In Between

In Between
Pulang



Dasar ulet keket. Belatung celeng. Kutu kupret. Pediculus humanus capitis. Julus Virgatus spirostreptus. Cewek gatel. Kurang belaian. Nggak tau diri. Sok imut lagi. Prett...


Nggak henti-hentinya gue maki-maki tuh cewek dalam hati. Ya gimana nggak sebel, mumpung kerjaan gue udah bisa dihandle dari jauh, gue diem-diem pulang, niatnya mau ngasih surprise buat suami gue. Eh waktu gue buka pintu apartemen, nonggolah siluman ulet nggak tahu diri ini dari dalam apartemen. Gimana nggak keluar tanduk dari kepala gue coba.


"Kak Krystal ya?" tebak sileman ulet itu begitu pintu apartemen gue kebuka. "Kakak udah pulang?"


Gue yang kaget nemuin ada cewek di apartemen gue langsung naik pitam, "Lo siapa? Ngapain lo di apartemen gue?"


"Aku Chelsea kak" dengan senyum merekah cewek itu memperkenalkan diri.


Chelsea? Sebentar... kayak pernah denger namanya..


Eh, itu kan cewek yang nelpon Kai waktu Kai nyamperin gue ke Macau.


Kenapa tuh cewek bisa ada di sini? Ada hubungan apa dia sama suami gue?


"Kenapa lo bisa di sini? Mana suami gue?" gue sedikit menggertaknya.


"Kak Kai di kamar."


Gue cengo. Enteng banget mulutnya bilang suami gue ada di kamar. Mendengar kata "kamar" bikin pikiran gue jadi kemana-mana.


"Kak Kai lagi sakit Kak. Tadi maag-nya kambuh" jelas cewek itu lebih lanjut membuat pikiran gue sedikit terkondisikan.


Hah? Apa tadi? Kai sakit?


Buru-buru gue tabrak tuh cewek dan melesat masuk mencari keberadaan suami gue.


"Mas.." teriak gue mendapati Kai di kamarnya. Ekspresi terkejut tergambar jelas di mimik muka suami gue itu.


"Loh, dek. Kamu kok bisa ada di sini? Nggak bilang Mas kalau mau pulang?"


"Kerjaan aku lagi bisa ditiggal. Makanya aku pulang." Gue menempelkan tangan gue ke dahi Kai mengecek suhu badannya. "Mas sakit kok nggak bilang-bilang sih?"


"Cuma maag ini. Telat makan tadi. Nanti juga sembuh sendiri."


"Mas tuh kebiasaan ya, kalau udah sibuk kerja lupa makan. Gini kan jadinya" omel gue.


"Ya abis kamu jauh sih. Jadi kan nggak ada yang ingetin Mas makan"


Sial. Kenapa jadi salah gue. Ngerasa gagal kan gue jadi istri, dari kemarin cuma ngurusin kerjaan mulu, sampai-sampai suami gue sakit gini gue nggak tahu.


Di tengah rasa bersalah gue, tiba-tiba gue inget siluman ulet yang namanya Chelsea tadi.


"O iya Mas, Chelsea itu siapa?" tanya gue was-was.


"Kamu udah ketemu Chelsea ya?"


"Mas nggak selingkuh kan?" gue bener-bener khawatir ini, eee malah diketawain sama suami gue.


"Kamu itu mikirnya aneh-aneh aja deh. Chelsea itu putri bungsunya Professor Mas waktu ngambil S2 di Aussie. Dia lagi ada penelitian buat thesis dia di sini, dan dia nggak punya sanak saudara yang tinggal di sekitar Jakarta, jadi Professornya Mas nitipin dia ke Mas."


"Trus selama aku di Macau, dia tinggal di sini? Sama Mas?"


Kepala gue dijitak, "Ngawur kamu. Ya mana mungkin aku ngajak tinggal perempuan lain sedangkan istri aku lagi nggak di rumah."


"Kak Kai.." lagi-lagi suara cewek gatel itu. "Kakak udah selesai makannya? Atau mau aku suapin lagi?"


Eeee kutu kupret. Ngapain mau suapin suami orang. Segera aja gue ambil mangkok bubur di atas nakas yang hanya tinggal beberapa suap itu.


"Nggak ada. Gue istrinya. Gue yang nyuapin"


Sambil manyun-manyun tuh cewek menanggapi, "Ya udah. Eh, tapi gimana bubur buatan aku? Enak kan Kak?"


Apa? Dia yang buatin nih bubur? GIMANA KALAU ADA PELETNYA....!


"Suami gue udah kenyang. Nih bawa bubur lo pergi. Sekarang lo boleh pulang. Sana.


Hush..." usir gue.


Masih belum mau pergi, tuh cewek kembali berulah. "O iya, katanya tadi Kakak mau mandi. Udah aku isi air anget tuh bath up nya. Sini Chelsea bantuin mandi"


"E...e...e.... ngapain lo bantuin suami orang mandi." Bahaya nih kalau nggak segera gue tanganin.


"Loh, kan Kak Kai lagi sakit. Apa salahnya dibantuin?"


Bener-bener belum pernah disamber kobra nih cewek. Segera gue seret dia ke pintu keluar. "Udah sana... udah ada gue ini yang bantu mandiin. Lo nggak usah susah-susah ke sini lagi."


"Eeehh... Chelsea kok diseret-seret sih Kak... aduuhh..." perempuan itu meronta-ronta. Tapi gue nggak akan nyerah. Gue kerahin semua tenaga yang gue punya. Hama harus segera dibasmi sebelum berkembang biak dan membabi buta.


"Kai Kai jangan lupa minum obatnya ya..." teriak siluman ulet itu dari kejauhan.


"Nggak akan lupa. Nanti gue yang ingetin" gue tegasin ke dia sambil gue seret-seret keluar.


"Nanti kalau butuh apa-apa telpon Chelsea aja.." masih nggak mau nyerah juga nih cewek.


"Ada gue di sini. Ngapain nyari kamu" teriak gue di depan mukanya.


"Kak Kai, besok aku masakin bubur lagi ya..." cerewet banget sih nih cewek. Mana teriak-teriak lagi.


"Nggak usah. Dah sana kamu pulang." Setelah berhasil menyeret ulet keket itu keluar, gue kunci pintu apartemen gue. Satu hama berhasil di singkirkan.


Gue balik ke kamar. Ugh, kasian banget sih suami gue. Kenapa jadi lecek gini gue tinggal sebulan. Kumis nggak di cukur, jenggot mulai keliatan. Rambut acak-acakan. Dan mukanya keliatan pucet karena sakit.


Pikiran gue teralihkan ketika menyadari Kai sedangkan melepaskan satu demi satu kancing bajunya.


"Ngapain Mas buka baju?" tanya gue penuh selidik.


"Loh, tadi katanya mau mandiin Mas, gimana sih?"


O iya, lupa. Dasar pikiran gue.


"Ya udah ayok sini. Sekalian nih kumis Mas dicukur." ucap gue sambil nguyel-uyel pipinya yang tambah tirus.


"Cukuriiinn...." Kai ndusel-ndusel dada gue.


Ini kenapa suami gue jadi manja banget sih... Gemes kan jadinya.