
Gue udah larang Chelsea kasih kabar ke suami gue kalau gue ada di sini. Tiga hari berlalu dan semua baik-baik saja. Namun tidak hari ini, saat gue di apartemen Chelsea seorang diri. Biasanya ada kurir yang suka pencet bel pintu buat nganterin paket atau pesanan makanan, makanya gue nggak curiga dan main buka pintu gitu aja waktu bel berbunyi. Langkah gue terhenti, begitu melihat siapa yang ada di balik pintu. Nafas gue kembali memburu, jantung gue berdegub kencang, dan keringat dingin membanjiri dahi gue. Dengan tubuh yang bergetar gue berbalik dan menutup kembali pintu itu. Tapi tangan kekar suami gue menahannya, "Dek, mas mau bicara sebentar".
"Enggak" suara gue pecah. Dengan sekuat tenaga gue tarik gagang pintu dan menutupnya keras. Begitu tertutup badan gue melesak ke lantai. Sayup-sayup terdengar suara Kai dari balik pintu. "Maafin mas, dek. Maafin, mas. Kamu boleh hukum Mas apa aja tapi jangan gini. Biarin Mas ngomong sama kamu"
Bibir gue bergetar, air mata pun mengalir turun. "Mas pergi.. pergi..!" hardik gue sebisa mungkin.
"Mas tahu Mas salah. Mas minta maaf."
"Kenapa Mas harus hadir lagi di kehidupan aku? Kenapa Mas nikahin aku? Karena Mas ngerasa bersalah?" tanya gue tiba-tiba di sela tangisan.
"Mas tahu apapun yang Mas lakukan nggak akan mengubah apapun, sekeras apapun Mas mencoba nggak akan bisa menebus kesalahan Mas. Tapi Mas nikahin kamu karena Mas bener-bener cinta sama kamu dek, perasaan Mas tulus"
"Kalau gitu kenapa Mas nggak bilang sama aku sejak awal? Kenapa Mas sembunyiin semuanya?"
Tak ada suara dari balik pintu, hingga terdengar samar-samar sebuah isakan dan suara parau yang bergetar. "Maaf.. Maaf.. Mas takut kamu bakalan benci sama Mas, Mas takut kamu bakal niggalin Mas.. Tolong dek, biarin Mas ketemu kamu. Kita ngomong baik-baik, ya?"
Gue menggelengkan kepala, "Aku nggak bisa.. aku nggak bisa berhadapan langsung sama Mas. Mas pulang aja"
"Enggak. Mas pergi. Aku nggak mau ada Mas di sini. Nggak mau"
"Kamu benci banget ya sama Mas?" tiba-tiba pertanyaan itu menghantam gue.
Enggak. Seberapa sakitnya dia menorehkan luka di hati gue, tapi gue tetep nggak bisa ngebenci dia. Gue cuma belum siap ketemu dia. Gue nggak sanggup menatap wajahnya.
"Mas pergi. Kasih aku waktu. Aku belum sanggup ketemu Mas. Tolong ... jangan paksa aku kayak gini. Aku bener-bener nggak sanggup ketemu Mas.. Hiks.. hiks... aku nggak sanggup"
Hanya suara isak tangis gue yang mengisi jarak di antara kita. Hingga Kai kembali membuka mulutnya, "Baik kalau itu yang kamu Mau, Mas pergi sekarang. Tapi Mas bakal nunggu kamu, sampai kapanpun."
Gue terdiam. Tidak ada lagi suara di antara kita. Ketika gue yakin dia udah pergi, perlahan-lahan gue membuka pintu. Tak ada siapa-siapa lagi di sana. Kosong. Namun pandangan gue menangkap sebuah benda pipih tergelak di depan kaki gue. Gue menunduk untuk memungut benda itu. Loh? Ini testpack yang gue buang ke tempat sampah setelah keinjek Sigra waktu itu. Jangan-jangan, Kai pungut ini dan tau kalau gue hamil.
Di bawah testpack itu ada secarik kertas. Tanpa pikir panjang, langsung gue buka dan gue baca isinya.
"Bilang sama Mama ya nak, Papa sayang banget sama Mama kamu. Sampai kapanpun, Papa akan jaga kalian berdua. Sehat terus sayang... sampai nanti Papa bisa ketemu kamu lagi."