In Between

In Between
Darkness and the Night



Gue frustasi.


 


Jam sudah menunjukkan setengah tiga pagi dan tidak ada tanda-tanda gue akan terlelap. Malahan gue merasa semakin gelisah. Bagian bawah gue masih terasa panas. Ya kali gue main sendiri. Nggak mungkinlah. Gue bukan cewek kayak gitu. Tapi ini bener-bener menyiksa banget. Aduh dek, pengen banget ya ditengokin Papa? Jangan gini dong sama Mama.


 


Gue ambil lagi ponsel yang baru aja gue sembunyikan di bawah bantal. Iya, dari tadi gue cuma memandangi satu nomor yang tersimpan di ponsel gue. Nomor suami gue.


 


Eh sial. Buru-buru gue bangun sambil tangan gue berusaha untuk memencet simbol telepon merah di layar. Haduh, tadi panggilannya sempet masuk nggak ya... Gue gigit kecil-kecil kuku jari gue. Malu banget gue kalau sampai telepon tadi masuk. Ntar kalau dia telepon balik gue gimana? Ya masak gue bilang sejujurnya kalau tadi kepencet gara-gara gue lagi pengen gitu-gitu. Au ah... Gue matiin aja ini ponsel.


 


Gue butuh udara segar. Siapa tahu setelah mendapat udara segar pikiran gue bisa lebih tenang. Apalagi samar-samar masih bisa gue denger suara dua sejoli yang sedang melakukan aksi tusuk menusuk di kamar seberang. Bisa gila lama-lama gue di sini. Awet banget sih mereka main, dari tadi nggak selesai-selesai. Emang cuma mereka yang ada di rumah ini?


 


Setelah mengenakan jaket dan syal akhirnya gue mengendap-endap turun dan keluar dari apartemen itu. Di bagian depan gedung apartemen ini ada sebuah taman yang cukup luas. Rumput-rumputnya dipotong rapi bak karpet hijau yang membentang luas. Bangku-bangku berwarna putih tersebar di beberapa titik. Diterangi cahaya lampu keemasan dari sudut jalan. Di salah satu bangku itu gue duduk. Gue menunduk ke bawah sambil mengayun-ayunkan kaki gue.


 


Gue tenggelam dalam kesunyian. Namun tak berapa lama, sebuah mobil berhenti di depan gue. Nggak perlu gue mendongak ke atas, gue udah tahu siapa pemiliknya. Apalagi setelah pintu mobil itu terbuka, menampakkan sepasang kaki dengan balutan celana training panjang dan flip flops hitam bermerek Nike yang dulu gue beliin.


 


"Dek"


 


 


"Kamu nggak papa? Kamu kenapa malem-malem telpon Mas? Mas khawatir. Waktu Mas telepon balik ponsel kamu mati."


 


Gue masih menunduk, nggak berani memandang wajahnya. Perasaan takut itu kembali muncul. Namun gue teringat kata-kata Chelsea. Langkah pertama : memberanikan diri untuk menyentuh duri sebelum bisa mencabutnya.


 


"Dek" Kai kembali bersuara. Dia juga hanya berdiam di sana, tidak berani menghampiri gue.  Inilah saatnya,  gue harus berani mengambil langkah pertama. Setelah menenangkan detak jantung, gue mengambil nafas dalam dan menghembuskannya kembali. Perlahan gue lepas syal yang mengalung di leher gue. Syal itu gue pakai untuk menutup kedua mata gue. Setelah memastikan tidak bisa melihat apa-apa, gue berdiri.


 


Terkesan konyol memang, tapi ini salah satu stategi gue untuk bisa mendobrak jeruji ketakutan gue. Gue belum siap melihat wajahnya namun gue ingin mencoba menerima kehadirannya di sisi gue. Perlahan gue melangkah mendekatinya. Degan ragu, Kai menggapai tangan gue yang terulur. Dia membawa gue mendekat, meletakkan tangan gue di kedua pipinya. Sekali lagi gue menarik nafas panjang, mencoba mengalahkan ketakutan gue. Gue penuhi pikiran gue dengan memori-memori indah yang pernah gue dan Kai lalui bersama. Tangan gue bergerak pelan, meneliti setiap lekuk di wajahnya. Bisa gue rasakan deru nafasnya yang memanas, berbanding terbalik dengan udara dini hari yang dingin menusuk kulit. Ada perasaan rindu yang membuncah dari dalam dada gue. Semakin banyak memori-memori indah yang gue putar di dalam kepala gue, semakin dalam perasaan rindu gue ke dia. Hingga akhirnya, tanpa gue sadari, gue menariknya lehernya mendekat, membungkam bibirnya dengan bibir gue.


 


Dan malam ini, kita saling mencicip rasa manis yang sudah lama tak bersua.