In Between

In Between
Rekonsiliasi 1



Gue kira waktu Kai ngomong kalau perusahaan bokap gue mau ditutup, semua udah game over. Tapi Sigra bilang ditutup bukan berarti selesai nggak berbekas, dia punya cara lain untuk revive perusahaan bokap gue. Sejak Om Yudha ditetapkan jadi tersangka, Sigra mengambil alih pimpinan perusahaan. Dengan pernuh perhitungan dia mengamankan semua aset perusahaan dan membuat menejemen pengelolaan yang baru. Karyawan-karyawan di perusahaan itu pun tetap dipertahankan. Hanya saja, dia mengganti nama perusahaan dengan nama yang baru, memberikan kesan seolah-seolah bisnisnya baru saja terlahir ke dunia.


 


Untung dia punya banyak relasi di Amerika. Dia mengontak beberapa temannya kuliahnya untuk melebarkan sayap ke negeri ini. Selain itu, suami gue juga ikut andil membantu Sigra. Beberapa relasi Kai di Australia membuka kesempatan emas yang sangat mendukung perkembangan menejemen baru yang dikelola Sigra.


 


Semenjak Om Yudha terjerat kasus hukum, gue lihat Sigra semakin bersikap dewasa. Kalau sebelumnya waktu Sigra habis hanya untuk clubbing dan main perempuan, sekarang dia menjadi sosok lelaki matang yang sangat berdedikasi dan bertanggung jawab. Hampir dua puluh empat jam hidupnya hanya berkutat dengan masalah pekerjaan. Berpergian dari satu  kota ke kota lain dalam hanya hitungan jam.  Menenggelamkan kepalanya dalam tumpukan-tumpukan dokumen. Menelaah kondisi pasar dan kebutuhan konsumen. Belum pernah gue sekasihan ini sama Sigra. Apalagi, gue lah penyebab semua ini.


 


Suami gue juga sama sibuknya. Selain membantu Sigra menyelamatkan perusahaan, dia juga disibukkan dengan persidangan Om Yudha. Memang ya, kalau rivalnya orang besar itu susah. Keputusan hakim bisa dibeli gitu aja dengan uang. Berhari-hari suami gue nggak tidur untuk memenangkan perkara ini. Kantong matanya mengitam, wajahnya kusut, dan penampilannya acak-acakan. Sebenarnya gue pengen banget bantuin, tapi gue nggak bisa apa-apa. Bukannya bantuin nanti gue malah nambah masalah. Gue cuma bisa siap sedia di sisi Kai, nemenin dia begadang, suapin dia makan, bikinin dia kopi, atau bantuin dia mandi. Eh..


 


Hari ini hari terakhir persidangan Om Yudha. Hakim sudah membacakan keputusannya dan mengetukkan palu. Setelah semua usaha suami gue, setidaknya hukuman bagi Om Yudha dapat berkurang. Sangat tidak mungkin untuk menyatakan Om Yudha tidak bersalah dalam kasus ini karena pada kenyataannya memang ada keterlibatan dia. Dalam menjalankan bisnis, nggak mungkinlah main jujur seratus persen. Banyak bukti tak terbantahkan yang memberatkan Om Yudha dan semua sudah terpublikasi. Akan sangat sulit menutup semua itu dari muka publik.  Namun berkat keahlian suami gue, hukuman yang dijatuhkan ke Om Yudha dapat diminimalisir.


 


"Gra.." gue memanggil sepupu gue setelah keluar dari ruang persidangan.


 


Sigra yang dari tadi menundukkan kepalanya menoleh ke gue, "Kenapa Klee?". Suara Sigra terdengar sedikit parau, tatapan matanya sayu, membuat hati gue mencelos melihatnya.


 


"Maaf. Ini semua gara-gara gue"


 


Sigra tersenyum kecil.


 


 


"Tapi tetep aja gue biang masalahnya. Kalau aja waktu it-"


 


"Klee" Sigra memotong ucapan gue, "Seharusnya gue bilang makasih sama lo. Berkat suami lo hukuman bokap gue diringanin kek gini. Bokap gue juga salah. Sudah saatnya dia berhenti dan membayar kesalahannya. Apalagi kalo ingat perlakuannya ke elo. Emang dasar bokap gue gila harta." Seutas senyum yang dipaksakan terukir di wajahnya.


 


"Tetep aja Gra, segimanapun perlakuan bokap lo dulu ke gue, dia udah nyelametin gue di Macau waktu itu."


 


"Anggep aja itu sebagai penebus kesalahan bokap gue ke elo, Klee"


 


Gue ngangguk pelan.


 


"Klee, lo mau kan maafin semua kelakuan bokap gue ke elo?" tanya Sigra membuat gue mendongak ke arahnya.


 


Dengan senyum kecil gue menanggapi, "Ya udah lah, Gra. Semua udah kejadian. Kita lupain aja"