi aja. Aku nggak pantes buat Mas"
"Stttt.... jangan ngomong gitu ah" tubuh gue ditarik ke dalam dekapan hangatnya. Kepala gue bersandar di dada bidangnya yang kokoh. Wangi khas tubuhnya menguar membuat kerinduan gue pada sosok sempurna ini semakin membuncah. "Apapun yang terjadi, kamu tetap istri Mas. Kamu tanggungjawab Mas. Mas akan selalu sayang sama kamu. Maafin Mas ya, Mas nggak bisa jaga kamu. Mas nggak becus lindungin kamu. Sampai-sampai kamu harus mengalami kejadian kayak gini. Maafin Mas..."
Air mata gue turun. Mana bisa, semua ini murni kesalahan gue, kebodohan gue, kecerobohan gue karena hanya mementingkan ego gue. Kenapa malah suami gue yang minta maaf. Gue jadi makin merasa bersalah.
"Enggak...." gue menggeleng-gelengkan kepala di dadanya, "Aku yang salah.. Mas nggak salah apa-apa. Aku yang ngeyel. Nggak nurut sama Mas, nggak dengerin nasehat Om Yudha.. Hiks.. hiks.."sesal gue sesenggukan.
"Udah.... Jangan nangis lagi ya sayangnya Mas." Kai menghapus air mata di kedua pipi gue. Namun kemudian, pandangannya terpaku pada lebam-lebam di disekitar leher gue. Gue bisa merasakan rahangnya mengetat dan tangannya mengepal kuat. Gue takut. Gue takut kalau Kai bakal marah-marah melihat ada tanda lelaki lain tercetak di tubuh gue. Namun setelah beberapa saat, pandangannya melembut. Ditutupinya bercak-bercak itu dengan rambut gue yang dia biarkan menjuntai rapi ke bahu gue. "Udah yuk, kita tengok keadaan Om kamu"
Gue mengangguk nurut.