
Selesai dengan aktivitas kita di toilet, gue diikuti Kai kembali ke tempat acara. Ternyata pertunjukkannya sudah selesai. Diantara lautan orang, gue beberapa kali ketemu sama tokoh-tokoh fashion yang selama ini cuma bisa gue lihat dari majalah. Ada Tom Ford, yang berhasil membawa pulang piala Best International Designer Awards beberapa tahun lalu berkat karya-karyanya di Yves Saint Laurent dan Gucci. Kemudian gue juga sempet foto sama Molly Goddard, yang paling banyak ngasih gue inspirasi perihal gaya-gaya perempuan quirky dalam busana homemade-nya yang anti mainstream. Bahkan gue mendapat apresiasi dari CEO brand ternama dunia, seperti Miuccia Prada, Nick Hochland, Jean-Christophe Babin, Marco Bizzarri, dan Michael Burke. Uuuunch... serasa mimpi deh gue. Apalagi waktu beberapa di antara mereka terang-terangan menawarkan kerjasama sama gue. Hellow.... ini gue masih piyik, amatiran, nggak punya pengalaman apa-apa, bahkan sempet minder sama karya gue sendiri, tapi apresiasi yang gue dapet bener-bener di luar ekspektasi gue. Jadi melow sendiri guenya.
"Kak Krystaaaal..." terikan setengah oktaf yang langsung gue kenali itu membuat gue menoleh ke sumber suara.
"Chelsea? Lo di sini juga?"
"Ya iya dong. Kan Chelsea ikut nyiapain semuanya. Itu gaun yang kakak pake juga Chelsea yang bantu milihin"
Pantes. Bajunya sedikit terbuka di beberapa titik. Nggak mungkin banget pilihan Kai. Tapi bagus juga selera nih anak.
"Heh, siapa yang nyuruh kamu bikin istri kakak pake baju nggak dijahit gini. Awas kamu ya" ucap suami gue sambil menjitak kecil kening Chelsea.
"Biarin wleee" hardik Chelsea seraya mengelus-elus keningnya yang panas karena jitakan Kai.
"Makasih banyak ya Chels udah bikin karya kakak jadi sekeren ini" ucap gue ke Chelsea.
"Emang dasarnya karya kakak udah keren sih. Chelsea cuma bantu dikit doang" kilahnya.
"Tetep aja. Tanpa kamu nggak bakalan karya kakak bisa nembus fashion show sebergengsi ini. Kakak malah sempet salah paham juga sama kamu dulu"
"Udah luapain aja kak. Lagian Chelsea gemes kalau liat kakak lagi cemburu"
"Iiih siapa juga yang cemburu?"
"Yang waktu itu apa? Yang pake acara kabur-kaburan itu. Jadi ketahuan kan kakak sesayang itu sama kak Kai"
"Kamu tuh apa-apaan sih" gue mencubit kecil lengan Chelsea saking malunya di depan Kai.
"Aduhh.. kakak ah.. main cubit-cubit segala"
"Woi Tal..." terdengar suara lelaki yang sangat familiar dari kejauhan, "Keren juga ya ternyata sepupu gue. Nembus MFW gitu loh" ucap Sigra berjalan mendekat ke gue dengan kedua tangan bersemayan ganteng di kantong celananya. Sok-sokan cool banget ini anak.
"Loh Gra, lo dateng juga?" gue kaget dengan kedatangannya.
"Iiiih PD. Emang siapa yang ke sini buat lo. Orang gue ke sini buat cuci mata". Tetep ya sepupu gue satu ini jaim-nya ngalah-ngalahin anak presiden.
"Loh.. kamu..?" ucap Chelsea dan Sigra berbarengan membuat gue terheran-heran.
"Kalian saling kenal?" tanya gue.
Chelsea mendekatkan bibirnya ke telinga gue dan berbisik, "Kak, itu cowok yang Chelsea pesen buat main tadi malem sama Chelsea". Namun suaranya cukup keras untuk di dengar lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Enak aja, jangan asal ya lo." Sigra membela diri, "Mana ada sejarahnya gue jadi gigolo. Lo nya aja yang salah paham" jelas Sigra ke Chelsea.
"Beneran kak. Semalem aja Chelsea bayar dia dua kali lipat dari harga awal." Chelsea masih mencari pembelaan ke gue. "Emang kakak kenal sama dia?"
"Lo kalau ngomong jangan ngasal ya. Lo tuh yang semalem main tarik gue aja, terus paginya langsung ngilang, nggak pake acara di cek dulu lagi. Nih duit yang lo tinggalin semalem masih untuh, gue balikin, isi dompet gue yang cash lo ambil sekalian nih" Sigra membuka dompet kulit keluaran Coah terbarunya dan mulai mengeluarkan lembar demi lembar Euro sebelum menyerahkan semua isinya ke Chelsea.
"Iiih nggak mau. Ngapain dikasih ke Chelsea. Chelsea nggak butuh" dengan lantang dikembalikannya lagi isi dompet sepupu gue.
"Ya nggak bisa. Gue kan bukan gigolo"
"Bukan ya? Pantesan letoy gitu" sindir Chelsea.
"Hah? Apaan lo bilang?"
"Ya pantesan aja lemes gitu. Baru main bentar udah keluar. Lembeknya cepet. Nggak asik ah"
Saking terkejutnya, gue sama Kai ternganga menatap Sigra tanpa berkedip. Nggak nyangka banget cassanova macem Sigra yang hobinya maling perawan cuma segitu sepak terjangnya. Sigra yang paham tatapan macam apa yang gue dan Kai berikan ke dia segera membela diri.
"Enggak.. enggak... gue itu perkasa ya. Tahan lama. Emang kebetulan aja semalem gue lagi capek. Sini lo kalau nggak percaya kita tanding lagi, gue buktiin ntar. Sampe pagi juga gue jabanin" Sigra yang mukanya udah merah karena malu menarik Chelsea mendekat. Namun dengan sekali tepis, Chelsea menolak ajakan lelaki itu, "Males banget. Nggak puas main sama kamu. Udah ah, Chelsea pergi dulu ya kak. Dadah kakak"
Setelah pamit sama gue dan Kai, Chelsea melenggang pergi meinggalkan Sigra yang udah mati kutu. Gue sama Kai cuma bisa nahan ketawa.
"Pppfffff..."
"Lo berdua nggak usah ketawain gue dong"
"Bwwhhha hahaha haahahahah..." gue sama Kai malah ketawa lepas.
"Nggak nyangka, badan keker gini, tapi nggak tahan lama.. hahaha" gue ketawain aja habis-habisan. Kesempatan langka ini. "Mas, kasih tips tuh buat Sigra biar bisa greng di kasur. Mas kan jago banget kalau lagi main. Perkasanya nggak abis-abis."
"Diem lo" teriak Sigra menahan malu. "Mana tuh cewek. Gue mau bikin perhitungan sama dia." celoteh lelaki yang wajahnya sudah memerah menahan malu itu sebelum pergi meninggalkan gue dan Kai.
Puas ngetawain Sigra, gue terkesiap karena tangan Kai bergerak pelan memeluk pinggang gue dari belakang. Wajahnya tepat di samping wajah gue, dan hembusan nafasnya membelai daun telinga gue, "Dari pada tipsnya di kasih ke Sigra, mending kita praktekin langsung aja yuk"
Gue sih mana nolak.