In Between

In Between
Ada Apa dengan Kai 2



"Loh Mas bawa apa itu?" tanya gue begitu menutup pintu mobil. Di pangkuan Kai udah ada sebuah termos es kecil berisi beberapa bongkah es batu.


 


"Es batu" jawabnya singkat sambil menyalakan mesin mobil.


 


"Buat apa?"


 


"Dimakan. Lumayan panas-panas kayak gini"


 


"Kan tinggal nyalain AC kalau panas"


 


"Nggak asik. Asikan nyemilin es batu kek gini"


 


Serah deh. Hamba sudah lelah dengan keabsurban tingkah mu wahai suamiku.


 


"Loh mas, kok ke sini. Ini kan mall. Rumah sakitnya di sebelah" tanya gue keheranan karena Kai membelokkan mobilnya ke arah parkiran mall, bukan rumah sakit.


 


"Parkir sini aja"


 


"Lha ngapain parkir di sini. Emang parkiran rumah sakit udah penuh?"


 


"Mas pengen parkir di sini"


 


"Trus kita jalan gitu ke rumah sakitnya"


 


"Iya" ucap Kai dengan entengnya. "Kalau kamu nggak mau jalan ntar Mas gendong deh."


 


"Nggak usah. Kita jalan aja" jawab gue sebel sambil membuka pintu mobil.


 


"Dek..."


 


Gue yang udah jalan mendahului Kai pura-pura nggak denger.


 


"Dek.." sekali lagi Kai manggil gue. Bukannya berhenti tapi malah makin gue cepetin langkah gue.


 


"Dek" Kai setengah berlari hingga mampu menggapai tangan gue.


 


"Kamu marah ya sama Mas?"


 


"Enggak"


 


"Enggak kok manyun gitu."


 


"Bodo"


 


"Tuh kan beneran marah"


 


"Tau ah." jawab gue ketus sambil melepas genggaman Kai di tangan gue.


 


Ketika tidak lagi mendengar suara langkah kaki di belakang gue, gue menengok kebelakang. Betapa terkejutnya gue mendapati suami gue duduk-duduk di pagar pendek pembatas taman. Tangannya bersedekap dan wajahnya mengerucut masam. Gue pun berbalik dan menghampirinya.


 


"Kok malah berhenti?"


 


 


Ya elah, malah merajuk.


 


"Buruan berdiri. Malu diliatin banyak orang"


 


"Nggak mau"


 


Gue menghela nafas panjang. Sabar Klee..sabar...


 


"Ya udah aku nggak marah, tapi Mas cepetan berdiri"


 


"Beneran nih nggak marah?"


 


"Iya"


 


"Bener?"


 


"Iya sayangku..." rayu gue lembut yang dibalas dengan senyum lebar di wajah Kai.


 


"Ya udah. Kalau gitu cium dulu"


 


"Iiih malu. Ada banyak orang"


 


"Bodo. Pokoknya cium dulu"


 


"Nanti deh ya. Di mobil. Janji"


 


"Ciumnya dua kali tapi, yang di atas sama di bawah" tawar Kai sambil menunjuk daerah di antara selangkangannya.


 


Dasar mesum, pake nego lagi. Dari pada bikin tambah malu gue iyain aja.  Sumpah, ini suami gue sebenarnya kenapa sih? Absurb banget.


 


Sesampainya di ruang tunggu rumah sakit, Kai mendekatkan wajahnya ke telinga gue dan berbisik.


 


"Dek, kok pasien di dalem lama banget ya"


 


"Ya sabar dong Mas."


 


"Mas udah pengen buru-buru masuk nih"


 


Gue panik "Mas tambah mual ya? Atau ada yang sakit?"


 


"Bukan itu. Mas pengen buru-buru masuk. Mas udah nggak sabar ketemu dokternya"


 


"Lah kenapa?" tanya gue heran.


 


"Kan kepala dokternya botak. Mas pengen tampol deh rasanya. Asik kali ya nampol kepala botak" jawab Kai penuh semangat. Sementara gue cuma bengong kayak orang oon. "Aduh Mas udah nggak sabar nih. Apa masuk sekarang aja ya" lanjutnya.


 


Suami gue buru-buru berdiri, udah siap menerjang ruang periksa. Gue yang sigap segera menghentikan langkahnya dan menarik lelaki itu menjauh. Bakal beneran nyelonong masuk nih orang kalau nggak segera diamankan. Akhirnya dengan sekuat tenaga gue seret Kai keluar. Eh sampai di luar, dia malah nampol satpam yang kepalanya juga botak. Saking malunya, gue otomatis menjauh dan pura-pura nggak kenal. Sementara laki gue udah main kejar-kejaran sama tuh satpam yang nggak terima kepalanya ditampol. Boleh nggak gue pura-pura amnesia aja sekarang?