In Between

In Between
Roman Picisan 2



Keringat udah membasahi dahi Kai, tapi gue nggak berhenti-hentinya ngerjain dia. "Mas minumku abis nih"


 


Setelah gue ngomong gitu, Kai menyeret kursinya ke samping gue, membawa serta makanan dan gelasnya. "Nah gini lebih enak" ujarnya lega.


 


Akhirnya ketawa yang gue tahan-tahan dari tadi keluar juga, "Hahahaha... lagian Mas ini aneh-aneh aja sih. Kan lebih enak kalo deketan gini. Bisa aku suapin, bisa aku lap-in bibirnya, ngomongnya juga nggak perlu teriak-teriak" kata gue sambil menghapus keringat di dahinya.


 


"Iya ya dek. Ternyata romantis itu susah."


 


"Iiihh gemes banget sih kamu.. sini aku sun dulu."


 


"Yang banyak ya"


 


"Iih request"


 


***


 


 


Selesai dinner gue sama Kai balik ke hotel. Kondisi kamar hotel masih sama. Kelopak mawar dimana-mana. Bekas lilin yang gue matiin juga belum bergeming dari tempatnya.


 


"Eh kamu matiin beneran lilinya" sindir Kai.


 


Gue cuma memutar bola mata menanggapi kekehan Kai.


 


"Dek mau kemana?"


 


"Mandi"


 


"Ikuuut"


 


"Nyalain dulu lilinnya terus susun lagi yang rapi biar kayak tadi" jawab gue sebelum menutup pintu kamar mandi.


 


 


"Lah ditata beneran?" heran gue.


 


Mendengar suara gue, Kai menoleh, "Loh kok udah selesai sih mandinya?"


 


"Ya ngapain lama-lama."


 


"Mas kan mau ikut"


 


"Mas sih lama"


 


"Katanya suruh nyalain sama nata lilin-lilin dulu"


 


"Lagian cuma bercanda juga diseriusin"


 


Aduh salah ngomong nih gue. Jadi manyun gitu suami tercinta.


 


"Utututu.... bayi gedhe-ku ngambek ya... Ya udah sini aku madiin" rayu gue semanis-manisnya.


 


"Udah kamu di sini aja. Siap-siap buat bobokin bayi gedhe" ujarnya sebelum menutup pintu kamar mandi.


 


Beneran ngambek dia. Habis deh gue malem ini. Kira-kira bakal diapain ya gue. Hihihi...


 


Setelah menunggu beberapa saat, suami gue keluar dengan hanya berbalut handuk di pinggangya. Duh, jadi nyut-nyut an gini kan yang di bawah. Mana masih ada sisa-sisa air gitu di badannya. Seksi bangat.


 


Gue bisa mencium bau sabun yang begitu kentara ketika Kai meluk gue dari belakang. Kita sama-sama menghadap keluar jendela, menikmati suasana malam yang bergelimang cahaya temaram. Hidungnya menghirup wangi tubuh gue, bibirnya mulai bergerilya di perpotongan leher gue. Gue menyandarkan tubuh gue ke dada bidangnya, membiarkan dia menikmati setiap titik yang bisa dia jamah. "Kamu wangi banget sih dek" lontarnya.


 


"Kan buat Mas" jawaban gue bikin Kai makin bernafsu. Ditariknya tali piyama gue hingga potongan kain itu jatuh ke lantai. Gue berbalik ke belakang, merangkul leher Kai dan menariknya mendekat. Bibir kami saling beradu, mengecap rasa masing-masing dengan lidah yang saling bertalu. Kai merebahkan gue ke atas ranjang yang dipenuhi dengan helaian kelopak mawar. Seketika gue memutus pangutan bibir kita. "Mas, pusing.." adu gue.