
"Paaah" ucap gue menggoda. Tangan gue udah menelusup di balik kaosnya, mengusap-usap dada bidang lelaki berkulit eksotis ini. Lidah gue bergerilya di antara leher dan telinganya, sesekali mengigit kecil titik-titik sensitif di antara dua tempat itu.
"Hmm" Hanya itu jawaban suami gue. Pandangan matanya masih berkutat dengan dokumen-dokumen yang akan dia pake buat trial besok.
"Papaah" rayu gue sekali lagi. Kini jari gue bergerak turun ke bawah. Menyusup ke bawah celananya dan menangkup senjata andalannya.
"Aduh Ma" sentuhan kulit ke kulit antara telapak tangan gue dan kejantanannya mengirimkan gelombang kejut yang merebut seluruh atensinya. Gue gerakin tangan gue naik turun sementara ibu jari gue berputar-putar di ujung benda itu.
"Maah" rintihnya pelan ketika tangan gue meremas-remas bola kembar di antara selangkangannya.
"Papa ih, kerjaan aja yang diurusin. Mama kapan?" ucap gue mengerucutkan bibir. Tanpa memberi jeda untuk suami gue memberi tanggapan, segera gue tarik turun celananya. Gue beranjak dari sisi Kai dan duduk di atas pangkuannya, sengaja daerah kewanitaan gue tempelin tepat di kejantanannya. Gue hanya pakai lingerie, tanpa celana dalam. Otomatis kulit gue langsung bersentuhan dengan kulit lelaki di bawah gue ini.
"Jadi Mama mau dikelonin?" jawab laki gue setelah menaruh berkas-berkasnya di nakas samping tempat tidur.
"Bukan aku, tapi dedek yang pengen ditengokin Papanya" ucap gue membela diri.
"Oh dedek yang minta ditengokin Papa?" sekarang dia malah ngajak ngomong perut gue. Lama banget sih ini orang, udah basah juga guenya. Langsung aja gue tarik lehernya ke arah payudara gue, sementara tubuh gue bergerak maju mundur hingga kedua alat kelamin kita saling bergesekan.
"Ini yang nggak sabar Mamanya atau dedeknya sih?" ledek suami gue.
"Udah buruan" gue kesel juga akhirnya. Jangan salahin gue kalau gue jadi agresif gini. Salahin hormon kehamilan gue.
Kai menarik turun tali lingeri gue. Dikecupnya kecil kecil bahu telanjang, leher, dada atas, hingga sampai ke payudara gue.
"Tambah gedhe gini Ma" komentarnya saat meremas-remas gundukan kembar gue.
"Ya bentar lagi kan buat nyusuin dedek. Nanti kalau dedek udah lahir, Mas puasa dulu nyusunya"
"Lah kok gitu?"
"Ya mau gimana lagi"
"Nggak mau pokoknya harus tetep ada jatah nyusu" ucapnya sebelum menenggelamkan wajahnya di dada gue. Mulut ajaibnya menyedot-nyedot ** gue dan lidahnya bergerak melingkar di antara tonjolan itu. "Aaah" satu desahan terlepas dari mulut gue. Setelah puas bermain dengan payudara gue, dia mendongak menatap wajah gue. "Kamu mau main diatas apa di bawah?" tanya dia memastikan kenyamanan gue. Biar bagaimanapun usia kehamilan gue sudah tua. Keamanan si dedek tetep jadi prioritas utama.
"Terserah Mas. Yang penting aku enak"
Tanpa membuang waktu lebih banyak, Kai membimbing gue untuk berbaring di sampingnya. Tubuh gue dimiringkan dan dia mendekap gue dari belakang. Lidahnya bermain dengan telinga dan leher gue, sekali-kali mengucap kata-kata seduktif untuk memancing birahi gue. "Kamu sexy banget gini kalau lagi dienakin, bikin Mas makin terangsang tau nggak" bisiknya sambil mengembuskan nafas panas di titik sensitif di belakang telinga gue.
Tangannya yang besar dan berotot menangkup payudara gue dari belakang, diremas dan dipelintir ujungnya. "Aaaah" sedikit sakit tapi nikmat. Semakin tua usia kehamilan gue semakin sensitif syaraf-syaraf di sekitar payudara gue. "Gedhe banget dek. Gemes banget deh, kenyal-kenyal gini kalau diremesin. Mas suka". Suami gue semakin gencar memainkan payudara gue. Semakin dimainkan semakin keras gue mendesah.
Salah satu tangannya turun ke bawah, membelai bagian tubuh gue yang sudah sangat basah. Dikocoknya klitoris gue dengan telapak tangannya sementara ibu jarinya bergerak melingkar di tonjolan daging gue. Kenikmatan ini semakin nggak bisa gue tahan. Gue mencengkeram erat lengan Kai, "Mas... masukiiin.. emph"