
"Sir. I don't think you are able to refuse this offer (Pak, saya pikir Anda tidak akan bisa menolak tawaran ini)" gue mengangkat sebuah senyum sinis penuh percaya diri.
Alis pria paruh baya itu terangkat, "What do you say? (Apa Anda bilang?)"
"You need this Sir. You need this to be able to enter the parlemen next two years. You need more exposure and it will be the best choice. Remember, this project will deal with so many citizens whose backgrounds are diverse. They may give their voice for you. Do you still want to refuse this? (Anda membutuhkannya, Pak. Anda membutuhkan proyek ini untuk memasuki jajaran parlemen dua tahun mendatang. Anda butuh lebih banyak tampil di muka umum dan ini adalah pilihan terbaik. Proyek ini akan berurusan dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Mereka mungkin saja memberikan dukungan suaranya pada Anda. Apakah Anda masih menolak proyek ini?) "
Bisa gue perhatikan dahinya berkerut, nampaknya pria paruh baya ini sedang mempertimbangkan tawaran gue.
"Allright. I can go now if you are not interested. May be, I should offer this chance to your opponent. Thank you for your time, Sir (Baik. Saya akan pergi jika Anda tidak tertarik. Mungkin, sebaiknya saya tawarkan saja proyek ini pada rival Anda. Terimakasih atas waktu Anda, Pak)" Aslinya gue udah deg-degan parah. Akting aja gue sok-sokan nggak butuh dan mau pergi. Padahal sebenarnya gue berharap banget dia mengentikan gue dan menerima tawaran gue. Tapi kenapa dia belum manggil-manggil gue padahal gue udah di depan pintu keluar. Haduh, beneran gagal nih gue.
"Wait Ma'am (Tunggu Nona)".. akhirnya, suara yang gue tunggu-tunggu. Gue tersenyum sebentar, mengatur ekspresi muka gue, dan berbalik menghadapnya.
"Yes, Sir?"
"Tell me more about it. But I don't have time right now. If you really want to cooperate with me then meet me tonight in Taipa. My secretary will contact you later. (Jelaskan lebih lanjut pada Saya. Tetapi saya tidak punya waktu sekarang. Jika Anda sungguh-sungguh ingin bekerjasama dengan saya, temui saya malam ini di Taipa. Sekretaris saya akan menghubungi Anda nanti)"
Senyum gue mengembang. "Thank you Sir"
Begitu masuk mobil gue liat tampang Galvin yang udah nggak sabar menunggu kabar dari gue. "Gimana bu?"
Sebagai bos yang berwibawa, gue pasang aja tampak sok cool. "Menurut lo?" tanya gue dingin.
"Yah... gagal deh" Galvin menyimpulkan sendiri.
"Enak aja" gue pukul belakang kepalanya. Seenak udel bilang gue gagal. Gue nggak segitu payahnya kali.
"Aduh bu, jangan keras-keras. Ini kepala lho bu, bukan karung tinju"
"Bodo" jawab gue tak acuh.
"Berarti, kita berhasil ya bu?" tanyanya lagi memastikan.
"Belum pasti sih Vin. Tapi udah ada lampu ijo. Ntar malem gue meet up lagi sama dia."
"Kenapa nggak lo angkat?" tanya gue curinga.
Asisten gue ini nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal, "Eh ini bu.. eh.. anu"
"Anu..anu... ngomong yang jelas" bentak gue.
"Aduh gimana ya bu. Ini... pak Yudha, bu"
"Om Yudha? Kenapa nggak diangkat?"
"Emm... ini lho bu. Sebenarnya dari tadi pak Yudha nelponin saya. Tadi tanpa sengaja saya bilang kalau ibu sedang meet up sama Pak Nakamura untuk pengajuan proposal investasi. Tapi..." Galvin keliatan ragu menyampaikan sesuatu sama gue.
"Tapi apa Vin?"
"Tapi.. kayaknya pak Yudha nggak setuju deh bu kalau kita kerjasama dengan Pak Nakamura"
"Nggak setuju? Apa alasannya coba? Dia nggak mau liat gue sukses dalam proyek ini? Siniin HP lo, biar gue ngomong sama dia" tanpa persetujuan Galvin gue langsung rebut ponsel di tangannya.
"Halo Om. Ini Klee"
"Klee? Bagus deh kamu yang jawab. Sekarang juga batalin kerjasama dengan Pak Nakamura dan balik ke Jakarta" Seenaknya aja ini orang tua nyuruh-nyuruh gue. Percuma dong pengorbanan gue berhari-hari ngemis-gemis sama pak Nakamura.
"Nggak. Klee udah susah-susah ngajuin proposal ke Pak Nakamura dan sebetar lagi bakal goal."
"Klee? Kamu gila? Dia itu berbahaya? Banyak main curangnya. Pokoknya Om nggak mau tahu, sekarang juga balik Jakarta, atau Om terbang ke sana sekarang juga"
"Enggak. Klee bisa tanganin semuanya." dengan penuh percaya diri gue tutup telepon itu sepihak. Sudah sejauh ini gue melangkah, nggak mungkin gue mundur lagi. Oke, gue sadar ini beresiko tinggi, tapi begitu proyek ini kelar, gue yakin gue bisa handle semuanya.