
Enggak. Mana bisa gue tenang. Apalagi setelah jelas-jelas gue liat di layar laptop dia yang kebuka, dia udah booking hotel di Milan. Gue ulangi sekali lagi. DIA UDAH BOOKING HOTEL DI MILAN.
Emosi gue sudah diubun-ubun. Baru mau gue damprat tuh cewek gatel, tiba-tiba keluarlah sosok lelaki berkulit tan dari sebuah pintu yang gue tebak adalah kamarnya.
"Chels, itu kerannya emang nggak bisa ditutup kenceng ya? Airnya ngalir terus. Loh, dek. Kamu kok di sini?" Kai terkejut mendapati gue ada di apartemen Chelsea.
"Seharusnya aku yang nanya. Mas ngapain malem-malem di sini?" biarin gue teriak-teriak, udah nggak bisa dibendung lagi emosi dalam dada gue.
Nyesek tau nggak. Mau nangis aja rasanya.
Kai menelan ludah. Dengan hati-hati dia berjalan mendekati gue. "Dek, jangan salah paham. Mas cuma lagi bantuin ngerjain researchnya Chelsea aja kok." jelasnya.
"Bantuin?" gue berdecak, "Kalau mau bantuin kenapa malem-malem gini? Kenapa Mas gak bilang sama aku dulu? Kenapa harus berduaan di apartemen dia? Dan kenapa Mas keluar dari kamar Chelsea?"
"Dek.. kamu jangan berpikiran aneh-aneh. Tadi Mas dari toilet. Karena toilet yang di luar rusak, jadi Mas pakai yang di dalam."
Gue tepis tangan Kai yang mau menyentuh gue.
"Sekarang Mas jujur sama aku. Mas udah sering ya masuk ke apartemen Chelsea?"
Kai terdiam. Gue lihat jakunnya bergerak turun menelan ludah.
"Jawab Mas!" teriak gue nggak sabar. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata gue.
"Dek. Maaf kalau Mas nggak pernah bilang ke kamu. Mas cuma nggak mau bikin kamu khawatir dan berpikiran macem-macem. Di sini juga Mas cuma bantuin researchnya Chelsea, nggak lebih"
"Bohong! Terus kenapa ini dasi Mas bisa ada disini? Ini kan dasi yang Mas pakai sebelum Mas pulang pagi-pagi itu kan? Yang bilangnya Mas lembur? Tapi kenapa bisa ada di sini? Terus ini juga apa? Mas mau pergi ke Milan berdua sama Chelsea?" marah gue sambil menyodorkan dua tiket penerbangan itu ke mukanya.
"Emm kak Krystal.." terdengar suara lirih Chelsea menginterupsi dari belakang. Tapi suaranya justru menyulut sumbu emosi dari dalam dada gue. Semua ini gara-gara cewek gatel itu. Pasti dia yang udah godain suami gue. Rumah tangga gue bakalan masih baik-baik saja seandainya dia nggak mucul di kehidupan gue sama Kai. Dasar, siluman kelabang.
Dengan emosi yang membuncah gue berbalik ke belakang. Ekspresi muka si ulet keket yang sok polos itu bener-bener bikin gue muak. Entah dorongan dari mana gue melaju ke arah perempuan itu dan menjambak rambutnya. Pokoknya perempuan gatel ini harus dikasih pelajaran. Forget about that classy thing. Yang penting emosi gue tersalurkan. Kalau perlu sampai rontok sekalian. Biar tau rasa!
"Aduh kak... aduh..."
"Dek, jangan.. Dek... lepasin." Gak gue gubris laki gue yang berusaha melepaskan siluman kelabang ini dari amukan gue. Kai terus berusaha melerai kita, sampai-sampai Chelsea terdorong ke belakang dan keningnya berdarah terbentur tembok.
"Chels, kamu nggak pa pa?" tanya Kai histeris ke Chelsea yang sedang memegang keningnya.
"Berdarah, kak" adu Chelsea. Cuih, cuma luka kecil gitu aja sok-sokan tersakiti.
"Cuma luka kecil gitu aja sok cari perhatian suami gue lo" gue toyor kepalanya.
"Krystal..!" Gue tersentak kaget. Baru kali ini Kai ngebentak gue kayak gini. Matanya menatap gue tajam. Rahangnya mengeras.
"Mas.. mas ngebentak aku? Jadi Mas lebih belain dia"
Kai mehela nafas panjang, kemudian menatap gue dan berkata, "Kita bahas ini lagi nanti. Sekarang kita bawa Chelsea ke rumah sakit. Dia punya hemofilia, kalau sudah berdarah sulit berhentinya"
"Nggak. Dia bisa ke rumah sakit sendiri"
"Klee... Ini soal nyawa. Kamu jangan main-main"
Gue tetep bersikeras. "Pokoknya kalau Mas nggak pulang sama aku sekarang, aku nggak mau maafin Mas"
Begitu gue selesai ngomong, Kai langsung berbalik dan mengenggam tangan Chelsea. Dituntunnya perempuan itu melewati gue. Mereka berhenti sebentar di hadapan gue, "Kamu tunggu bentar ya. Nanti Mas telepon" ucap Kai sebelum berlalu meninggalkan gue sendirian di sana.
Dada gue sesek. Lutut gue melemas. Air mata gue udah nggak sanggup lagi gue tahan. Akhirnya gue jatuh bersimpuh di lantai, menangis sejadi-jadinya. Bego. Gue bener-bener bego. Nggak semestinya gue percaya gitu aja sama Kai. Memberikan semua hati dan perasaan yang sebelumnya bener-bener gue jaga agar tidak tersakiti. Tapi itu semua percuma sekarang. Gue udah hancur berkeping-keping. Semua orang di sekitar gue itu sama aja. Munafik. Nggak ada yang bener-bener tulus sama gue. Nggak ada.
Bukannya cewek kalo kena homofilia nggak bia bertahan hidup ya?
Nanti akan dijelaskan lebih lanjut. So wait patiently.. thank you ^-^