In Between

In Between
Balada Rumah Tangga 1



Gue terbangun karena terusik oleh suara pintu apartemen yang kebuka. Gue baru sadar kalau semalem gue nungguin Kai pulang sampai ketiduran di sofa.


"Mas baru pulang?" tanya gue ke sosok laki-lagi yang sedang menutup pintu itu.


"Loh kok kamu tidur di sini?" Kai balik bertanya begitu menyadari setengah badan gue masih berbalut selimut dengan bantal di atas sofa.


"Mas kemana aja sih kok baru pulang? Dari semalem aku telponin nggak nyambung terus?" gue menyibak selimut gue dan berjalan ke arahnya.


"Iya, maaf. Mas lembur sampai-sampai ketiduran. Ini HP Mas lowbat."


"Loh dasi Mas mana?"


Kai mengecek lehernya yang kosong. Gue masih ingat dengan jelas kemarin Kai menggerutu karena bagian ujung dasinya agak sobek padahal dia ada meeting. Jadi gue akalin dengan menjepitkan hiasan clip di ujungnya.


"Eh dimana ya?" Kai kebingungan.


"Ya udah sekarang Mas mandi aja sana. Aku siapin sarapan dulu."


Niat gue pulang dari Macau itu biar bisa kangen-kangenan sama suami gue. Mumpung kerjaan gue lagi bisa dihandle dari jauh. Tapi ini mah sama aja, frekuensi gue ketemu sama suami gue semakin menipis. Kerjaan Kai lagi banyak-banyaknya. Ditambah lagi si ulet keket itu yang nggak mau lepas dari suami gue. Kainya juga sama-sama ngeselin, nggak nyadar apa dia dimodusin siluman kelabang itu. Alasannya aja sih bantuin penelitian, tapi tiap hari nyulik Kai sampai-sampai gue nggak ada waktu berduaan sama suami gue. Kesel kan.


"Dek... Mas kan udah bilang. Ini untuk sementara waktu aja. Nanti kalau Chelsea udah selesai penelitian dia juga bakalan balik ke Aussie kok"


"Tapi Mas udah janji mau pergi sama aku hari ini!"


"Iya..iya, Mas minta maaf. Nanti kita ganti hari lain deh, ya?"


Gue cuma diem sambil cemberut.


"Sayang..." Kai menangkup pipi gue, "Tolong ngertiin Mas ya? Ayahnya Chelsea itu sudah berjasa banget buat Mas. Dia yang banyak bantuin Mas buat nyelesain studi Mas di Aussie. Dia juga banyak nolong Mas ketika Mas harus hidup di negeri orang. Kalau bukan karena beliau mungkin Mas nggak akan bisa jadi seperti sekarang ini. Jadi sayangku jangan ngambek lagi ya... Pokoknya sayang Mas itu seutuhnya buat kamu. Cantiknya Mas... sini cium dulu" bibir gue yang mengerucut jadi sasaran empuk bibir Kai buat dilumat-lumat. Saking enaknya gue sampai lupa diri. Gue serang balik lidah dia dengan lidah gue. Menguasai rongga mulutnya, saling bertukar saliva. Emmmphhh... jadi nggak nahan gini.


"Mas, quicky bentar yuk" gue goda Kai dengan satu kedipan maut.


"Tapi dek.. ini udah ditungguin Chelsea"


"Sepuluh menit aja, biarin Chelsea nunggu. Kalau nggak mau aku marah nih sama Mas" ancam gue.


"Iya..iya.. bisa nakal gini istrinya siapa sih" goda Kai sambil mengangkat dan mengungkung tubuh gue hingga punggung belakang gue tersandar di tembok. TKita masih sama-sama berpakaian. Hanya saja beberapa kancing teratas gue sudah terlepas memperlihatkan montoknya bukit kembar kesayangan suami gue ini. Rok gue sedikit tersingkap sementara celana dalam gue sudah tergeletak di lantai. Kai hanya menurunkan celananya sebatas lutut ketika dia memompa batangnya di dalam liang kewanitaan gue, menuntun gue mendapatkan satu pelepasan yang nikmat. Cairan kita saling beradu hingga tak mampu terbendung seluruhnya di rahim gue. Sisanya mengalir turun mengotori lantai ruang tamu yang baru beberapa saat lalu gue bersihkan. Bersih-bersih lagi deh habis ini. Eits, tunggu bentar. Apa gue biarin aja ya, biar nanti kalau Chelsea main ke sini dia lihat... hihihi.