
"Mikirin apa sih Pa, diem aja dari tadi" suara Krystal menyadarkan aku dari lamunan. Dia merebahkan tubuhnya disampingku dan menatapku lembut. Salah satu tangannya menyentuh pipiku, lalu turun ke rahangku, "Papa belum cukuran ya.. kumis sama jengotnya udah tumbuh ni" dia bermain-main dengan rambut-rambut halus di wajahku.
Aku mendekapnya ke dalam pelukanku dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipinya.
"Iiihhh Papa... geli tau" dia berusaha menghindar sambil tertawa kecil.
Aku menyandarkan kepalanya di atas dadaku dan mengelus rambunya, satu tanganku yang lainnya menggenggam tangan Krystal dan membawanya ke depan bibirku, menciuminya lembut.
"Gendutnya Mas... emes banget sih.." kini pipinya menjadi sasaran tanganku.
"Tuh kan... mentang-mentang ada yang lebih cantik trus aku dibilang gendut"
"Loh? Siapa emang yang berani jadi lebih cantik daripada Yang Mulia Ratu?"
"Ya siapa lagi kesayangan Mas sekarang?"
Gue tersenyum kecil, "Oh.. kalau itu jelas lah... nggak ada yang bisa nandingin cantiknya si Kakak, kan nurunin Mamanya"
"Kan Mamanya udah gendut, nggak cantik lagi."
Wanita dan insecurity-nya. Harus selalu diyakinkan bahwa mereka adalah makhluk paling sempurna.
Tuh kan bener, si istri senyum-senyum sendiri mendengar pengakuanku.
"Makasih ya.. makasih sudah hadir di hidup Mas. Makasih sudah bersedia mendapingi Mas yang serba kurang ini. Makasih sudah jadi istri Mas. Makasih sudah mengantarkan Carnell ke dunia ini. Rasanya berjuta makasih pun nggak akan sanggup membalas apa yang sudah kamu berikan di kehidupan Mas."
Dia menggeleng, "Aku masih banyak kekurangan Mas. Harusnya aku yang makasih, Mas udah menjadi suami yang sempurna untuk aku dan ayah yang luar biasa untuk Carnell."
Aku tersenyum, "Dek, tau nggak memiliki dua perempuan yang sangat luar biasa di hidup Mas adalah sebuah keajaiban. Mas merasa sangat beruntung"
Kupandangi lekat-lekat wajah cantiknya sebelum melanjutkan, "Perempuan itu makhluk yang sangat spesial. Ketika menjadi anak, mereka adalah penghalang neraka bagi orang tuanya, ketika menjadi istri mereka adalah pelengkap agama suaminya, dan ketika menjadi ibu surga ada di telapak kaki mereka."
Aku menyibak rambut yang menutupi wajah istriku ke belakang telinganya, "Kamu sudah menjadi surga untuk Carnell, Insyaallah menjadi penghalang neraka untuk orang tua kamu, dan sekarang kamu adalah pelengkap agama Mas. Kamu sempurna sayang, sangat sempurna."
Dia tersenyum. Senyum yang sangat cantik. Senyum yang tidak bisa menahanku untuk tidak menciumnya.
"Mas iih.. bisa aja bikin aku terharu" dia terkikik pelan ketika aku menghujaninya dengan ciuman, merasa geli dengan rambut-rambut halus di wajahku. "Kalau lagi kayak gini, pasti ada maunya, iya kan?"
"Ya iya dong". Aku berbisik lembut di dekat telinganya, "Bikin adek buat Carnell yuk"
Dan malam itu adalah malam dimana si dedek telah ditetapkan untuk lahir ke dunia.