In Between

In Between
Roman Picisan 3



"Hah? Pusing kenapa? Kamu nggak enak badan?" tanya Kai panik.


 


"Enggak"


 


"Trus kenapa?"


 


"Ini baunya mawar bikin pusing. Mas bersihin dulu sana" perintah gue dengan nada-nada manja menggemaskan.


 


Gue bisa lihat perubahan ekspresi di wajah Kai ketika dia menarik nafas panjang dan mengembuskannya keras. Namun tanpa berkilah, Kai segera beranjak dari tubuh gue, mencari tong sampah dan membersihkan kelopak-kelopak mawar itu sampai bersih tak bersisa. Padahal gue tahu, adeknya yang dibawah udah meronta-ronta pengen masuk sarangnya. Hehe..usil banget ya gue hari ini.


 


"Hufh.." Kai mendengus sambil merobohkan dirinya ke kasur begitu selesai mengamankan indera penciuman gue. Tubuhnya yang kekar terlentang menghadap ke atas. Duh, jadi pengen naikin.


 


"Ternyata susah ya mau romantis aja." celutuk suami gue tiba-tiba.


 


Gue terkekeh geli. Apalagi liat ekpresi bayi beruang gue. Utututu... sini Mas mik cucu aja.


 


"Jadi kamu yang kayak biasanya juga udah romantis kok" hibur gue.


 


"Masak sih?"


 


"Iya. Mas yang suka acak-acak rambut aku, suka bikinin aku sarapan, suka nyolong cium-cium aku waktu aku belum bangun pagi-"


 


"Loh kamu kok tahu"


 


"Ya iya dong, kan aslinya aku udah bangun. Cuma pura-pura merem aja"


 


"Dasar. Biar dicium ya..."


 


"Hehehe..." gue cuma terkekeh doang menanggapi sindira halusnya.


 


"Dek, suatu saat nanti kamu bakalan bosen nggak sama Mas?" tiba-tiba aja suami gue ngomong serius.


 


 


"Ya nggak gimana-gimana. Kamu ini cantik. Banyak yang suka. Mas kan jadi was-was"


 


"Tapi aku maunya cuma sama Mas, gimana dong" gue dusel-dusel dada suami gue sambil ngomong dengan nada dimanja-manjain.


 


Bisa gue lihat sudut bibirnya tertarik ke atas. "Dek..." panggilnya pelan.


 


"Hm?" gue mendongak ke atas.


 


"Jangan pernah tinggalin Mas ya"


 


Kok jadi mellow gini sih suami gue.


 


"Mas juga jangan pernah tinggalin aku ya" ucap gue balik.


 


Kai mengangguk pelan. Satu senyum terukir di wajahnya.


 


"Janji?" tegas gue sekali lagi.


 


"Janji" jawab Kai penuh keyakinan.


Setelah itu gue ***** bibir suami gue. Tangan gue bergerak turun, mengelus-elus sebentar dadanya, kemudian turun ke bawah, mengusap-usap absnya yang tercetak sempurna, semakin ke bawah menuju kejantannya dia yang sudah mengeras dan mengacung tinggi. Gue pompa kelelakiannya naik turun dengan tempo yang cepat. Suara erangan keluar dari mulut Kai. Membuat gue makin bersemangat. Dengan lidah yang saling melilit, tangan Kai meremas-remas bukit kembar gue, sementara tangan satunya bergerak lembut mengelus punggung telanjang gue.


Ingin mencoba sensasi baru, gue bangkit dari posisi semula dan berpindah ke atas Kai.  Suara desahan satu sama lain menimbulkan getaran di titik sensitif kita masing-masing, memicu gelombang kenikmatan merayap di sekujur tubuh kita. Aah... mata gue tertutup merasakan sensasi yang menginvansi tubuh gue. Menikmati setiap inchi demi inchi gesekan kulit panasnya di dinding kewanitan gue, hingga akhirnya tertanam sempurna di dalam diri gue. Iya, Itu benar. Kai sekarang berada di dalam gue, seutuhnya. Kita saling menyatu. Tak terhalang oleh satu apapun.


 


Netra cokelat kita saling mengunci. Menatap intens satu sama lain. Dengan gue di atas dan dia di dibawah. Bersama-sama menjemput puncak kenikmatan surga dunia.