In Between

In Between
Lubang Hitam



Setelah dihubungi sekretaris pak Nakamura, gue sama Galvin langsung menuju The Venetian Hotel di Taipa. Perjalanan dari hotel gue ke Taipa memakan waktu 30 menit melewati jembatan Pte. da Amizade. Sesampainya di lobi hotel, kita sudah disambut oleh Tuan Takada Ichi, salah satu sekretaris pak Nakamura.


 


"Good evening Ma'am" sapanyanya sambil membungkuk 90 derajat, tipikal manner orang Jepang.


 


"Good evening, Sir" balas gue dan Galvin tidak kalah membungkukkan badan.


 


"Mr. Nakamura is staying in room 3078. Please follow me Ma'am. (Tuan Nakamura ada di kamar nomor 3078. Silahkan ikuti saya)" perintah lelaki yang rambutnya sudah mulai beruban itu. Begitu gue sama Galvin bersiap membuntuti dia dari belakang, tiba-tiba lelaki itu berbalik dan berkata, "Mr. Nakamura only wishes to discuss this matter with you Ma'am. No third party (Tuan Nakamura hanya ingin berdiskusi dengan Anda, Nona. Tidak ada pihak ketiga)"


 


"But, this is my secretary. (Tapi ini sekretaris saya)" gue berkilah.


 


"Please (Tolong)" tegasnya sekali lagi.


 


"Allright (Baiklah)"


 


Sebagai salah satu hotel termewah di Taipa, arsitektur bangunan ini sangat mengesankan. Pilar-pilar tinggi khas Turki menopang dengan kokoh langit-langit hotel yang dihiasi cahaya keemasan. Tidak hanya lift, beberapa buah elevator juga memudahkan pengunjung untuk mencapai lantai atas tanpa harus menunggu. Yang paling indah adalah hotel&resort ini dikelilingi kolam dan terowongan air, mengusung tema kota apung di Venice. Sesekali, terlihat beberapa sampan membawa penumpang berkeliling menikmati indahnya langit dan nuansa biru di sekitar kota. Pantulan cahaya lampu di permukaan air serta dinding-dinding yang didominasi warna maroon dan dusty pink menambah kesan hangat dan romantis.


 


Terlarut dalam kekaguman, nggak nyadar gue udah ada di depan pintu kamar 3078. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka, tuan Takada Ichi mempersilahkan gue untuk masuk. Nggak perlu nanya, gue udah bisa nyimpulin kalau ruangan ini adalah salah satu ruang presidential suite terbaik di hotel ini. Ruangannya begitu lebar dan mewah. Dua buah lampu krystal yang dihiasi batu amethyst tergantung di langit-langit. Warna putih dan krem yang mendominasi ruangan dimandikan oleh cahaya temaram dari beberapa lampu kecil yang dipasang melingkar di setiap sudutnya. Diatas tempat tidur berukuran jumbo tergantung sebuah  lukisan pelukis tersohor dunia, Vincent Van Gogh, yang berjudul Starry Night. Sementara tirai-tirai sutra yang menghias jendela kaca dibiarkan terurai begitu saja, memberikan akses pada pak Nakamura yang sedang menikmati lampu-lampu kota dari balik jedela kamarya.


 


"Excuse me, Sir". Mendengar sapaan lirih gue, pak Nakamura berbalik. Ekpresinya datar, ditangannya ada segelas wine yang sudah hampir habis. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru saja mandi. Tubuhnya terbalut kemeja mahal dari Prada yang lengannya digulung ke atas.


 


"You are five minutes late, Ma'am (Anda terlambat lima menit , Nona)" ujarnya dengan ekspresi yang masih dingin.


 


Gue menunduk meratapi kebodohan gue, "I'm sorry, Sir. I should have been on time (Maaf pak seharusnya saya tepat waktu)"


 


 


"Thank you, Sir. But I don't drink (Terimakasih pak, tapi saya tidah minum)"


 


"Just a little won't hurt, right? (Cuma sedikit saja tidak apa-apa kan?)"  lelaki itu dengan terampil membuka tutup botol, menuangkan minuman semerah darah itu ke dalam gelas krystal, dan menyodorkannya ke hadapan gue. "For our cooperation, Ma'am. Please (Untuk kerjasama kita Nona)"


 


Tatapan mendominasinya memaksa gue untuk menerima uluran gelas itu. "Cheers!" ucapnya lembut diiringi dengan suara dentingan kaca yang saling beradu. Lelaki itu menyesap sedikit demi sedikit minuman mahalnya sementara gue hanya menempelkan bibir gue di ujung gelas, tanpa meneguknya sedikitpun.


 


"Can we discuss our project right now? (Bisakah kita berdiskusi sekarang?)" gue bertanya setelah tuan Nakamura menegak tetes terakhir wine dalam gelasnya.


 


Mendengar pertanyaan gue, lelaki paruh baya itu mengambil beberapa dokumen dari nakas dan menyerahkannya ke gua. Gue buka satu persatu lembarnya, membaca tulisan demi tulisan yang menyatakan perjanjian kerja kita dan kesanggupan pendanaan serta investasi sesuai syarat dan ketentuan berlaku. Yes, tinggal selangkah lagi masalah gue terselesaikan.


 


Tapi ternyata ekspektasi dan realita itu terkadang bertolak belakang.


 


"If you agree we will sign the document right now, Ma'am (Jika Anda setuju kita tandatangani dokumennya sekarang Nona)"


 


"Of course I will-(Tentu saja aku akan-)" belum selesai gue ngomong, lelaki itu menginterupsi.


 


"Wait... before we go further, there is a manner in a big investation, Ma'am. Haven't you heard it? (Tunggu, sebelumnya, dalam dunia investasi ada yang disebut manner Nona, pernahkan Anda mendengarnya?)"


 


Gue mengerutkan alis tak paham sementara pria itu sedikit memajukan tubuhnya.


 


"You said you will do anything as the requirement Ma'am. (Anda bilang Anda akan melakukan apa saja sebagai syaratnya)"