
Sudah selesai makannya?
(read)
Satu pesan dari Kai tiba-tiba membuyarkan lamunan gue.
(Klee)
Udah.
(Kai)
Besok pengen dimasakin apalagi?
(Klee)
Belum tau.
(Kai)
Ya udah, besok bilang aja kamu mau makan apa.
Nanti Mas masakin.
(Klee)
Ya
(Kai)
Besok jadwal kamu kontrol ke dokter kan?
Mas udah pesen ke Sigra buat ngaterin kamu
Jadi jangan kayak kemarin kamu nekat berangkat sendiri.
(Klee)
Loh kok Mas tahu?
(Kai)
Mas kan selalu jagain kamu sayang.
Kamunya aja yang nggak tau 😉
Demi apa gue dikedipin.... Itu.. kenapa ada makhluk kuning bulet nggak tau diri kedip-kedip di situ. Nggak ada emoji lain apa. Bikin si jabang bayi salto di perut kan.
(Klee)
Ya
(Kai)
Vitamin juga jangan lupa diminum
(Klee)
Ya
(Kai)
Papa sayang Mama dan dedek 💖
Satu kalimat terakhir itu sukses bikin gue nggak bisa tidur semaleman. Dari tadi sore gue udah coba menyibukkan diri dengan berbagai hal, tapi satu kalimat itu tetap terngiang-ngiang di kepala gue. Papa, Mama, dedek, sebuah kombinasi tiga kata yang mampu menjungkirbalikkan dunia gue. Sudah jam setengah dua malam tapi tetep aja gue nggak bisa tidur. Akhirnya gue memutuskan untuk turun ke bawah mengambil minum.
Setelah berjalan membelah kegelapan menuruni tangga, sampailah gue di depan meja makan. Gue tuangkan air hangat secukupnya ke dalam cangkir yang kemudian gue sesap pelan-pelan. Harusnya gue segera balik ke kamar setelah mengobati kehausan gue, bukannya malah berlama-lama di balik meja makan tanpa lampu yang menyala. Waktu gue udah mau balik, gue denger suara berisik dari arah ruang tengah.
"Mmmphhhh... aah ahh"
Eh, apaan tuh? Ini kuping gue yang bermasalah atau emang itu ada suara desahan.
"Aahhh.... Graa. Jangann... akh"
Beneran... itu suaranya Chelsea. Bisa gue liat lewat cahaya remang-remang dari lampu di nakas ruang tengah dua siluet yang saling mendekap Hampir tidak ada jarak diantara mereka. Bibir mereka menyatu menyesap rasa satu sama lain. Siluet itu bergerak semakin mendekat ke arah gue. Mampus gue. Buru-buru gue masuk kolong meja buat sembunyi. Kenapa juga gue harus ada di situasi seperti ini. Emang itu kucing garong nggak tau tempat kalau mau main sama cewek.
"Si...graaa.. ahhh... janganhhh... di sinihh..."
"Stttt... kamu nikmatin aja"
Nikmatin? Apanya yang mau dinikmatin woiiii. Ada orang dibawah sini.
Brukk...
Sial, mereka berhenti tepat di atas meja. Bisa gue lihat bayang-bayang mereka yang terlukis di dinding karena biasan cahaya temaram dari ruang tengah. Tubuh Sigra ada tepat diatas tubuh Chelsea, dan lengan Chelsea merangkul leher lelaki itu membawa Sigra lebih dekat ke dalam pelukannya. Satu kemeja Sigra terjatuh ke lantai. Disusul dengan gaun malam Chelsea. Jangan bilang mereka mau ngelakuin itu sekarang. Disini. Dengan gue yang susah payah sembunyi di bawah meja. Oh no!
"Aaahhhh..." satu desahan lagi keluar dari Mulut Chelsea. Buru-buru gue pejemin mata gue, tapi percuma, indera pendengaran gue masih bisa dengan jelas menangkap suara panas dari aktivitas mereka.
"Di situhh... ahhh.. ya... faster babe.... ahhh... ahh"
Susah payah gue coba menutup telinga gue, tapi tetap saja bisa gue dengar suara kecapan mulut dan lidah yang saling beradu, desahan-desahan diantara nafas mereka yang memburu, kulit dan kulit saling beradu, membuat meja di atas gue tergoncang karenanya. Setelah hampir lima belas menit, akhirnya Sigra memindahkan Chelsea ke dalam gendongannya dan membawanya berjalan naik ke tangga. Gue menghembuskannafas lega. Begitu memastikan keadaan aman, gue buru-buru balik ke kamar.
Salahkan hormon kehamilan gue, kejadian tadi membuat badan gue merinding. Bagian bawah gue terasa panas dan berkedut. Perasaan ingin dituntaskan begitu menggebu-gebu. Belum pernah gue merasa begitu bergairah seperti sekarang ini. Dan cuma gara-gara kejadian tadi tubuh gue memanas. Kata orang, wanita yang hamil biasanya memiliki gairah yang tinggi. Dan gue paham sekarang apa yang dimaksud 'gairah yang tinggi' itu. Seperti saat ini, apapun yang coba gue lakukan untuk rileks percuma saja, gue butuh pelampiasan.