In Between

In Between
Prasangka



Begitu bangun gue mendapati tempat di sisi gue kosong. Pandangan gue beredar, mencari keberadaan suami gue. Di sana, dia duduk di kursi balkon, bertelanjang dada. Gue ambil kemeja Kai yang tergeletak dilantai dan memakainya sambil berjalan menghampiri pria itu. Kai tampak sedang sibuk membolak-balikkan sesuatu. Oh no... itu sketchbook gue.


Gue berlari kecil dan merebut sketchbook dari tangannya.


"Jangan dilihat Mas" gue menyembunyikan benda itu dibalik tubuh gue.


"Loh kenapa?" Kai mengerutkan dahinya.


"Malu. Ini jelek"


Gue denger Kai terkekeh kecil, "Jelek darimana. Orang bagus gitu"


"Enggak. Ini jelek" buru-buru gue sembunyiin sketchbook itu ditumpukkan kertas-kertas gue di bawah meja.


"Gambar kamu bagus tau" Kai meyakinkan gue sambil meyeret tubuh gue hingga menempel di tubuhnya.


Uuh... bener-bener pagi yang gue rindukan. Bermalas-malasan sama suami gue, gelendotan di otot bisepnya, dan nyiumin wangi maskulin yang menguar dari tubuhnya. Sempurna.


"Kamu nggak ada niat ngerealisasiin design-design kamu?" tanya suami gue sambil nyiumin pucuk kepala gue.


"Apanya yang mau direalisasikan. Itu kan cuma keisenganku aja. Nggak ada nilai jualnya"


"Siapa bilang.. bagus gitu. Kan sayang kalau hanya berakhir di sketchbook." Kai mengelus-elus rambut gue. Suka deh kalau gue disayang-sayang gini.


"Enggak PD Mas.. Kalah lah sama yang udah profesional."


"Kalau nggak dicoba kan nggak tahu hasilnya." Kai masih kekeh dengan idenya.


"O iya, dari kemarin-kemarin kok Mas nggak bisa dihubungin sih? Kata Sigra Mas pergi ke Milan. Kok nggak ngabarin aku dulu? Mas ngapain ke sana?" tanya gue tanpa putus, berusaha mengalihkan perhatian.


"Em.. itu.. Mas ada kerjaan di sana. Habis kamu sibuk mulu sih, sampai-sampai nggak bisa ditelepon. Sampai sana kan Mas udah ribet, nggak sempet pegang HP"


"Hush... kamu ini ngomong apa sih" potong Kai sebelum gue selesai ngomong.


"Ya abisnya Mas pergi nggak ada kabar gitu" gue manyun. Eh, Kai malah nyium bibir manyun gue. Mana pake diisep-isep lagi. Kan gue jadi enak.


"Iya..iya.. Mas minta maaf." ucapnya setelah melepas ciuman kita. "Eh, kamu laper nggak. Pesen makan yuk. Kamu pengen makan apa? Biar nanti Mas pesenin room service" tanyanya kemudian.


"Em.. apa ya.. terserah Mas ajalah. Itu kalau mau telepon room sevice, teleponnya ada di deket TV" jari gue menunjuk satu obyek berwarna putih di sebelah kanan TV.


"Bentar ya Mas telepon dulu" katanya sebelum berdiri mengacak rambut gue.


Gue masih asyik menantap punggung lebar dan telanjang Kai dari belakang ketika tiba-tiba ponsel Kai berdering. Gue cek ID peneleponnya. Chelsea? Siapa itu Chelsea? Kok gue belum pernah denger..


"Halo Kak Kai" begitu gue angkat teleponnya, terdenger suara cewek yang umurnya kira-kira nggak jauh beda dari gue. "Kakak udah sampai Jakarta? Chelsea masih ada kerjaan nih di Milan jadi belum bisa pastiin...."


"Ini siapa?" gue memotong pembicaraan gadis itu. Duh, perasan gue kok jadi nggak enak gini.


"Eh, bukannya ini nomornya Kak Kai?" tanya gadis itu dari seberang.


"Dek, siapa yang nelpon" suara Kai mengangetkan gue.


Gue diam sejenak sebelum bergumam, "Chelsea.."


Kai segera mengambil ponselnya dari tangan gue dan menjauh untuk menjawab panggilan itu.


Nggak bisa gue pungkiri kalau ada yang mengganjal di hati gue melihat kelakuan Kai barusan. Selesai dengan panggilannya, gue bertanya pada suami gue, "Siapa Chelsea?"


"Kolega aku." jawabnya tenang. "Eh itu kayaknya udah dateng room servicenya. Mas bukain bentar ya" Kai mengacak rambut gue sebelum berlalu membukakan pintu. Sementara gue masih berdiam di sana, berdebat dengan pikiran gue sendiri.